#270. Untukmu yang Membaca karena Kamu Tahu Kamu Layak Membacanya

Sepanjang jalan, aku selalu bertanya, apa gerangan yang Tuhan hendak tunjukkan padaku lewat semua yang telah kualami ini?

Aku, pernah mengeluh, "Tuhan, kenapa jalanku tidak semulus yang lain?"
Ketika adek stampbook dan sejawatku telah berlabuh di dermaga cita-cita kami.

Namun belakangan ini, dengan semua kebetulan-kebetulan acak serta kebaikan-kebaikan tak terduga, aku mulai paham sebuah pola, "pembentukan".

Seolah Ia berkata, "jalanmu bukan jalanKu."

Terpujilah Tuhan...
Kini aku mulai paham kenapa di kampus dulu kami digembleng dengan penyusunan program, pemaparan program, evaluasi bertahap dan bahkan penyusunan rencana induk atau kurikulum pelayanan mahasiswa.

Tidur jam 3 subuh merupakan hal biasa bagi kami saat itu, berkutat dengan data dan mencocokkan data sana sini sementara orang-orang yang dilayani sedang istirahat tenang.

Mengejar waktu untuk mempertanggungjawabkan kewajiban terhadap orang tua, kampus dan organisasi.

Perlahan-lahan paham kenapa dulu Tuhan menyesah kami harus mampu kerja sama, harus mampu mendengar apa yang tidak terucap, harus mampu mengutarakan gagasan, harus tetap berintegritas, menjadi beban moral terberat ketika jatuh dalam "dosa-dosa favorit" dan dihujat lingkungan, belajar melayani tanpa sungut-sungut, belajar semua hal yang hari ini dianggap sebuah kemunafikan; kejujuran dan menjaga kekudusan diri, godaan terberat anak muda, gairah seksualitas.

Kini aku mengingat bahwa aku pernah meminta Tuhan untuk memberiku tanggung jawab yang membuatku benar-benar memberikan potensi terbaik diriku. 

Meskipun dengan semua didikan dan bentukan itu,  tidak serta merta membuat kami menjadi manusia serba mujur yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan oleh hati. 

Memang, aku belum berlabuh di dermaga penantian panjangku.

Hingga hari ini masih berdoa, tahun ini mimpi dan cita-citaku terwujud, jika Ia berkenan.

Meski aku sudah menyiapkan diri dengan semua kemungkinan yang bisa terjadi. 

Aku juga menyiapkan diri atas semua kombinasi kebaikan yang menghampiriku lewat orang-orang antusias dan cerdas. 

Aku berusaha menjaga pikiranku tetap terbuka terhadap semua peluang dan berusaha mendengar apa kata Tuhan di tengah semua kebisingan pikiranku sendiri yang ke sana ke mari.

Aku berharap dipertemukan dengan orang-orang yang gelisah dengan kondisi Desa Tipang saat ini, orang-orang yang berpikir hingga 10 atau 20 tahun ke depan. 

Aku merindukan Tipang yang mandiri, berkepribadian dan sinergi dengan tetangganya.

Aku berharap dipersatukan bersama orang-orang yang "bergerak" dalam sebuah program sinergi yang membenahi Tipang ini, membersihkan kotorannya yang telah lama melekat, mengembalikan tatanan-tatanan baik yang telah mengalami disorientasi, serta mengobati luka-luka yang telah lama menganga. 

Tuhan selalu punya rencana lain atas semua yang terjadi, entah itu polanya mampu kita pahami atau tidak. 

Aku Gomgom Lumbantoruan, seorang biasa yang memiliki prinsip, "segalanya bisa dipelajari" dan "berbuat baik karena ingin berbuat baik".

Jika kamu adalah orang-orang yang sama denganku, yang sedang bergerak di kampungmu sendiri, semangatlah. 

Doronglah adek-adek kita itu masuk perguruan tinggi supaya wawasan mereka luas dan pikiran mereka terbuka. 

Mungkin hari ini desa kita belum mengerti, kenapa kita malah memilih di desa, di saat kita bisa di kota.

Namun tetaplah konsisten, hingga suatu saat kelak, mereka akhirnya paham dengan apa yang kita lakukan. 

Berproses itu enak sebenarnya, jika kita ingat kita pernah meminta dibentuk oleh Tuhan. 

Tuhan mengasihi dan telah lebih dulu mengasihi kita semua, kita sadari atau tidak. 

