*Argumentasi saya tadi pagi dalam diskusi di Sanglah Institute

***
(sekelumit analisis wacana kritis).
Beberapa kali aku membaca dan mendengar respon teman-teman soal ketepatan penggunaan terma "jatuh" dalam kalimat "jatuh cinta" yang seharusnya kata mereka "bangun".
Boleh dikatakan, ini indikasi pemahaman oposisi biner, hitam putih atau lettered.
Kalau aku sendiri sih, tergantung konteks kalimatnya...
Secara pribadi, dalam kontes percintaan, aku memaknai "jatuh" dalam kalimat jatuh cinta itu sebagai "menyerah".
 
Artinya menyerah dalam "kondisi mencintai atau dicintai".
 
Dan definisi "menyerah" ini tergantung orangnya lagi. 
 
Setidaknya ada dua kubu besar masyarakat dalam menanggapi fenomena jatuh cinta, 
 
1. Kubu yang menganggap cinta itu tidak rasional, dan
 
2. Kubu yang menganggap cinta itu rasional.
 
Kaitannya, kubu yang menganggap cinta itu rasional menyebut penggunaan kata "jatuh" kurang tepat untuk fenomena "jatuh cinta" KARENA "kehadiran cinta" itu seyogianya "membangun" atau semacamnya.
 
Dugaanku, kubu yang menganggap cinta irasional, tidak terlalu mempersoalkan kedua terma "jatuh" atau "bangun" ini.
 
Pun pada akhirnya, fenomena "jatuh cinta" tidak dapat dimaknai dari sisi linguistik saja.
 
Dalam hal ini, aku sepakat dengan Sartre, eksistensi mendahului esensi; lihat dulu perjalanan cinta orang yang dimaksud, jika terindikasi ada pihak yang dirugikan (destruktif) dalam pihak terkait, maka dapat disimpulkan bahwa "jatuh" cinta bagi yang bersangkutan itu sama maknanya dengan "jatuh" dalam logika publik.
 
Nietzsche menemukan betapa genealogi standar moralitas publik pun pada dasarnya dibentuk oleh wacana dominan, dan wacana dominan cenderung melanggengkan status quo dominasinya.
Wacana dominan dilontarkan ke ruang publik dalam bahasa.
 
Di sisi lain, Wittgenstein menunjukkan betapa bahasa yang kita gunakan sehari-hari itu bersifat terbatas, seperti sifat oposisi biner yang tidak selalu bisa menjelaskan semua situasi, ekspresi atau orientasi manusia.
 
Bagi sebagian pelaku BDSM misalnya, orientasi BDSM adalah hal wajar bagi mereka saat publik melihatnya sebagai sebuah penyimpangan orientasi seksual.
 
Artinya, betapa relatifnya definisi "jatuh atau bangun" dalam kalimat "jatuh cinta" itu.
 
Kita hanya melanggengkan satu pihak oposisi biner kalau membela satu definisi.
 
Itulah yang dikritik tajam oleh Foucault di dunia Barat pada abad -19.
 
Somehow, kritik Foucault (bersama yang lain) memberi dampak dan terbukti sekarang, beberapa negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis.
 
Kalau aku sih tetap, soal cinta, "eksistensi mendahului esensi."
Kalo praktik (eksistensi) cinta dua insan itu konstruktif, berarti esensi cinta mereka benaran "(mem)bangun".
 
Sebaliknya, kalo praktik (eksistensi) cinta mereka destruktif, berarti esensi cinta mereka benar-benar "jatuh".
 
Kalau "sastra" hari ini dinilai cenderung menyoroti "kemuraman" praktik cinta itu, aku justru melihatnya sebagai fenomenologi.
 
Kalau masuk ke fenomenologi, yang dibicarakan termasuklah soal selera publik.
Dan selera publik beririsan dengan ekses spat capitalismus...