"Kini tugas generasi muda Tipang semakin jelas, mengadaptasi semangat tradisi Sihali Aek dalam era New Normal tanpa harus tercerabut dari akar."
*Sebelumnya, mohon ijin BIUS Tipang dan Raja Jolo Sihali Aek.*
Saya sepakat dengan Thomas Kuhn, bahwasanya ilmu pengetahuan selalu bergeser dari masa ke masa, menyesuaikan diri dengan konteks sejarah yang sedang berlangsung.
Sebagian besar konsep yang kita temui hari ini, mulai dari bahasa, aksara, mazhab berpikir, hingga kebiasaan-kebiasaan kolektif, masih warisan atau pengetahuan yang bergeser dari generasi sebelumnya.
---
Begitu juga dengan tradisi Sihali Aek di Desa Tipang, ia diwariskan turun temurun karena sejatinya, masyarakat Tipang hampir tidak mungkin meninggalkannya, setidaknya dalam kondisi seperti sekarang, di mana mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat Tipang adalah bertani.
Oleh karenanya, tradisi ini sangat erat kaitannya dengan siklus pertanian Desa Tipang yang terlaksana dua kali (panen) dalam setahun.
Terlebih, berkat tradisi Sihali Aek, masyarakat Tipang bisa menikmati ketersediaan air sepanjang waktu. Bukankah air adalah sumber kehidupan?
---
"Apa itu tradisi Manghali Aek?"
Secara terminologi, Manghali Aek dalam bahasa Toba berarti "menggali saluran air" supaya air dari Sungai Sipultak Hoda bisa mengalir ke seluruh penjuru Desa Tipang.
Pada awal sejarah terbentuknya Manghali Aek, orang-orang yang melakukan penggaliannya disebut Sihali Aek.
Dalam perjalanannya, sekarang makna “manghali aek” tidak lagi dimaknai “menggali saluran air” sebagaimana pengertian awal, makna “manghali aek” telah mengalami penyesuaian makna menjadi “melanjutkan pemeliharaan”. Sebutan para peserta gotong royong tetap disebut Sihali Aek.
Ada pun jalur galian irigasi tersebar di dua (2) lokasi, yang pertama membentang dari “bona ni sampuran Sigota-gota” (hulu air terjun Sigota-gota) hingga Situnggung di Tipang Dolok.
Jalur galian kedua membentang dari “Sitapongan” melalui Panaharan hingga Sibuni-buni.
Peserta Sihali Aek berjumlah seratus dua puluh dua (122) di mana dua (2) orang diantaranya disebut Parhara yang bertugas memantau kondisi talian di lapangan dan membuat pemberitahuan jika ada yang perlu dibicarakan.
Kesemuanya mereka merupakan perwakilan tujuh marga yang berasal dari Tipang itu sendiri, yakni Simamora (Purba, Manalu, Debata Raja) dan Sihombing (Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit).
Seratus dua puluh dua (122) anggota Sihali Aek ini didistribusikan secara merata dalam dua kelompok yang diberi nama Sihali Aek Dolok dan Sihali Aek Toruan.
Anggota Sihali Aek Dolok bertanggung jawab Manghali Aek atau melakukan pemeliharaan talian air di bagian dolok (atas), sebaliknya Sihali Aek Toruan (Toba) bertanggung jawab manghali aek atau melakukan pemeliharaan talian air di bagian toruan (bawah).
Secara keseluruhan, tradisi Sihali Aek terdiri atas beberapa rangkaian kegiatan yang kontinu sepanjang tahun. Puncak acaranya adalah gotong royong itu sendiri, Manghali Aek.
Singkatnya, tradisi Manghali Aek bisa diartikan tradisi memelihara sistem irigasi (manghali aek) yang dilakukan oleh perwakilan (Sihali Aek) dari tujuh marga-marga yang berasal dan tinggal di Desa Tipang.
---
Sejauh yang saya amati dan alami sendiri sebagai masyarakat Tipang, kebetulan juga pada bapak saya ditempelkan status Raja Jolo (pemimpin marga Lumban Toruan dalam urusan Manghali Aek), ada beberapa keunikan tradisi Manghali Aek, yaitu:
1] “Melawan” Gravitasi
Menaikkan air sungai Sipultak Hoda menuju sawah-sawah Desa Tipang yang notabene lebih tinggi dari sungai Sipultak Hoda.
Bagaimana dulunya para leluhur menemukan cara "melawan" gravitasi?
2] Struktur Kepemimpinan Sihali Aek "menunda" Dalihan Natolu
Struktur kepemimpinan Sihali Aek dibentuk dengan prinsip dasar "gotong royong". Di mana inti dari gotong royong adalah "kita setara".
Sementara dalam sistem kekeluargaan Toba, termasuk Tipang, kehidupan sehari-hari diikat oleh Dalihan Natolu.
Hula-hula wajib dihormati, dan faktanya, ekses dari penghormatan ini menjadikan orang Toba segan bahkan takut terhadap hula-hulanya.