Tenangkanlah jiwamu.

#269. Toba Creative Hub & Alogo Festipang 2020

Dua tahun lalu aku memutuskan tinggal di Huta (kampung), setelah memperoleh sertifikat Guru Profesional dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. 
.
Tujuanku saat itu tinggal di huta hanya satu, berkontribusi sekecil apapun demi kemajuan Huta.
.
Ya, aku pernah seidealis itu.
.
.
.
Dua tahun mencoba merangkul semua lini, muda hingga orang tua, untuk menerjemahkan konsep pembangunan di level Desa. 
.
Banyak perjuangan telah dilalui, mulai dari pengorbanan waktu, pikiran, bahkan materi. 
.
Dengan segala tantangan dan gesekan hingga berulangkali penyesuaian anggota tim.
.
Tidak selalu mendapat dukungan dari lingkungan bahkan ada resistensi dari beberapa pihak. 
.
Komitmen benar-benar diuji untuk bisa seperti sekarang, terbiasa dan mulai paham dinamika Desa.
.
.
.
Tahun 2020, sang waktu mempertemukan beberapa individu dengan mimpi yang beririsan, yang gelisah dengan status quo. 
.
Mereka berasal dari tiga desa yang berbeda, Tipang, Sinambela dan Pollung. 
.
Malam itu, Adi @gabbybakery & @jerylumbangaol sedang diskusi ringan seperti biasa mengenai potensi, pengembangan ekonomi kreatif serta tantangannya. 
.
Kemudian Gome @tobagasm, bergabung dengan semangat berapi-api, "kita bikin festival yok". 
.
Serentak, Adi dan Jerry menyahut, "nah, itu dia"... Ketiganya pun sepakat membuat sebuah festival. 
.
Lalu pertanyaan berikutnya muncul, "kita bikin festival apa dengan pertimbangan waktu, biaya, serta ketersediaan SDM yang terbatas?". 
.
Potensi di Tipang ada air, angin, sawah dan aktivitas masyarakat. 
.
Bagaimana kalau Alogo, (angin)? Tawar Jerry. Ok sepakat. 
.
Malam itu, di meja ngopi bung Adi Wibowo, lahirlah Alogo Festival Tipang, yang disederhanakan menjadi Alogo Festipang, konsep awanya berupa kegiatan bermain layang-layang dan kincir angin.
.
.
.
Tanggal sudah ditentukan, antara 19-20 Desember, berhubung ada tamu yang datang di tanggal itu. 
.
Rencananya, para tamu akan diarahkan ke festival tersebut. 
.
Seperti biasa, berbagai persiapan pun mulai digagas. 
.
Sepanjang persiapan, beberapa tim kerja baru mulai bergabung; Anto, Elberis, Hermanto, @simamora110103, Rikson, disusul oleh Desi, Pintaria, Eva dan @sarmina_prb.
.
.
.
Seiring perjalanan waktu, dirasa perlu ada nama yang akan mencerminkan visi kita bersama; merangkul sesama local champion, beberapa "orang gila" yang ada di lingkar Toba, khususnya yang belum tereksplore, dengan produk masing-masing hingga akhirnya mandiri. 
.
Terinspirasi dari @medancreativehub_ Gome menawarkan Toba Creative Hub dengan penjelasan sedemikian rupa, tim pun setuju menggunakan nama tersebut.
.
.
.
Lahirlah Toba Creative Hub dalam perjalanan mempersiapkan Alogo Festipang.
.
Singkat cerita, tibalah hari yang ditentukan, 20 Desember 2020. 
.
Dengan persiapan apa adanya, acara berlangsung dengan baik. 
.
Terdapat enam orang pemenang lomba layangan, anak-anak Desa Tipang, masing-masing mendapatkan hadiah uang tunai dan bingkisan menarik dari sponsor. 
.
Yang terpenting, konsep kegiatannya berupa sosialisasi cara berwisata yang mematuhi protokol kesehatan (CHSE). 
.
Panitia mewajibkan peserta dan pengunjung memakai masker yang dibagikan gratis, air dan sabun cuci tangan serta selalu menghimbau untuk jaga jarak. 
.
Terpujilah Tuhan. Thankyou.
.
Tentu, kegiatan ini terwujud atas kerjasama berbagai pihak, kami sangat berterimakasih kepada sponsor yang telah mendukung sosialisasi penerapan CHSE di tempat wisata Gonting, RK Sinarmas HH, Charly Dex, Atick Bakery, Sitalbak Coffee, Anugerah FM, Del FM, Tobakara Coffee, RM. Solotan, Ulido Crafting, HPI HH, Sanggar Rura Bakara Nauli, Sanggar Semubakers, Sanggar Dalloid, dan beberapa sponsor yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
.
.
.
Kiranya ke depan, kita tetap saling support demi kemajuan Toba.
.
.
.
@tobagasm
@jerylumbangaol
@mantobing
@gabbybakery
.
Sistem support:
@swarningsihs91
@sanggar_seni_dalloid_tipang
@rumah.kreatif.humbang
@charly_dex
@henibanjarnahor
@delfmradio
@ishakapriantoaritonang
.
#wonderfulindonesia
#tobacreativehub
#tch
#toba
#tobagasm
#visithumbahas
#lingkartoba
#lembahtipang
#lembahbakara
#localchampion
#eventakhirtahun

