#263. Gejala Laten Oposisi Biner

Untuk memperoleh hasil perbandingan aple to aple yang berimbang; yang sepenuhnya merepresentasikan keapelan dua buah apel, perlu memperhatikan beberapa aspek penyama dan pembeda apel yang sedang dibandingkan. 

Dua buah apel yang diperbandingkan setidaknya berasal dari bibit yang sama, tumbuh di tempat yang sama, dirawat dengan cara yang sama. 

Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, kecepatan pertumbuhan, warna, massa, dan kandungan nutrisi hingga ketahanan kedua pohon apel tersebut diharapkan sama. 

Dan apabila setelah semua kesamaan itu ternyata diperoleh buah yang tidak sama, barulah dicari penyebab pembeda dan kesimpulan.

***
Dalam era kemudahan dan kecepatan informasi hari-hari ini, masihkah kita peduli kesehatan ruang komunikasi yang kita bagi bersama?

Seberapa sering kita menyaksikan atau bahkan berusaha menghegemoni ruang sosial dan melakukan kekerasan simbolik?

Dalam sejarahnya, kecenderungan posisi biner memang anak kandung dari modernisme yang berusaha merangkak dari era kegelapan yang tiran, spekulatif, abstrak, fanatik lagi otoriter. Saking dendamnya, modernisme akhirnya jatuh juga pada fanatisme yang sama, terlalu mendewakan rasio hingga bermuara di kesimpulan-kesimpulan yang positivistik, hitam putih, dualistik, benar atau salah, kiri atau kanan, maju atau mundur. Padahal dunia tidak sekaku itu kan?

Fenomena yang mudah kita lihat hari ini, begitu mudahnya kita menjatuhkan seseorang untuk meninggikan seseorang yang lain, melambatkan seseorang untuk mempercepat seseorang yang lain, mengecilkan seseorang untuk membesarkan seseorang yang lain, memilih atau tidak memilih seorang calon pemimpin kepala daerah, intinya, membandingkan seseorang dengan seseorang yang lain secara tidak berimbang, merupakan suatu sesat pikir.

Bukankah membandingkan apel dengan apel saja belum sepenuhnya merepresentasikan keapelan sebuah apel? Bukankah harus apel merah dengan merah, hijau dengan hijau, besarannya sama, mendapat perawatan yang sama, dll?

Semakin banyak aspek yang sama di antara keduanya, semakin berimbang perbandingan di antara mereka meski sama-sama buah apel.

Begitu juga dengan individu, membandingkan pemikir yang produktif menulis dengan seorang event organizer yang produktif mengorganisir sebuah event, adalah sebuah sesat pikir yang sering dipelihara dalam usaha mendominasi ruang sosial, tujuannya untuk membela pemikiran sendiri.

Seorang intelektual tidak sepatutnya lagi membandingkan seorang penyanyi dengan seorang pelukis sejak mereka memutuskan menggeluti dua bidang berbeda meskipun mereka sama-sama manusia dan pegiat seni.

Terakhir, kecenderungan berpikir oposisi biner dalam konteks sosial kerap menjebak individu dalam sentimen dan tendensi, yang mana  tidak profesional juga judgemental, bisa mengundang antipati.

Membandingkan individu dengan individu yang lain secara tidak berimbang justru menciderai kemanusiaan kedua individu yang diperbandingkan.

#262. Luat Natontong Hinasiholan

"Duhut Duhut Simardimpos"

Sama seperti ratusan etnis-etnis yang tersebar di negeri tercinta, dari sudut Toba, lebih sudutnya lagi, Desa Tipang,  para leluhur memiliki semacam romantisme atau kecintaan tersendiri atas anugerah yang dititipkan lewat alam tempat mereka menggantungkan hidup.

Contoh bentuk kecintaan itu terinspirasi dalam dua lagu yang bercerita tentang keindahan tersendiri dari Desa Tipang di antara tetangganya, lembah Bakara dan Janji Raja.

Menurut para orang tua, kedua lagu berjudul "Tano Tipang" dan "Luat Na Tongtong Hinasiholan" ini sudah diajarkan pada masyarakat Tipang sejak pertengahan abad -19 oleh guru SD Tipang, amang Sianturi (alm).

