Untuk memperoleh hasil perbandingan aple to aple yang berimbang; yang sepenuhnya merepresentasikan keapelan dua buah apel, perlu memperhatikan beberapa aspek penyama dan pembeda apel yang sedang dibandingkan. 

Dua buah apel yang diperbandingkan setidaknya berasal dari bibit yang sama, tumbuh di tempat yang sama, dirawat dengan cara yang sama. 

Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, kecepatan pertumbuhan, warna, massa, dan kandungan nutrisi hingga ketahanan kedua pohon apel tersebut diharapkan sama. 

Dan apabila setelah semua kesamaan itu ternyata diperoleh buah yang tidak sama, barulah dicari penyebab pembeda dan kesimpulan.

***
Dalam era kemudahan dan kecepatan informasi hari-hari ini, masihkah kita peduli kesehatan ruang komunikasi yang kita bagi bersama?

Seberapa sering kita menyaksikan atau bahkan berusaha menghegemoni ruang sosial dan melakukan kekerasan simbolik?

Dalam sejarahnya, kecenderungan posisi biner memang anak kandung dari modernisme yang berusaha merangkak dari era kegelapan yang tiran, spekulatif, abstrak, fanatik lagi otoriter. Saking dendamnya, modernisme akhirnya jatuh juga pada fanatisme yang sama, terlalu mendewakan rasio hingga bermuara di kesimpulan-kesimpulan yang positivistik, hitam putih, dualistik, benar atau salah, kiri atau kanan, maju atau mundur. Padahal dunia tidak sekaku itu kan?

Fenomena yang mudah kita lihat hari ini, begitu mudahnya kita menjatuhkan seseorang untuk meninggikan seseorang yang lain, melambatkan seseorang untuk mempercepat seseorang yang lain, mengecilkan seseorang untuk membesarkan seseorang yang lain, memilih atau tidak memilih seorang calon pemimpin kepala daerah, intinya, membandingkan seseorang dengan seseorang yang lain secara tidak berimbang, merupakan suatu sesat pikir.

Bukankah membandingkan apel dengan apel saja belum sepenuhnya merepresentasikan keapelan sebuah apel? Bukankah harus apel merah dengan merah, hijau dengan hijau, besarannya sama, mendapat perawatan yang sama, dll?

Semakin banyak aspek yang sama di antara keduanya, semakin berimbang perbandingan di antara mereka meski sama-sama buah apel.

Begitu juga dengan individu, membandingkan pemikir yang produktif menulis dengan seorang event organizer yang produktif mengorganisir sebuah event, adalah sebuah sesat pikir yang sering dipelihara dalam usaha mendominasi ruang sosial, tujuannya untuk membela pemikiran sendiri.

Seorang intelektual tidak sepatutnya lagi membandingkan seorang penyanyi dengan seorang pelukis sejak mereka memutuskan menggeluti dua bidang berbeda meskipun mereka sama-sama manusia dan pegiat seni.

Terakhir, kecenderungan berpikir oposisi biner dalam konteks sosial kerap menjebak individu dalam sentimen dan tendensi, yang mana  tidak profesional juga judgemental, bisa mengundang antipati.

Membandingkan individu dengan individu yang lain secara tidak berimbang justru menciderai kemanusiaan kedua individu yang diperbandingkan.