#268. 2020

To the point aja ya

  1. Tuhan. Semakin menanjak usia, semakin banyak menyelami kehidupan, dengan semua yang manis dan pahit, asli dan palsu, semua mengantarkanmu ke persimpangan-persimpangan yang monumental. Adakah Tuhan? Kenapa IA tidak pernah menunjukkan diri di tengah kegundahan dunia saat ini?
  2. Manusia. Sebagai makhluk paling cerdas, tak jarang kecerdasannya menjadikannya makhluk paling destruktif dalam rantai makanan. Setiap manusia dewasa memelihara monster dalam diri mereka yang bisa bangkit sewaktu-waktu. Monster-monster dalam diri manusia inilah yang memicu murka Tuhan. Pun demikian, tetap Tuhan yang disalahkan.
  3. Dunia. Dunia ini tempatmu melarikan diri dan dikutuk dengan paradoks kebebasan. Kau bisa sembunyi dari dunia ini, tapi hanya masalah waktu sebelum dunia menemukanmu.
  4. Negara. Aku mencintai negara ini, tidak perlu kau ragukan itu. Aku pernah mengabdi selama satu tahun di tempat yang sama sekali tidak kukenal, demi mencerdaskan anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Tapi aku benci para oknum-oknum pejabat bajingan yang menjalankan negara ini, yang menjadi pejabat bukan karena kompetensi lantas melahirkan kebijakan-kebijakan konyol dan merugikan masyarakat, para pejabat yang terang-terangan membohongi publik dengan silat lidah, mengeruk kekayaan bumi pertiwi untuk kepentingan pribadi. Kau terjebak dalam negara di mana pejabat-pejabatnya secara tak langsung memaksamu menjadi bagian dari sistem yang korup. Kau bisa melihat bagaimana pejabat yang bersih dikucilkan bahkan disingkirkan dari sistem.
  5. Masyarakat. Kau terjebak dalam lautan manusia-manusia munafik yang tidak ada rasa malu sedikitpun menyatakan dirinya bersih di saat yang sama ia menjadi pemimpin dengan cara membeli suara. Semua manusia tahu mana yang salah dan mana yang benar, tapi dalam pelaksanaannya, mereka semua sepakat merampok negara ini secara berjamaah. Apakah kesemua kemunafikan ini akan tetap kita biarkan? Tidak mungkin.
  6. Keluarga. Bukti cintamu pada keluarga adalah memberikan waktumu bersama mereka. Kekayaan bisa dicari, kebersamaan dalam suka duka adalah hadiah terindah yang bisa kau beri pada orang tua.
  7. Diri Sendiri. Menjadi dewasa adalah kutukan buah simalakama, terkucil atau menjadi bagian dari sistem yang korup dan saling intai satu sama lain.
  8. Cinta. Soal cinta, kita semua masih pemula, bung.
  9. Uang. Kau pintar dan ingin bangun usaha, tapi tak terwujud karena tak punya modal. Kau idealis dan ingin membangun desamu, kau kalah karena sainganmu mengguyur sejuta per kepala. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang, banyak hal bisa kau beli; jabatan, kebenaran, sejarah, bahkan undang-undang.
  10. Inspirasi. Just do it, inspirasi kadang muncul sendiri di saat tak terduga, tapi sering juga muncul setelah dipancing.
  11. Makna dan Tujuan Hidup. Teruslah bergerak, berkarya, berguna bagi orang lain. Saat kita bergeraklah makna hidup terbentuk.
  12. Sahabat. Sulit menemukan sahabat di era ini, jadilah sahabat bagi seseorang.
  13. Jabatan. Kita ini adalah serigala-serigala yang berebutan kursi, karena kursi memiliki legitimasi menguasai lahan di negeri ini. Jabatan adalah permainan merampok negara secara ramai-ramai. Mulai dari pemimpin paling kecil, kepala desa, camat, bupati, gubernur hingga menteri, bahkan presiden. Dan ketika kamu tertangkap, itulah namanya korupsi.
  14. Korupsi. Nasib sial yang menimpamu saat aksi rampokmu diketahui publik.
  15. Pekerjaan. Tanpa pekerjaan, kamu bukan siapa-siapa.  Pekerjaan menentukan seberapa harga dirimu di mata orang-orang. Itu nilai yang dipahami masyarakat di sekitarmu.
  16. Covid-19. Sudah sekian abad kita manusia bertahan dengan segala tantangan eksistensial yang pernah mengintai, kenapa tiba-tiba virus yang satu ini seolah tidak pernah ada sebelumnya hingga belum ada obatnya? Yang mana sebenarnya bentuk asli virus ini? Kecerdasan seperti apa yang mendukung virus ini hingga bisa bermutasi beberapa kali dalam kurun waktu setahun ini? Jika memang ini direncanakan oleh pihak tertentu, setidakberdaya itukah negara-negara di dunia tidak berdaya menentangnya? Intinya, ternyata kita bukan apa-apa di hadapan jasad renik yang satu ini, atau di hadapan para desainer di balik semua ini.

