"Agak naif jika anak cucu menyebut leluhur (yang belum mengenal konsep agama-agama hari ini) sebagai penyembah berhala."
***
Jagat maya Toba diintervensi oleh kiriman seseorang yang membakar Ulos, kain tenun khas Toba. Memang bukan kali pertama lagi Ulos distigmatisasi.
Secara historis, Ulos merupakan salah satu produk kecerdasan atau warisan leluhur dalam bentuk fisik, sama seperti Rumah Batak, perkampungan, dan lesung batu. Sejajar statusnya dengan teknik bercocok tanam, bahasa Batak Toba, sistem partuturan (silsilah) dan marga yang kita gunakan hari ini di Toba.
Dapat dikatakan, bahwa pada jamannya, leluhur memiliki keyakinan Parmalim, Parbaringin atau apapun istilah lainnya yang merujuk pada dinamisme.
Sebagai peradaban yang menganut keyakinan dinamisme, tentu tempat tinggal, tatanan perkampungan, benda kerja, teknik bercocok tanam, bahasa, silsilah dan marga, bahkan nama semuanya terlaksana dalam ide dan praktik dinamisme.
Seiring berjalannya waktu, kini masyarakat Toba mengalami akulturasi dengan budaya Barat, contohnya keyakinan Nasrani.
Lantas, dalam perjalanannya, keyakinan baru ini mulai mengintervensi praktik hidup peradaban Toba.
Intervensi tersebut berasal dari para penyebar keyakinan
Nasrani.
Sesuai kodrat manusia, penafsiran terhadap suatu ajaran tertentu sangatlah bias, dipengaruhi oleh segudang faktor yang sering pada akhirnya melahirkan tafsir yang berbeda dari inti suatu ajaran yang sedang ditafsirkan (orang teologia menyebutnya hermeneutika).
Penulis sendiri meyakini ekses ajaran Nasrani bukan pada penolakan suatu benda yang bermanfaat atau "yang praksis", seperti Ulos dan sejenisnya yang tidak lebih dari sebagai produk intelektual sebuah peradaban.
Penulis meyakini ajaran Nasrani lebih ke "yang esensial" seperti motif suatu tindakan.
Tentu ini penafsiran penulis sendiri atas teks ajaran Nasrani juga.
Penafsiran atas produk intelektual peradaban leluhur setidaknya membagi masyarakat Toba menjadi dua golongan besar dalam memandang Ulos dan kawan-kawannya, yaitu;
1. Ulos dkk sebagai simbol yang menggendong makna-makna spesifik, seperti berkat, kesuburan, karisma, dll.
2. Ulos dkk itu sebagai berkat, kesuburan dan karisma itu sendiri.
Golongan yang menolak Ulos berasal dari golongan yang kedua.
Golongan kedua menganggap golongan pertama memahami bulat-bulat bahwa Uloslah yang menjadi berkat, kesuburan dan karisma itu sendiri.
Juga, menurut golongan kedua, berkat, kesuburan, dan kharisma seharusnya hanya dari Tuhan, (yang mana golongan pertama juga sebenarnya memahami demikian).
Inti penolakan golongan kedua adalah peniadaan simbol-simbol atau perwakilan Tuhan serta berkat-berkatnya yang termanifestasi dalam berkat, kesuburan, karisma dll.
Sebaliknya, inti "keberterimaan" golongan pertama terhadap Ulos dkk adalah pemisahan antara "yang esensi" dengan "yang praksis".
Di mana yang utama adalah esensi atau motif budaya daripada benda-benda atau produk atau praksis budaya itu sendiri. Penulis menyebutnya sebagai kombinasi idealisme Plato + metafisika Kant + pragmatisme Dewey.
Memang dalam situasi pengulangan-pengulangan yang intens, agak sulit membedakan Ulos sebagai simbol dengan Ulos sebagai berkat itu sendiri.
Bagaimana tidak, sebagaimana alam bawah sadar kita otomatis mengasosiasikan sehelai kain yang berwarna merah-putih dengan konsep Indonesia, begitu juga otak kita mengasosiasikan Ulos dengan konsep leluhur yang dianggap berhala.
Betapa miris sebenarnya ketika kita sebagai anak cucu menyebut leluhur kita (yang belum mengenal agama) sebagai penyembah berhala.
Dalam semiotika, Ulos tidak lebih sebagai simbol atau penanda.
Petanda Ulos adalah kesuburan dan berkat.
Ulos sama halnya dengan kain yang dipakai manusia.
Kain tertentu dipakai karena ada keyakinan tertentu terhadapnya.
Seperti kombinasi jenis kain tertentu disebut cocok dan rapi, kita gunakan pada acara yang kita sebut juga formal.
Penolakan (pembakaran) Ulos ini lebih ke fenomena bahwa "kita toleran pada beberapa bidang tertentu, tapi tidak pada beberapa bidang lainnya."
Tetap, penolakan terhadap ulos tetaplah hak, tidak bisa disalahkan.
Tapi, satu celah besar yang tidak bisa disembunyikan oleh golongan penolak Ulos dkk ini adalah, mereka seharusnya juga menolak konsep tempat tinggal, tatanan perkampungan, benda kerja, teknik bercocok tanam, bahasa, silsilah dan marga, bahkan nama mereka yamg merupakan produk dari peradaban lalu yang identik dengan "berhala".
Artinya, pada dasarnya tidak ada manusia atau masyarakat yang bisa hidup di luar konsep tempat tinggal, tatanan perkampungan, benda kerja, teknik bercocok tanam, bahasa, silsilah dan marga, bahkan nama yang sudah ada.
Dengan kata lain, mereka terlalu naif untuk mengakui adanya celah yang menganga pada konsep yang mereka anut.
Apa yang dipetik dari peristiwa ini adalah perlunya pemahaman pada makna dan fungsi ulos.