Hingga hari ini, aku belum tahu siapa penulis dan penggubah lagu ini, apakah dari Desa Tipang itu sendiri, atau seseorang yang datang dan memandang Tipang dari luar? Siapa pun sang penggubah di balik kedua lagu ini, aku mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya.

Melalui lirik kedua lagu ini, aku bisa melihat lebih jauh ke dalam Desa Tipang itu sendiri untuk menghargai keunikannya.

| Gomgom Lumbantoruan

#261. Di Balik Layar

Dipersiapkan sebagai pendidik, saya memang sudah terbiasa bekerja di balik layar. Sesekali kalau muncul, itu pun panggung kami hanyalah ruang kelas 😎

Mungkin di situ perbedaan orientasi kepribadian seorang entertainer dengan seorang konseptor. Jika teman-teman entertainer senang tampil di hadapan publik, kami sebagai konseptor senang bereksperimen di balik layar dengan masterplan, kurikulum, dan litbang... 😁

Sama-sama keren kan? Ialah, itulah keindahan diversity, masing-masing punya peran... Apalagi jadi seorang konseptor sekaligus entertainer.

#260. Simulasi dalam Simulasi

Adalah tiga sosok, dengan segala yang ada pada mereka, sebagian warisan dari orang tua, sebagian dari apa yang mereka ambil sendiri.

Untuk menambah dan menambah lagi akumulasi komoditas, mereka pun membangun sebuah gedung pertunjukan, lengkap dengan segala isinya, panggung, podium, microphone, red carpet, kursi penonton yang diatur berdasarkan harga tiket, tim orkestra, mesin es krim, mesin popcorn, hingga pelayan-pelayan kebutuhan penonton yang piawai, dll. 

Lalu mereka menulis peraturan-peraturan yang kompleks, penonton dimungkinkan berpindah kursi duduk dengan syarat tertentu, bayar dengan senilai uang. Penonton bisa naik ke podium dan melakukan apa saja sesuka hatinya.

Di luar gedung pertunjukan, mereka mengatur segala sesuatu sedemikian rupa supaya orang-orang di luar gedung merasa harus masuk dalam gedung pertunjukan. Di dalam gedung pertunjukan, mereka menyisipkan beberapa penonton bayaran untuk melakukan beberapa tugas yang diperintahkan. Penonton bayaran juga membayar penonton lainnya untuk melakukan beberapa tugas yang diperintahkan, begitu seterusnya.

Tiga sosok adalah world highest rulers, gedung pertunjukan adalah sistem-sistem integratif yang ada saat ini, panggung adalah media (sosial?), penonton bayaran adalah aktor-aktor (sosial?), dan masing-masing kita adalah artis sekaligus penonton yang rebutan panggung dengan berbagai cara untuk menarik perhatian penonton lainnya.

Lingkungan luar gedung pertunjukan, gedung pertunjukan beserta segala sesuatu di dalamnya, hingga aturan-aturan di dalam gedung pertunjukan, adalah beberapa simulasi yang di desain sedemikian rupa, simulasi dalam simulasi untuk melayani simulasi di atasnya yang lebih besar.  

Singkatnya, ada yang pamer kemolekan tubuh, ijazah, baju seragam, kendaraan, bahkan ada yang mengkritik desain serta isi ruangan tersebut. Ada yang mengadu domba penonton dari atas podium, ada yang mengeluarkan gas beracun sekaligus menjual masker, ada yang mengeluarkan kuman sekaligus menjual anti kuman, beberapa penonton yang tidak mendapat obat lalu pingsan "kehabisan nafas" karena ketakutan.

Siapa yang memulai dan untuk siapa simulasi ini? Untuk pemilik gedung pertunjukan, penjual fasilitas yang ada dalam gedung dan event organizer yang menentukan hari ini dan besok ada pertunjukan seperti apa?!

Pada suatu hari di musim penghujan dan berangin, beberapa anak bermain layangan dekat gedung tersebut. Sebelum hujan, angin meniup layangan mereka hingga tersangkut di kabel bertegangan tinggi, anak-anak lalu berhenti bermain dan membuang gulungan layangannya di dekat gedung. Petir kemudian menyambar layangan, hujan menjadikan benang menghantar listrik dan terbakarlah gedung megah itu hingga rata dengan tanah.