267. Horja 2020 (Semangat yang Beririsan)

Januari 2020, bang Jhonson Sihombing mengabari aku, "Gom, tim RKI lagi bikin analisis potensi desa Meat, kau coba susul ke sana dan diskusi sama mereka."

Siap bang, balasku di WA kala itu.

Betul, di hari H, aku ajak kawan, ga ada yang bisa, sibuk semua. 

Aku lalu pergi main solo ke Meat.
Perjalanan ke Meat pun punya cerita sendiri. 

Aku dari Tipang ambil jalur Muara, dan di atas Muara aku turun ke bawah, tapi karena belum tau ada jalan tembus dari Muara ke Meat, aku balik dari tengah jalan yang buntu, rupanya kalau kuteruskan kian, tinggal sekilo meter lagi...

Aku putar haluan dari tengah jalan, naik lagi ke Muara dan turun ke Meat lewat jalur Siborong-borong

***MEAT
Singkat cerita, aku sampai di Meat, kulihat google map, rupanya aku udah mutar-mutari Meat... Haha, maklum...

Pas aku tiba, acara sudah setengah jalan, dipandu oleh lae Tumpak Winmark Hutabarat (aka. Siparjalang). Di sana hadir juga kulihat Dispar Tobasa.

Begitu selesai acara, kami makan, sebenarnya aku segan, tapi udah lapar, embat aja pikirku, persoalan urusan belakang... Hehe

Selesai makan, kusamperin langsung lae Ojax Manalu, kami pun berkenalan dengan timnya. Aku bilang, wajah lae kok familiar... Haha

Kami sempat bercerita mengenai program tahunan RKI, lae Ojak memberitahu ada sekitar sembilan (9) event kalo gak salah

Lae Ojak juga menjelaskan secara singkat tentang apa aja kesembilan event itu

Aku langsung ke pertanyaan inti, kapan kita bikin acara di Tipang le? "Siap lae, nanti kami ke Tipang dalam waktu dekat, kolaborasi kita, kita diskusi panjang lebar... Balas beliau."

Dalam benakku, kapan bisa kolaborasi dengan insan-insan kreatif yang "bergerak", seperti RKI... 

Teringat skillset wajib di abad 21 ini adalah kemampuan bekerjasama (kolaborasi)... 

Aku punya mimpi, suatu saat Tipang menjadi salah satu episentrum kegiatan pemuda kreatif di lingkar Toba, yang ternyata beririsan dengan agenda kawan-kawan RKI lewat event Horja...

Horja pada awalnya merupakan ritual atau upacara tradisional di Toba yang dipimpin oleh BIUS. 

