Biasanya, tipe mantan itu ada dua, (1) Yang Belum Dewasa, dan (2) Yang Sudah Dewasa.
***
- Tipe Pertama, yang belum dewasa.
- Ia berprinsip dirinya sebagai pihak superior, pihak yang tidak mungkin salah atau jarang salah dan selalu jadi korban orang lain.
- Karenanya, ketika ada situasi yang tidak sesuai dengan prinsipnya, ia menyalah-nyalahkan seolah ia benar-benar bersih.
- Ia bersikap demikian karena terjebak dikotomi pemikiran relijius vs ateis.
- Ia menaruh harapan yang terlalu besar atas agama dan manusia, hingga ketika harapannya tidak sesuai kenyataan, jatuhnya pada dua kemungkinan, menyalahkan agama atau menyalahkan manusia.
- Membawa-bawa agama dalam urusan karakter, adalah ciri-ciri kebelumdewasaan, baik sebagai individu maupun sebagai jemaat yang otonom (mampu memutuskan apa yang baik dan buruk bagi diri sendiri).
- Dan biasanya, seseorang yang masih menyalahkan orang lain dan membanggakan yang satunya, pada situasi tertentu berpotensi melakukan hal yang sama. Suatu saat ia berpotensi menyalahkan kembali yang saat ini dipuja-puji, sebagaimana ia menyalahkan yang sekarang, orang yang pernah dipuja-pujinya dulu.
- Faktanya, kita semua pernah berbagi masa lalu yang suram dengan seseorang yang lain.
- Tipe Kedua, yang sudah dewasa, memposisikan dirinya sebagai bagian dari masa lalu.
- Belajar dari kesalahan, bersyukur kalau telah melakukan tindakan yang tepat.
- Ia melepaskan karakter individu dari agama karena seseorang bisa menjadi baik tanpa agama atau menjadi jahat demi agama, begitu sebaliknya.
- Meskipun dalam beberapa situasi, karakter individu dan agamanya saling mempengaruhi.
- Ia paham bahwa karakter individu adalah kehendak bebas dan tidak ada seorangpun senang memiliki masa lalu yang menyusahkan, meskipun tidak diakui.
- Ia tahu bahwa memaafkan orang lain berarti membiarkan diri bertumbuh dan memahami, bahwa biar bagaimanapun, kita turut ambil bagian dalam kesalahan masa lalu bersama orang lain, apalagi kalau mantan kekasih, orang yang pernah berbagi mimpi dan suka duka bersama.