Bagaimana jadinya kita gotong royong kalau Sihali Aek saling segan-seganan? Bukankah gotong royong adalah spontanitas?
Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, saya menduga, para leluhur sepakat untuk "menunda" otoritas Dalihan Natolu khusus untuk kegiatan Manghali Aek.
Apa yang bernilai tinggi di sini adalah, bagaimana para Sihali Aek melucuti status "raja" yang melekat pada diri mereka demi terwujudnya gotong royong? Sungguh dibutuhkan kebesaran hati.
3] Sistem Punishment yang Mendisiplinkan
Dalam perspektif psikologi, metode pemberian punishment dan reward yang berimbang bisa dijadikan alat untuk mendisiplinkan individu hingga kelompok.
Nampaknya para leluhur juga memahami hal ini, terbukti dengan adanya sistem punishment dan reward yang mendidik dalam stuktur organisasi Sihali Aek.
Saya sebut mendidik karena punishment yang diberikan sifatnya adil, konsekuensi yang diberikan sesuai pelanggaran, apakah berat, sedang atau ringan.
Adapun pelanggaran yang dimaksud berupa:
a> Pelanggaran Ringan
Apabila salah satu Sihali Aek absen satu kali saat gorong royong, ia dikenakan sanksi berupa denda.
Sipelanggar wajib menyerahkan beras pada pemimpin marganya (yang disebut Raja Turpuk atau Raja Jolo) dalam ukuran yang disepakati.
b> Pelanggaran Sedang
Absen dua kali saat gotong royong, dikenakan sanksi yang sama dengan kelipatan.
c> Pelanggaran Berat
Absen tiga kali, dikenakan sanksi terberat dalam sejarah Manghali Aek, semua anggota Sihali Aek mencangkul halaman rumahnya. Syukurlah, hingga sekarang belum pernah dilanggar.
Dari poin-poin di atas, tidak diragukan lagi bagaimana tegasnya aturan Sihali Aek bagi anggotanya.
4] Sistem Reward yang Mendidik
Sebaliknya, reward yang diberikan juga proporsional dan tematik (sesuai karakteristik tanah) dengan keterangan sebagai berikut:
a> Upa Gogo
Diberikan untuk masing-masing keenam puluh anggota Sihali Aek Dolok dan Aek Toruan.
b> Upa Parhara
Diberikan untuk Parhara, pengawas irigasi dan pengundang kegiatan rutinitas ritual setiap tahun , Upa Parhara dua kali lebih luas dari Upa Gogo.
c> Upa Jolo
Diberikan sebagai penghormatan kepada Raja Jolo dari tiap turpuk marga.
d> Upa Lehu
Diberikan sebagai penghormatan atas jasa salah seorang leluhur boru Hutasoit, dalam perannya mangalehu (memutar) jalur lintasan air, Upa ini sekarang dikelola bersama oleh marga Hutasoit.
e> Upa Rongit
Diberikan untuk warga yang mampu mengolah lahan yang banyak rongit (nyamuk).
f>Upa Bodil
Diberikan untuk warga yang berani mengerjakan lahan di lokasi tanah dan bebatuan yang sering longsor karena terletak di lokasi terjal.
g> Upa Datu
Diberikan untuk perseorangan atau kelompok yang berperan memberikan petunjuk supra natural dan memimpin partonggoan (ritual) sewaktu membuka irigasi tersebut.
h> Upa Mate
Diberikan untuk menghormati seseorang yang dulunya mengalami kecelakaan kerja dan meninggal dunia saat pertama kali Manghali Aek.
i> Upa Tundal
Diberikan untuk perorangan atau lebih karena bertugas mengundang anggota marganya ikut berpartisipasi membuka irigasi. Sistem penyerahan Upa ini unik karena penerima lahan menunjuk sendiri lahan kosong dari bawah selangkangan kedua kaki.
j> Upa Baringin
Diberikan untuk perorangan yang berperan sebagai kepala dalam huta, sosor, dan lumban (Parbaringin).
k> Hauma Kongsi
Diberikan untuk pomparan yang tinggal di Tipang dan dikerjakan secara bergantian tiap tahun.
l> Tanding
Sisa lahan yang tidak mungkin lagi dibagi, terletak di kaki bukit yang curam, siapa saja boleh mengusahai lahan tersebut semampunya.
Keunikan sistem pemberian reward ini adalah, semua anggota Sihali Aek memperoleh upah yang setimpal.
Sudah kodratnya, seseorang cenderung lebih bertanggung jawab terhadap haknya. Dalam hal ini, upah-upah yang dibagikan secara adil, menjadi perekat keutuhan relasi para Sihali Aek sebagai masyarakat Tipang.
5] Regulasi Internal
Pada dasarnya, terdapat beberapa kesepakatan yang berlaku dalam tradisi Sihali Aek, seperti;
a> Upa atau tanah yang diupahkan tidak bisa dijual, tapi dondon (gadai), boleh.
b> Denda tersebut dibayar di muka, oleh Raja Jolo masing-masing marga. Hal ini (dugaan saya) dilakukan supaya para Raja Jolo melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan marganya.