Konsep Horja yang diusung RKI hari ini adalah kolaborasi para seniman atau pekarya dalam bentuk reportoar yang dipentaskan, namun berhubung situasi pandemi, akhirnya dibuat jadi video.

***TIPANG
Beberapa bulan berlalu, kami saling korespondensi lewat medsos.

Lae Denata Rajagukguk kemudian menghubungi kita dan berbagi info soal agenda RKI bernama Horja, apa aja komponen budaya yang ada di Tipang dan Bakara... diskusi pun berlanjut... 

"Di sini ada tradisi Sihali Aek, Pulo Simamora, BIUS Tipang dan sanggar yang memberdayakan anak-anak SD memainkan musik tradisional, lengkap dengan penarinya, namanya Dalloid. Uniknya, pembinanya bukan seorang ahli musik... Kalau di Lembah Bakara sendiri, ada Istana SMXII..."

Singkat cerita, rute Geobike Caldera Toba kebetulan lewat dari Tipang dan lembah Bakara, tim lae Ojak singgah di Air Terjun Janji, perbatasan desa Tipang dengan Martoru.

Aku menepati janji, mengenalkan sanggar Dalloid ke tim RKI, pembinanya langsung kuajak...

Dan, sambil ngopi, diskusi pun berlanjut di kedai kopi Air Terjun Janji sore itu. Kalau tidak salah, lae Tumpak sempat bikin vlog di Air Terjun Janji, oia mana videonya le? 😄 

Tak puas kalo cuma diskusi tanpa lihat barangnya, oke kita langsung caw ke lokasi, Sanggar Dalloid di Dalan Sipiuan... (yang mana sekarang sudah pindah ke Sibatubatu, masih dengan konsep alami, di sawah-sawah gitu).

Di sini, lae Siparjalang leluasa mewawancarai pembina Dalloid, Martunas Siburian (aka. Kang Vionetta Siburian) dan aku juga (aka. tobagasm 😅), sepatah kata... Dan, gambaran Horja mulai dapat...

Waktu pun berlalu

***HARI H
Covid-19, mempengaruhi agenda kita semua

Menjelang Horja dilaksanakan bulan Nopember 2020, zoom adalah pilihan, lagi, diskusi pun berlanjut...

Dan, pada tanggal yang terjadwal, tim Horja menginjakkan kaki di tanah Raja Sumba II, Tipang dan Raja SMXII di Lembah Bakara

Serangkaian persiapan-persiapan dan uji kecocokan dijajaki selama dua hari, hingga puncaknya di hari ketiga, pengambilan rekaman kolaborasi di antara pekarya-pekarya kreatif, akhirnya terwujud...

Setelah semua kegiatan selesai, aku merasa lega, mengetahui tidak ada insiden maupun halangan yang berarti... 

Kalau soal kelelahan, itu bukan apa-apa... balasku pada lae jambang Avena Matondang... Hahaha kami masih sempat tertawa dan agak panjang lebar ngobrol di Sanggar Dalloid sebelum tim angkat kaki untuk periode ini dari Tipang.

Saat ini, tim produksi sedang menggarap video kolaborasi para pekarya kemarin supaya enak nantinya kita nikmati... 

Kita tunggu tanggal mainnya ya... 😁

***EPILOG
Terimakasih bang Johnson Sihombing, terimakasih teman-teman di RKI yang tak bisa disebutin satu per satu. Terimakasih lae Martunas Siburian selaku direktur eh pembina Sanggar Dalloid Tipang... Teruslah berkarya dan sehat selalu.

Aku punya impian, berada dalam barisan para insan yang berkontribusi terhadap kemajuan Toba, dalam aspek apa pun yang bisa. Baik di depan atau di balik layar, baik sebagai motor atau penghubung... Apa saja

Puji Tuhan, sekecil apapun riaknya dalam samudera pembangunan Toba...

Aku berharap, sentuhan tangan individu yang kreatif dan berpikir anarkis (di luar pakem), semakin banyak menjamah Toba, sesuai peran masing-masing...

Tak jemu-jemu kita terus mengenalkan Toba pada tunas-tunas baru lewat event-event kreatif di masa depan, bersama mereka-mereka yang sudah, sedang dan akan berjuang di lini masing-masing...

Dan semangat juga buat tim awak, Jery Lumbangaol dan Hermanto Tobing, Putra Simamora dll yang sedang mempersiapkan Alogo Fest dan Wisata Sawah Tipang...

