"Lebih dari apapun, kita lebih malu karena telah membiarkan korupsi bertumbuh bersama kita sejak kita anak-anak."
***
Betul, kita tidak berutang penjelasan pada siapapun tentang korupsi -- korupsi yang kini menjadi berita makan siang.
Kita tahu, sebagaimana perilaku jujur, perilaku koruptif tidak terbentuk dalam sehari sehingga untuk mengubahnya juga tidak bisa sehari.
Ia dibentuk oleh pembiaran demi pembiaran kita terhadap pelanggaran kecil dalam kehidupan sehari-hari,
seiring waktu, ia pun turut membesar.
Contoh: awalnya kita membiarkan diri sering terlambat dari kesepakatan, entah itu terlambat makan, ke kantor, membayar kewajiban, dll.
Kata kunci, BESOKNYA, kita membiarkan adik dan kakak kita terlambat.
Besoknya lagi kita membiarkan ayah dan ibu kita terlambat.
Minggu depannya, kita telah terbiasa membiarkan diri, adik, kakak serta orang tua kita biasa terlambat... ya, kita menerima semua keterlambatan itu.
Minggu-minggu berikutnya, situasi berubah menjadi batu sandungan; kita ingin tegas pada orang lain, tapi kita sudah ditodong oleh beban moral (rasa bersalah) dan hukum positif karena tidak adil terhadap orang lain sebagaimana pada diri sendiri.
Lama-lama, kita menjadi "masyarakat bisu"
yang terbiasa menerima keterlambatan terus terjadi, ibarat tidur dalam kondisi pintu rumah tidak tertutup semua, tengah malam, pencuri menggasak barang berharga (sedangkan rumah terkunci saja sering dibobol, apalagi tidak?).
Di mana puncak dari semua pembiaran itu?
"Biar tidak ribut-ribut, sudahlah yang penting bukan personal kita yang dirugikan", kalimat yang sering dijadikan "topeng" sosial, karena "malu terlihat munafik".
Dibela pula dengan kicauan, "bukan uangku kok"...
Benar, memang bukan uang dari dalam dompet yang dicuri karena uang di dompet tak seberapa dibandingkan masa depan orang-orang yang dicuri dengan tertundanya pembangunan umum.
Ya begitulah jadinya barang itu; dalam era kegemukan informasi, tiap hari mendengar kasus korupsi, kita jadi cuek... Atau marah sesaat untuk lupa lagi, menggebu-gebu mengecam koruptor tapi pada saat yang sama korupsi dalam diri berselemak.
***
Lihatlah para koruptor itu, uang sosial pun ditelap... orang sudah megap-megap karena p(l)andemik seperti kata orang, masih sanggup potong atas mereka...
Begitu "logika kelas bawah" kita menyimpulkan.
Pikirannya sungguh dimanfaatkan untuk memperkaya diri, orang ini benar-benar paham bahwa uang tetaplah uang sekalipun dari dalam "kubur" atau tenggorokan orang sekarat, mereka akan menggalinya.
Koruptor memiliki logikanya tersendiri, agama mereka adalah akumulasi kapital, negara adalah wadah, sementara agama, hukum dan sistem moralitas kita adalah alat yang dirancang sedemikian rupa bekerja bagi keuntungan mereka.
Seandainya bertukar posisi, koruptor jadi masyarakat yang dihantui oleh hutang, kelaparan dan penindasan struktural, lalu masyarakat yang jadi koruptor, apakah mereka akan terima? Tidak mungkin.
Setiap kelas punya logikanya tersendiri.
Bagi kelas bawah, mungkin korupsi itu dosa, namun bagi kelas atas, korupsi itu permainan dan tertangkap KPK adalah nasib sial.
Bagaimana menguasai permainan catur?
Jangan baper, tapi balik situasi.
***
Kembali ke idealisme kelas bawah, kini seolah-olah korupsi ibarat kentut, malunya cuma pas ketahuan saja.
Sialnya, kita berbagi negara dengan orang-orang seperti ini.
Sialnya, dapur kita diurus orang-orang seperti ini.
Sialnya lagi, koruptor atau pemain-pemain itu hanya dilihat-lihat, beberapa waktu kemudian dibebaskan.
***
Korupsi itu universal, siapa saja bisa melakukannya.
Pun demikian, hanya karena kita jijik melihatnya bukan berarti kita bebas tidak bisa kena getahnya. Politik bisa kejam.
Boleh dikatakan, dari sudut tertentu, koruptor adalah cerminan masyarakat yang permisif dan toleran terhadap perilaku korup. Sudah menjadi rahasia umum, orang-orang berlomba naik ke atas untuk "kue" yang lebih besar bukan?
Jika hama tumbuh di pematang sawah yang disediakan untuk padi karena memungkinkan, koruptor lahir dari ekosistem yang memungkinkan lahirnya koruptor.
***
Banyak pemikiran berusaha menjelaskan situasi yang sedang kita hadapi, apapun teorinya, intinya kita sedang berada dalam sebuah lingkaran setan; sebuah ekosistem korup yang melahirkan koruptor-koruptor baru setiap hari.
Pemberantasan korupsi sejatinya adalah tugas setiap individu jika semua orang bisa menjadi polisi moral bagi dirinya sendiri.
Tidak ada seorang pun insan yang kebal terhadap godaan untuk berbuat korup, namun setiap orang punya kesempatan untuk menolaknya.
Kita semua memiliki cara-cara masing-masing mengantisipasi korupsi, seperti;
1. menghindari "permainan" besar,
2. menyiram "api-api" kecil,
3. memperkuat "mantra",
4. mengurangi "tirai-tirai" penutup,
5. meluruskan jalanan yang berbelok-belok,
6. dll...
dengan cara:
1. sadar hak dan kewajiban
2. mencukupkan diri
3. menjadikan profesionalisme sebagai standar kerja
4. mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan
5. memahami kita hanya menerima sesuai kapasitas
6. memamami sebagian balasan kebaikan tidak selalu berupa uang
7. berusaha tidak kompromi dengan gratifikasi
Tentu tidaklah semudah menuliskan tulisan ini, menulis tidak seberapa.
Tulisan ini adalah sebuah paradoks... namanya juga tulisan, mudah saja menulis tentang orang yang kebetulan sial.
Sembari saya menulis dan Anda membaca artikel ini, kita sedang diintai oleh peluang korup. Memang, idealisme itu dinamis... tapi komitmenlah untuk tetap tersadar.
📷 Istock