---
Pesan utama dari nilai-nilai Manghali Aek ini secara keseluruhan adalah:
1] Musyawarah
Dalam amatan subyektif saya, potensi terbesar pemicu persoalan dalam persaudaraan adalah miskomunikasi.
Leluhur kita telah menunjukkan bagaimana cara mengatasi masalah kekurangan air saat itu sekaligus mengantisipasi monopoli tanah seminimal mungkin di kemudian hari.
Sistem kepemimpinan Sihali Aek dibangun atas dasar musyawarah. Meskipun telah ada tradisi lisan yang mangatur, segala sesuatu tetap harus diputuskan bersama.
2] Kerja Sama
Kerja sama telah menjadi ciri khas leluhur kita dengan bukti nyata yang masih bisa kita lihat hari ini.
3] Komunikasi yang Transparan
Tidak ada informasi yang disembunyikan, semua denda dibacakan, semua pelanggaran diberi sanksi, semua penanggung jawab dibebani sanksi apabila ada anggotanya melabrak aturan, semua itu dilakukan di hadapan semua peserta.
Apabila ada aturan yang dilabrak, pemimpin yang bersangkutan ikut dikenakan sanksi dan sanksi yang diberikan bersifat gradual, artinya tanggung jawab menyebar ke semua anggota dan sanksi yang diberi tidak menyakiti secara tiba-tiba, melainkan sanksi yang menggugah hati.
Ada kesempatan bagi pelabrak aturan untuk menebus kesalahan, ini bermakna perangkulan terhadap setiap anggota Sihali Aek.
---
Sejauh ini, apa yang membuat tradisi Sihali Aek tetap eksis hingga sekarang adalah:
1] Masyarakat Tipang hampir tidak bisa hidup di Tipang tanpa Sihali Aek.
2] Setiap anggota Sihali Aek diganjar Upa (upah) yang menguntungkan sekaligus dibebankan kewajiban yang mengikat.
Berbahagialah mereka yang menyambut kemajuan namun tetap memegang teguh nilai-nilai budayanya.
---
Betapa tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban yang ada di Desa Tipang.
Tradisi yang luar biasa bukan? Sebuah indigenous intelectual leluhur yang berkeyakinan Parmalim untuk kesejahteraan desanya.
Sama seperti tradisi-tradisi di berbagai penjuru negeri ini.
Tidak ada unsur paksaan, tidak ada eksploitasi SDM maupun SDA, yang ada justru perangkulan, kesamarataan dan ramah lingkungan.
Sungguh hanya kebijaksanaan yang tinggi sajalah yang mampu membuat sebuah sistem sedemikian rumit tapi detail dan teratur.
Dengan semua keunikan tersebut, tentu saja warisan leluhur ini menjadi obyek yang menarik perhatian para akademisi di bidang budaya.
Akademisi silih berganti menginterpretasi tradisi ini sesuai maqom dan disiplin ilmu mereka, mencoba mensintesa ritual Sihali Aek --mangan indahan siporhis yang diadakan setiap tahun-- dengan Pariwisata, semangat pembangunan ala milenial.
Dalam ritual mangan indahan siporhis, ketujuh Raja Jolo duduk bersama menikmati Indahan Naporhis yang sebelumnya dipersembahkan terhadap Namartua Debata (awalnya Mula Jadi Nabolon, sesuai keyakinan leluhur Malim) dari beras kualitas terbaik sebagai harapan supaya hasil pertanian Desa Tipang porhis (bernas) selalu.
Ritual yang awalnya dikultuskan, dikomodifikasi menjadi atraksi wisata dengan harapan, suatu saat mampu mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.
Komodifikasi, membuat tradisi Manghali Aek terbuka untuk berbagai macam kemungkinan ke depan. Kini tugas generasi muda Tipang semakin jelas, mengadaptasi semangat tradisi Sihali Aek dalam era New Normal tanpa harus tercerabut dari akar.
Yang terpenting, dengan adanya masyarakat pelaku tradisi Sihali Aek hari ini, menjadikannya sebagai tradisi gotong royong terakhir yang masih dilaksanakan secara rutin, sadar dan terorganisir di Toba.
Saya berharap suatu saat, pembangunan yang ada di Toba mengadopsi sistem tradisi Sihali Aek, untuk itu kita perlu diskusikan panjang lebar lagi.
---
Catatan:
Informasi dalam tulisan ini merupakan kekayaan intelektual masyarakat Tipang.
Saya sebagai generasi penerus tradisi Sihali Aek, di samping ayah saya Raja Jolo dari marga Lumban Toruan itu sendiri.
Apa yang tertulis di sini merupakan garis besar Sihali Aek, yang dihimpun melalui amatan pribadi, warisan orang tua, hingga penuturan dari beberapa tetua Tipang.