Aku rindu anak-anak muda Tipang yang kreatif, ambil bagian dalam event-event yang sedang kita persiapkan, naro, robe ma hamu, asa rap manghobasi hita.

Horja, horja, horja
Horas, horas, horas

266. Menyederhanakan Konsep Pembangunan Pariwisata Toba

Mumpung masih hangat 😁, terkait yang diberitakan di sini https://setkab.go.id/inilah-tiga-jurus-sandiaga-uno-kembangkan-sektor-parekraf-indonesia/, yaitu (1) adaptasi, (2) inovasi dan (3) kolaborasi.

***
Sedikit pandangan dari seseorang yang terlibat dalam Kepariwisataan Toba selama 2 tahun belakangan, ada beberapa poin yang saya catat:

Terdapat 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang ditarget tuntas tahun ini. Poin ini otomatis sudah membatasi ruang lingkup persoalan yang berarti menghemat waktu dan analisis.

1. DETAIL (JAMOT)
Mau tidak mau, pemerintah pusat harus membuka mata dan berani mengotori tangan. Kita semua tahu bahwa mulai dari pusat hingga daerah, birokrasi penuh dengan masalah internal. Dengan otoritasnya, pemerintah pusat harus berani tegas, memetakan masalah-masalah besar hingga masalah sekecil masalah internal tiap Desa yang mana menjadi ujung tombak keberhasilan program ini.

Bersihkan dulu masalah-masalah lama, tambal dulu kebocoran-kebocoran kapal sebelum berlayar supaya tidak tenggelam di perjalanan, apalagi muatannya "berat". Dengan memperbaiki serta mengawasi oknum-oknum atau pemimpin-pemimpin yang bermasalah.

2. PENDEKATAN OTONOM (BOTTOM UP)
Setelah mengatasi pemimpin-pemimpin yang bermasalah dan menuntaskan lahan berpotensi konflik yang akan dikelola, berdayakan analis dan SDM-SDM lokal yang kompeten untuk merumuskan masterplan pengembangan Pariwisata yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Sebagai contoh, pendekatan Toba mengadopsi prinsip "marsirimpa". Dalam tahap inilah inovasi-inovasi diperlukan.

3. SOSIALISASI JORJORAN (SAPANGANTUSION)
Mutlak perlu sosialisasi yang jorjoran terhadap para pemimpin daerah mulai dari pelaku-pelaku wisata, Kepala Desa, Camat, hingga Bupati untuk menyeragamkan pemahaman. Sebagai pemimpin di daerah, berhasil atau tidaknya program Pariwisata tergantung para pemimpin daerah. Ketika pemimpin-pemimpin daerah mengerti konsep dan tujuan pariwisata, akan lebih mudah mencapai target. 

Sebaliknya, ketika pemimpin-pemimpin daerah punya visi yang berbeda, segencar apapun pemerintah pusat menggerakkan daerah, hasilnya akan jauh panggang dari api. Habis anggaran sekian triliun dan banyak waktu terbuang sia-sia, Desa-desa menjadi korban karena pemerintah pusat mudah saja mengalihkan perhatian dari satu desa ke desa berikutnya seolah desa bukan urusan negara, seolah semua saling lempar tanggung jawab.
Di tahap inilah pembinaan terhadap SDM-SDM dan pengelola obyek wisata.

4. KONTROL KETAT (RAP MANJAGA)
Selain manajemen kemampuan, korupsi adalah tantangan terbesar lainnya yang dihadapi pembangunan. Kalau perlu ada BPK atau KPK di tingkat kabupaten serta aplikasi pelaporan terpadu yang terkoneksi langsung dengan pusat.

5. KOLABORASI (RAP MANGHOBASI)
Pelaku dengan pelaku, Kepala Desa dengan Kepala Desa, Camat dengan Camat, Bupati dengan Bupati. Kolaborasi mulai dari lapisan paling bawah hingga yang paling atas. Kalau hanya pemuda yang bergerak, pemimpinnya sibuk mengurusi masalah internal masing-masing, martopak sada  tangan jadinya (pincang) lalu terbengkalai dan menunggu waktu untuk kembali ke nol lagi, balik lagi ke awal, kosong.

***
Namanya juga pendapat, saling melengkapi satu sama lain, demi kepentingan bersama. Sense of oneness... Yang sulit dipahami dan dipraktikkan oleh banyak pemimpin.