***
Hari-hari ini, rasanya manusia seperti tidak berdaya...
Kekuatiran dan kelegaan yang kita alami begitu gradual.
Mereka yang panikan, yang tinggal di daerah yang dikabarkan terjangkit covid, daerah di mana mobilitas masyarakatnya tinggi, memiliki ketakutan yang lebih besar dari mereka yang tinggal di pedalaman, jarang dikunjungi orang, apalagi tidak punya tv, radio dan media sosial.
Jika sebelumnya gejala batuk, sesak nafas, badan lemas dan mati rasa itu hal biasa, kini sekedar bersin pun orang diliputi rasa trauma bahkan sebelum bersin.
Tidak hanya karena tekanan sosial, tapi juga karena tekanan kecurigaan terhadap diri sendiri.
Kalaulah Covid-19 sebahaya yang diberitakan oleh media-media mainstream, bukankah kita sudah terbangkan orang hingga ke Bulan?
Kenapa untuk persoalan yang ditimbulkan jasad renik yang satu ini, kita masih harus sabar atau memang sengaja dibuat menunggu hingga waktu yang belum pasti?
Gelombang panik ini seperti gelombang udara dingin yang berpindah dari satu wilayah menuju wilayah yang satu.
Sebagian sudah melewati fase puncak, sebagian sedang menuju fase puncak dan sebagian belum.
***
Dari beberapa sudut kita bisa menarik simpulan sementara, dari sudut pandang agama kita menyimpulkan keadaan ini sebagai tanda-tanda yang pernah diwahyukan sebagai hati-hari terakhir.
Dari sudut pandang medis, kita menyimpulkan ini sebagai fenomena musiman, yang pasti akan berlalu... Meskipun kita belum tahu kapan.
Sebagian dari kita juga menyimpulkannya sebagai sebuah manuver politik, tentu mereka punya dasar argumen tersendiri.
Ah...
Dari sudut pandang apa lagi kita memandang keadaan ini?
Satu fakta bahwa dunia saat ini sedang panik, seperti yang digambarkan oleh Zizek dalam bukunya Pandemic.
Kelihatannya saja seolah mudah mewujudkan usulan Harari bahwa kita harus bersikap solider sebagai bangsa, benua dan warga dunia untuk keluar dari pandemi panik ini.
Situasi kita sekarang tak ubahnya seperti yang digambarkan dalam film apokaliptik World War Z yang dibintangi oleh aktor kawakan, Brad Pitt...
Ada pun yang membedakan situasi yang kita hadapi sekarang dari situasi dalam film World War Z adalah, kita sendirilah yang menjadi aktor yang menemukan vaksinnya.
Sekarang, para peneliti dan medis berjuang menemukan vaksin yang sesuai dengan karaktristik covid-19, kita berharap vaksin itu segera ditemukan supaya test-test yang dilakukan itu hasilnya akurat.
Karena dari ketidakakuratan alat test tersebutlah keluar jumlah yang orang yang positif, dan dari jumlah orang positif inilah kita semakin panik.
.
Kita belajar dari situasi ini, betapa kemanusiaan kita rapuh di titik-titik dan kondisi tertentu... Dan ya, fenomena atau pandemi panik ini menegaskan bahwa kapitalisme eksploitatif tidak bisa menyelamatkan kemanusiaan, justru sebaliknya.