Sepanjang jalan, aku selalu bertanya, apa gerangan yang Tuhan hendak tunjukkan padaku lewat semua yang telah kualami ini?
Aku, pernah mengeluh, "Tuhan, kenapa jalanku tidak semulus yang lain?"
Ketika adek stampbook dan sejawatku telah berlabuh di dermaga cita-cita kami.
Namun belakangan ini, dengan semua kebetulan-kebetulan acak serta kebaikan-kebaikan tak terduga, aku mulai paham sebuah pola, "pembentukan".
Seolah Ia berkata, "jalanmu bukan jalanKu."
Terpujilah Tuhan...
Kini aku mulai paham kenapa di kampus dulu kami digembleng dengan penyusunan program, pemaparan program, evaluasi bertahap dan bahkan penyusunan rencana induk atau kurikulum pelayanan mahasiswa.
Tidur jam 3 subuh merupakan hal biasa bagi kami saat itu, berkutat dengan data dan mencocokkan data sana sini sementara orang-orang yang dilayani sedang istirahat tenang.
Mengejar waktu untuk mempertanggungjawabkan kewajiban terhadap orang tua, kampus dan organisasi.
Perlahan-lahan paham kenapa dulu Tuhan menyesah kami harus mampu kerja sama, harus mampu mendengar apa yang tidak terucap, harus mampu mengutarakan gagasan, harus tetap berintegritas, menjadi beban moral terberat ketika jatuh dalam "dosa-dosa favorit" dan dihujat lingkungan, belajar melayani tanpa sungut-sungut, belajar semua hal yang hari ini dianggap sebuah kemunafikan; kejujuran dan menjaga kekudusan diri, godaan terberat anak muda, gairah seksualitas.
Kini aku mengingat bahwa aku pernah meminta Tuhan untuk memberiku tanggung jawab yang membuatku benar-benar memberikan potensi terbaik diriku.
Meskipun dengan semua didikan dan bentukan itu, tidak serta merta membuat kami menjadi manusia serba mujur yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan oleh hati.
Memang, aku belum berlabuh di dermaga penantian panjangku.
Hingga hari ini masih berdoa, tahun ini mimpi dan cita-citaku terwujud, jika Ia berkenan.
Meski aku sudah menyiapkan diri dengan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
Aku juga menyiapkan diri atas semua kombinasi kebaikan yang menghampiriku lewat orang-orang antusias dan cerdas.
Aku berusaha menjaga pikiranku tetap terbuka terhadap semua peluang dan berusaha mendengar apa kata Tuhan di tengah semua kebisingan pikiranku sendiri yang ke sana ke mari.
Aku berharap dipertemukan dengan orang-orang yang gelisah dengan kondisi Desa Tipang saat ini, orang-orang yang berpikir hingga 10 atau 20 tahun ke depan.
Aku merindukan Tipang yang mandiri, berkepribadian dan sinergi dengan tetangganya.
Aku berharap dipersatukan bersama orang-orang yang "bergerak" dalam sebuah program sinergi yang membenahi Tipang ini, membersihkan kotorannya yang telah lama melekat, mengembalikan tatanan-tatanan baik yang telah mengalami disorientasi, serta mengobati luka-luka yang telah lama menganga.
Tuhan selalu punya rencana lain atas semua yang terjadi, entah itu polanya mampu kita pahami atau tidak.
Aku Gomgom Lumbantoruan, seorang biasa yang memiliki prinsip, "segalanya bisa dipelajari" dan "berbuat baik karena ingin berbuat baik".
Jika kamu adalah orang-orang yang sama denganku, yang sedang bergerak di kampungmu sendiri, semangatlah.
Doronglah adek-adek kita itu masuk perguruan tinggi supaya wawasan mereka luas dan pikiran mereka terbuka.
Mungkin hari ini desa kita belum mengerti, kenapa kita malah memilih di desa, di saat kita bisa di kota.
Namun tetaplah konsisten, hingga suatu saat kelak, mereka akhirnya paham dengan apa yang kita lakukan.
Berproses itu enak sebenarnya, jika kita ingat kita pernah meminta dibentuk oleh Tuhan.
Tuhan mengasihi dan telah lebih dulu mengasihi kita semua, kita sadari atau tidak.
Tenangkanlah jiwamu.
