"Bicara tentang Tipang, tidak lepas dari Sihali Aek.
Bicara tentang Sihali Aek, tidak lepas dari BIUS atau Raja Napitu."
PARIWISATA
Akhir-akhir ini, semangat pembangunan mulai terlihat di lingkar Toba.
Khususnya di Tipang, hari ini pembangunan mengusung bendera Pariwisata.
Unik tapi nyata, sepertinya hanya karena Pariwisatalah Tipang ini akhirnya disentuh oleh pembangunan yang agak serius.
Dibandingkan sebelumnya, sejak abad-19 Toba telah dikomodifikasi sebagai ikon Sumut namun tidak terlihat perubahan yang signifikan.
 
Lantas aspek apa dari Tipang itu sendiri yang menarik dalam Pariwisata? 
 
Aspek apa lagi kalau bukan alam dan budayanya, sama seperti sudut-sudut lainnya di lingkar Toba.
 
Alam Tipang dianugerahi panorama luar biasa. 
 
Benar, Toba selalu menakjubkan dilihat dari sudut-sudutnya.
 
Sebut saja,
1. Dataran tinggi (dolok) Batu Maranak,
2. Punggung bukit (Gonting),
3. Semenanjung Sirungkungon,
4. Pulau mungil (Pulo Simamora),
5. Air terjun Sigotagota dan
6. Sungai Sipultak Hoda, serta
7. Tanah sedikit miring yang terhempas ke tepi Danau Toba... 
 
Sungguh latar yang sempurna bagi kehidupan leluhur Toga Simamora dan Sihombing, keluarga pertama yang berdiam di Tipang.
 
MANUSIA TIPANG
 
Interaksi leluhur dengan alam Tipang melahirkan sejarah otentik seperti,
1. Sejarah Batu Maranak,
2. Sejarah Nahornop yang penuh perjuangan,
3. Sejarah Sungai Sipultak Hoda dengan air terjun Sigotagota,
4. Sejarah Pulo Simamora,
5. Sejarah tanah Janji tanah perbatasan dengan Raja Marbun dan Kerajaan Singamangaraja di Bakara,
serta
6. Sejarah-sejarah lainnya yang bernilai tinggi bagi generasi penerus Tipang seperti Raja Sumba II,
7. Siamak Pandan Nauli dan kedua anaknya,
8. Toga Simamora dan
9. Toga Sihombing di Sitedak.
 
Setidaknya, hingga saat ini ada dua peninggalan utama yang masih eksis sekaligus hidup (dilaksanakan) di Tipang.
1. Relasi kuasa BIUS atau Raja Napitu,
2. Tradisi Sihali Aek.
 
Beberapa kali saya mendengar pertanyaan "bagaimana hubungan BIUS Raja Napitu dengan Sihali Aek?"
 
Untuk menyingkap korelasi di antara kedua institusi ini, tentu kita harus mengetahui apa itu Sihali Aek dan BIUS (Raja Napitu) bukan?
 
BIUS / RAJA NAPITU TIPANG
 
Batak, sebagaimana etnis lainnya, memiliki sistem kekerabatan tersendiri.
 
Kami menyebutnya "partuturan",di mana dasar partuturan adalah Dalihan Natolu.
 
Dalihan Natolu inilah yang menjadi perekat sekaligus "pembatas" ruang sosial masyarakat Toba.
 
Manusia, adalah individu yang otonom, punya otoritas mutlak atas dirinya sendiri. 
 
Manusia, juga makhluk yang memiliki emosi dan rasio, yang mana emosi dan rasiolah yang menggerakkan (tindakan) manusia.
 
Nyatanya, emosi dan rasio memiliki ekspresi yang berbeda-beda, perbedaan ini menuntut ruang dan waktu yang berbeda pula.
 
Kalau seseorang salah menempatkan emosi dan rasio, di sana muncul potensi konflik.
 
