Ya, begitulah adanya, dialektika sejarah selalu menyisakan satu pihak yang dominan.
Fakta hari ini kita bergantung pada obat tertentu, produk ilmu pengetahuan yang katanya modern dan selalu diasosiasikan dengan Barat.
***
BOEKOE LAKLAK
Berbagai tumbuhan dan ramuan tertentu yang punya khasiat setelah leluhur mempelajarinya sekian lama, di-kurasikan lalu diwariskan dari generasi ke generasi lewat lisan maupun literatur klasik yang orang Toba menyebutnya "boekoe laklak".
Bukan sekedar mitos atau cerita isapan jempol saja, buktinya kita melihat,
1. Gorga berusia ratusan tahun, bahan pewarnanya dari ramuan lokal.
2. Simbora, yang biasanya digunakan sebagai bahan peluru dan instrumen pengeksekusi tumbal ritual, bahan dan cara meraciknya telah lama diketahui leluhur.
3. Ulos-ulos berusia puluhan tahun, bahan dan pewarnanya dari ramuan lokal.
4. Boekoe Laklak itu sendiri, ada yang terbuat dari bambu, kayu, tulang, dan kulit yang telah diproses sedemikian rupa.
5. Dll.
Belum lagi warisan "tak benda" berupa tradisi, pengetahuan akan obat-obatan yang masih kita ingat hingga hari ini.
Para peneliti, baik dari luar maupun dalam negeri meyakini, dalam buku-buku "laklak" terkurasi resep ramuan-ramuan alami.
Tentu, buku "laklak" tidak hanya sekedar berisi ramuan tradisional atau nama-nama tumbuhan obat, juga berisi pengetahuan-pengetahuan yang mungkin kita tidak kita ketahui ternyata ada, selain banyak isi buku "laklak" yang belum bisa diterjemahkan.
***
FAKTISITAS (KETERLEMPARAN) HEIDEGGER
Dalam situasi seperti sekarang, kita diperhadapkan dengan statistik orang-orang yang jatuh sakit dan meninggal karena jasad renik yang lagi viral.
Di titik ini, meminjam istilah Heidegger, saya melihat kita sedang terlempar dalam situasi yang benar-benar tidak kita inginkan.
Hampir tak mungkin kembali ke kondisi seperti semula lagi.
Kita kelabakan, skala dunia, nasional hingga daerah.
Delapan bulan sudah, intimidasi covid-19 belum berlalu.
Tidak sedikit media-media justru memperparah keadaan dengan menampilkan statistik korban covid-19 yang terus meningkat.
Tidak sedikit media-media kredibel menunjukkan data yang saling kontradiksi satu sama lain.
Mungkin media tidak memiliki statistik massa yang terpukul secara mental oleh kepanikan pandemik, cukup nyata, dalam level yang berbeda-beda.
Sebuah ekses yang subtil dari spat capitalismus, dengan caranya yang begitu elegan, media berhasil membangunkan ketakutan publik yang luar biasa.
Dan di titik tertentu, ketakutan-ketakutan yang terus diproduksi, ditambah faktor-faktor lain, dapat melemahkan imunitas tubuh.
Framing, ketakutan, statistik dan vaksin... Itu yang mengintimidasi masyarakat.
Seketika, kita seolah menjadi bergantung terhadap obat tertentu dan vaksin yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan vaksin besar.
Tepat di titik ketergantungan itu, publik hampir tidak bisa melihat bagaimana cara kerja suatu "sistem" (Oedipus) yang tak terlihat itu, sejak beberapa abad lalu telah memelihara, mengendalikan dan mengkomodifikasi manusia itu sendiri.
***
EPILOG
Jika awalnya kita memiliki literatur yang memadai soal obat berbagai jenis penyakit, apakah covid-19 lebih mematikan dari penyakit-penyakit sebelumnya yang pernah ditaklukkan oleh leluhur?
Mungkin kita tidak bisa dalam sekejab mengambil Boekoe Laklak untuk menemukan resep obat di dalamnya, atau setidaknya kalau pun bisa, tidak dalam sekejab bisa diwujudkan sekarang.
Syukurlah kita masih memiliki sisa-sisa pengetahuan itu yang diwariskan secara lisan.
Pertama dan mendasar adalah mindset positif, bahwa tubuh memiliki mekanisme alami yang diciptakan Tuhan mampu menyembuhkan diri manusia sendiri.
Ketiga, obat-obatan, khususnya yang alami.
Keempat, sinar matahari pagi.
Kelima, nutrisi yang cukup, kalau memungkinkan untuk saling membantu, menerapkan pola hidup seimbang dan mengonsumsi berita sehat.
Last but not least, lingkungan sosial yang saling support, termasuk kurator ramuan tradisional untuk generasi mendatang.
Horassss...