Sama seperti 'riak-riak jaman' yang sebelumnya, tentang pemimpin,
tidak semua individu yang berwibawa, berkarisma, cerdas, mampu menjadi
pemimpin yang baik
Sekalipun ketiga hal itu dibutuhkan oleh seorang pemimpin
Satu hal terpenting yang sering kita abaikan sewaktu memilih pemimpin
adalah faktor kecukupan diri
Faktor kecukupan diri adalah seberapa
dalam seseorang mengenal dirinya sendiri cukup dengan dirinya
sendiri, selesai dengan dirinya sendiri
Faktor inilah yang menjadi pondasi semua bentuk kepemimpinan yang ada
Faktor inilah yang menjadi pondasi semua bentuk kepemimpinan yang ada
Baik itu guru, gubernur, orator,
aktivis, seniman, artis, kepala suku, bahkan kepala keluarga
Manakala seseorang sudah selesai dengan dirinya sendiri barulah ia mampu mempengaruhi orang lain, dalam hal ini memimpin orang lain
Manakala seseorang sudah selesai dengan dirinya sendiri barulah ia mampu mempengaruhi orang lain, dalam hal ini memimpin orang lain
Wibawa, karisma dan kecerdasan sering tidak berhubungan dengan
kecukupan diri
Saat kita memutuskan hanya mempertimbangkan ketiga faktor tersebut disanalah
kita memberi peluang terjadinya kegagalan pada pemimpin kita
Banyak pemimpin yang berhasil tanpa memiliki
ketiga faktor tersebut
Sementara itu, yang kita butuhkan saat ini adalah pemimpin-pemimpin berkualitas dengan kinerja yang sudah membentang mengikuti reputasinya, sinkron dengan visinya
Ketidakmampuan kita menentukan dan memilih pemimpin yang ideal tergantung pada seberapa melekatnya kita pada ilusi, pada logika-logika sesat seperti faktor suku, agama, ras antar golongan (SARA), mistika, dan materialisme
Betapa harus kita bijak memilih pemimpin, sebab pemimpin yang tepat adalah wajah kelompok kita, dalam skala besar: negara kita
Sementara itu, yang kita butuhkan saat ini adalah pemimpin-pemimpin berkualitas dengan kinerja yang sudah membentang mengikuti reputasinya, sinkron dengan visinya
Ketidakmampuan kita menentukan dan memilih pemimpin yang ideal tergantung pada seberapa melekatnya kita pada ilusi, pada logika-logika sesat seperti faktor suku, agama, ras antar golongan (SARA), mistika, dan materialisme
Betapa harus kita bijak memilih pemimpin, sebab pemimpin yang tepat adalah wajah kelompok kita, dalam skala besar: negara kita
Sementara itu, independensi kita dalam
memilih pemimpin secara objektif: yang semata-mata bertumpu pada
reputasi dan visinya, bisa menjadi suatu parameter kematangan bangsa kita:
sebagai warga negara yang intelek dan melek rasio
[Image:
https:https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEjLgFiTpOBOaOszeC2KmM-CV5TaHmqiHe5AitFEKtBVT_dYnSWvkYIChr0qDGUQlc9KMkQgMbnxVG6bFCWdcUfOny98dIHSYWeiw4FkOiQt1UyNmtPJP9Jj2H0BF9Uy0aKeczF0PGuDLaOviwTR_KWfeEqGOHCxt03D-oAowG-e-qOJFsF85G1ydPo=
https://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2016/03/04/ahok-56d93222e222bd480c4cad3e.jpg?t=o&v=760]