Maka untuk mengantisipasi konflik, leluhur menciptakan ruhut-ruhut sebagai rel untuk dilalui, berupa aturan/panduan hidup/falsafah yang mengawasi emosi dan rasio (perilaku) masyarakat.
 
Salah satu rel atau falsafah itu adalah Dalihan Natolu, di mana maknanya bisa diterjemahkan sebagai,
1. Menghormati atasan (dalam struktur),
2. Semua manusia setara, dan
3. Mengayomi bawahan (dalam struktur) serta membela yang lemah.
 
Pelaksanaan falsafah Dalihan Natolu sering keluar dari rel, untuk itulah harus ada yang mengawasi jalannya masyarakat. 
 
Yang mengawasi masyarakat harus memiliki kecakapan tertentu, seperti
1. Kemampuan membaca alam (indigeneus intellectual),
2. Kemampuan beretorika,
3. Kharismatik,
4. Kecakapan menangani konflik,
5. Sehat secara psikis maupun fisik,
6. Reputasi tidak cacat,
7. Tidak memiliki hutang secara adat,
8. Dll.
 
Singkat cerita, pribadi-pribadi terpilih merupakan yang terbaik dari setiap marganya. 
 
Mereka lalu diangkat dan disahkan menjadi BIUS.
 
Perlu ditekankan bahwa BIUS BUKAN RAJA, meskipun nampaknya kualifikasi seorang BIUS nyaris menuntut sosok sempurna. 
 
Posisi seorang raja bisa sejajar dengan BIUS, bisa juga lebih tinggi. 
 
Ketika Toba tidak lagi menganut sistem kerajaan, maka BIUSlah yang menjadi raja.
 
Raja adalah individu, sementara dalam Toba Na Sae, Sitor Situmorang mendeskripsikan BIUS sebagai,
"Paguyuban dengan kekuasaan dan pemerintahan meliputi wilayah tertentu, sebagai penguasa irigasi, keagamaan tertib hukum dan pengayom hukum pertanahan (hak ulayat) di mana upacara-upacara pertanian dalam BIUS dilaksanakan oleh organisasi Parbaringin."
 
Begitu juga di Tipang, BIUS Tipang disebut Raja Napitu karena ada tujuh marga "hasuhuton" atau pemilik kampung (Purba, Manalu, Debataraja, Silaban, Lumbantoruan, Nababan dan Hutasoit) yang tinggal di Tipang, di luar itu ada raja marga Boru (Pandiangan, Pasaribu, Sitinjak, Rajagukguk, dll).
 
Untuk menjaga status BIUS hari ini tidak mudah, bagaimana tidak, seperti pepatah "ijolo siaduon, ipudi sipaimaon (di depan untuk dikejar, di belakang untuk ditunggu)" harus dan wajib mengatakan kebenaran.
 
Harus bisa menjadi teladan di tengah situasi yang kian pragmatis.
 
BIUS juga manusia, banyak hal yang menyebabkan BIUS pada akhirnya mengalami kemunduran semangat Habiuson dari dalam dan dari luar diri mereka.
 
Hadirnya hukum positif oleh negara yang mengatur masyarakat, menjadi salah satu faktor eksternal yang berdampak signifikan terhadap melemahnya supremasi BIUS Toba, termasuk Tipang.
 
Kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi mengubah orientasi masyarakat hari ini, jika dulu manusia taat pada supremasi BIUS dan Raja-raja, sekarang masyarakat bisa memperoleh sendiri teknologi dan informasi apapun yang dibutuhkan untuk menjalankan hidup. 
 
Perlahan tapi pasti, dualisme supremasi BIUS dan hukum positif + teknologi, saling berebut tempat dalam kehidupan masyarakat.
 
Idealisme yang menang tentu saja hukum positif dan teknologi karena negara secara terus-menerus mengintervensi hingga ke bilik terdalam urusan masyarakat.
 
Tidak ada lagi ruang sosial yang tidak dijamah oleh hukum positif dan teknologi, dari kota hingga desa terpencil sekalipun.
 
