#259. Pan(dem)ik

 

***
Hari-hari ini, rasanya manusia seperti tidak berdaya...
Kekuatiran dan kelegaan yang kita alami begitu gradual.
 
Mereka yang panikan, yang tinggal di daerah yang dikabarkan terjangkit covid, daerah di mana mobilitas masyarakatnya tinggi, memiliki ketakutan yang lebih besar dari mereka yang tinggal di pedalaman, jarang dikunjungi orang, apalagi tidak punya tv, radio dan media sosial.
 
Jika sebelumnya gejala batuk, sesak nafas, badan lemas dan mati rasa itu hal biasa, kini sekedar bersin pun orang diliputi rasa trauma bahkan sebelum bersin. 

#258. Ulos dalam Perspektif (sekelumit kajian poskolonial)

"Agak naif jika anak cucu menyebut leluhur (yang belum mengenal konsep agama-agama hari ini) sebagai penyembah berhala."
 
***
Jagat maya Toba diintervensi oleh kiriman seseorang yang membakar Ulos, kain tenun khas Toba. Memang bukan kali pertama lagi Ulos distigmatisasi.
 
Secara historis, Ulos merupakan salah satu produk kecerdasan atau warisan leluhur dalam bentuk fisik, sama seperti Rumah Batak, perkampungan, dan lesung batu. Sejajar statusnya dengan teknik bercocok tanam, bahasa Batak Toba, sistem partuturan (silsilah) dan marga yang kita gunakan hari ini di Toba.

#257. Tradisi Sihali Aek Tipang, Semangat Gotong Royong Terakhir yang Masih Eksis di Toba

 

"Kini tugas generasi muda Tipang semakin jelas, mengadaptasi semangat tradisi Sihali Aek dalam era New Normal tanpa harus tercerabut dari akar."
 
*Sebelumnya, mohon ijin BIUS Tipang dan Raja Jolo Sihali Aek.*
 
Saya sepakat dengan Thomas Kuhn, bahwasanya ilmu pengetahuan selalu bergeser dari masa ke masa, menyesuaikan diri dengan konteks sejarah yang sedang berlangsung.
 
Sebagian besar konsep yang kita temui hari ini, mulai dari bahasa, aksara, mazhab berpikir, hingga kebiasaan-kebiasaan kolektif, masih warisan atau pengetahuan yang bergeser dari generasi sebelumnya. 
 
Manifestasi pergeseran tersebut bermacam-macam, ada pengembangan seperti kemajuan teknologi digital, ada pengurangan seperti penolakan Ulos dan Gondang Batak.

#256. HUBUNGAN BIUS DENGAN SIHALI AEK TIPANG

"Bicara tentang Tipang, tidak lepas dari Sihali Aek.
Bicara tentang Sihali Aek, tidak lepas dari BIUS atau Raja Napitu."
PARIWISATA
Akhir-akhir ini, semangat pembangunan mulai terlihat di lingkar Toba.
Khususnya di Tipang, hari ini pembangunan mengusung bendera Pariwisata.
Unik tapi nyata, sepertinya hanya karena Pariwisatalah Tipang ini akhirnya disentuh oleh pembangunan yang agak serius.

#255. umbal-umbal (pelampung)

 

...

ini cerita waktu SD sebagai partopi tao (tinggal di pinggir danau Toba), biasalah, anak-anak punya permainan musiman... kayak premier league aja 
di sekolah, anak-anak udah saling janji sepulang sekolah bakal mandi bareng, cewek dan cowok, sama aja.
begitu bel pulang berbunyi, langsung langkah seribu, seolah berlomba siapa lebih dulu sampai di lokasi.
sesampainya di lokasi yang disebut "pasir" atau tepi danau, masing-masing membuat "umbal-umbal"nya.

#254. Jatuh Cinta atau Bangun Cinta?

*Argumentasi saya tadi pagi dalam diskusi di Sanglah Institute

***
(sekelumit analisis wacana kritis).
Beberapa kali aku membaca dan mendengar respon teman-teman soal ketepatan penggunaan terma "jatuh" dalam kalimat "jatuh cinta" yang seharusnya kata mereka "bangun".
Boleh dikatakan, ini indikasi pemahaman oposisi biner, hitam putih atau lettered.
Kalau aku sendiri sih, tergantung konteks kalimatnya...

#253. Pandemi, Boekoe "Laklak" dan Faktisitas Heidegger

 

Ya, begitulah adanya, dialektika sejarah selalu menyisakan satu pihak yang dominan.
Fakta hari ini kita bergantung pada obat tertentu, produk ilmu pengetahuan yang katanya modern dan selalu diasosiasikan dengan Barat.
 
Kita semua tahu, pada masanya, kita punya ramuan-ramuan alami, koleksi pengetahuan tradisional untuk mengatasi penyakit di tubuh manusia, khususnya Toba.