Seiring dengan menyempitnya wilayah kekuasaan BIUS, otomatis peran dan kharisma BIUS dalam masyarakat pun sedikit demi sedikit terlupakan, yang mana pada akhirnya, status mereka semakin berkurang dari generasi ke generasi.
Tidak heran jika di berbagai sudut Toba, hari ini BIUS sudah banyak yang nonaktif atau bahkan tidak ada.
Kendati demikian, peran BIUS hari ini dalam keseharian masyarakat Tipang tetap berlaku dalam pelaksanaan adat dan segala urusan yang melibatkan kepentingan umum Tipang.
 
SIHALI AEK
 
Secara singkat, Sihali Aek merupakan sekelompok masyarakat yang bertanggung jawab atas irigasi tradisional di Desa Tipang. 
 
Kelompok ini telah ada sejak awal sejarah pertanian ada di Desa Tipang. 
 
Kelompok ini memiliki struktur dan instrumen tersendiri untuk mengatur dirinya, berupa sistem kepemimpinan yang terlepas dari Dalihan Natolu serta istrumen punishment - reward yang unik.
 
Di daerah lain sekitar Toba, istilah Sihali Aek dikenal dengan istilah Raja Bondar, dengan tanggung jawab yang hampir sama, ditahbiskan oleh BIUS sebagai penanggung jawab irigasi.
 
Pada tulisan-tulisan sebelumnya, saya sudah sering mencoba membahas sedikit-demi sedikit mengenai tradisi Sihali Aek. Jadi, kalau ingin keterangan lebih lengkap, boleh dibuka post saya sebelumnya tentang Sihali Aek.
 
EPILOG
 
Korelasi struktural antara BIUS dengan Sihali Aek semacam hubungan antara MPR dengan DPR. Di mana majelis adalah BIUS dan dewan perwakilan adalah Sihali Aek, dalam hal ini dewan perwakilan Sihali Aek disebut Raja Jolo (pemimpin atau perwakilan marga).
 
Perbedaannya, di Tipang, untuk setiap kegiatan yang berurusan dengan irigasi ditangani oleh Sihali Aek.
 
Sihali Aek itu sendiri memiliki tingkatan tanggung jawab, mulai dari Parhara, Turpuk, hingga Raja Jolo. 
 
Untuk kejadian-kejadian spesifik seperti bencana yang tidak mampu ditangani oleh Sihali Aek, barulah BIUS diundang turun tangan menggerakkan seluruh masyarakat Tipang.
 
Sebaliknya, untuk setiap kegiatan BIUS, Raja Jolo Sihali Aek wajib dilibatkan dengan dasar "air adalah kunci kehidupan, kalau air bermasalah saat acara penting, bagaimana jadinya?"
 
Untuk itulah Sihali Aek harus tetap terlibat dalam setiap kegiatan dalam Desa yang koordinir oleh BIUS."
 
Selain perbedaan nama, perbedaan Sihali Aek Tipang dengan Raja Bondar adalah ritual tahunan, sejarah awal, tata kelola dan tentu saja, masih eksis hingga sekarang.
 
***
Itulah sekilas tentang korelasi atau hubungan BIUS dengan Sihali Aek di Tipang.
 
Saya sangat bersyukur ketika para orang tua kami di Tipang mendukung apa yang saya lakukan ini sebagai usaha meneruskan tradisi.
 
Catatan:
Informasi dalam tulisan ini merupakan kekayaan intelektual masyarakat Tipang. 
 
Saya sebagai generasi penerus tradisi Sihali Aek, di samping ayah saya Raja Jolo dari marga Lumban Toruan itu sendiri.
 
Apa yang tertulis di sini merupakan garis besar ke-BIUS-an dan Sihali Aek, yang dihimpun melalui amatan pribadi, warisan orang tua, hingga penuturan dari beberapa tetua Tipang.