#229. Teori Disposisi

Sebaiknya, pembacaan manusia terhadap realitas yang telah terdokumentasi dari Thales hingga Zizek harus diperkenalkan pada setiap peserta didik.
Salah satu persoalan penting dalam ruang interaksi antar manusia adalah tidak hadirnya jembatan antara suatu epistem dengan epistem lainnya sehingga fanatisme dan respon sejenisnya mendominasi interaksi.
Metode untuk menjembatani ketidakhadiran ini saya sebut teori disposisi.
Lebih lanjut mengenai teori disposisi akan dijelaskan dalam post-post mendatang.

#228. Gejala Laten Pemimpin Rohani Era Posmo; Nyinyir

Bagaimana jika

seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan (hanya) membaca-baca buku yang ditulis orang lain, -

mengkritik

- hasil temuan seorang peneliti berpengalaman dan profesional yang berusaha mengontekstualkan teks ajaran suci?

#227. Minat dan Daya Baca


... beberapa kali peneliti lokal maupun luar, menyebut literasi khususnya "membaca", masih lemah di masyarakat kita.
Lantas tanggapan kita pun antara "setuju" atau "tidak".

#226. Radikalisasi Positivisme


Berkat kemajuan teknologi, sekarang mudah membedakan tokoh-tokoh masyarakat seperti pemimpin agama atau guru yang meradikalisasi para pendengarnya yang tidak kritis melalui ajaran-ajaran yang tidak berimbang.

#225. Aliran Sejarah

Dulu, di sini
Iklim bagus, tanah subur
Dengan kerja sedikit dan mikir sedikit sudah bisa hidup makmur; zona nyaman. Disebut tanah surga, kolam susu, kepingan surga

#224. Zonasi

Pada dasarnya, keluarga-keluarga yang mandiri tidak terpengaruh oleh zonasi dan semacamnya. Tapi berapa persenlah keluarga mandiri di Indonesia? Itu sebabnya regulasi seperti zonasi, perlu.
Namun jika SD, SMP & SMA berlakukan sistem zonasi, dengan alasan yang sama, Perguruan Tinggi pun (baiknya) menyusul supaya sinkron dan otonom. Perlahan-lahan output dan kurikulum saling menyesuaikan.
Selama ini, SDM terbaik terpusat di pulau Jawa, dikarenakan Perguruan Tinggi terbaik seperti ITB, UGM, UI, UPI, dll ada di sana.
pendidikanbudaya4.0

#223. Hierarki Maslow, Kebijaksanaan dan Paradoks Pengabdian


Dalam teori hierarki kebutuhan Maslow, kita memahami bahwa kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri.
Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri muncul setelah kebutuhan-kebutuhan dasar, makan--minum, hidup nyaman, berkembang biak, dan terhormat, terpenuhi.
Dalam bahasa kita, manifestasi aktualisasi diri adalah "mengabdi".

#222. Ende Panungguli


Songon na somal, rap mangopi ma dohot laeta Edison Manalu di partungkoan Air Terjun Janji na di haroroan desa Tipang on.
Di nasahali i, adong pengunjung na ro sian luat sileban.
Dung sae maridi dohot mangida hinauli ni aek i, mangopi jala marende ma attong nasida.
Hira-hira dua meter ma holang ni parhundul nami.

Godang do ende diendehon nasida, alai lak soadong na binoto judulna nanggo apala sada. Sinukkun do nian judulna.
Molo dang salah parningotan niba, pandok nasida "Siantar Balige, Tinitip Sanggar dohot Ramba Naposo", akka ima judul ni ende i.
Alai...
Hona hian hurasa tu pusu-pusu niba, poda na di bagas ende i do.
Ima taringot tu (1) godang hita baoa saonari naso mangharingkothon Habatahonta dohot (2) dang tardok be Anak Ni Raja.

#220. Pamer Buku

Haruki Murakami, "jika hanya membaca buku yang dibaca orang pada umumnya, maka hanya mengetahui apa yang diketahui orang pada umumnya."
Abraham Lincoln, "aku tidak suka orang itu, aku ingin tahu buku apa yang dia baca."
Salah satu kesimpulan untuk premis di atas, "pamer koleksi buku pribadi, memudahkan seseorang mengejar maksud Anda."

#219. Adat Batak dalam Teori Kritis Habermas


Kita menyukai order (keteraturan), selain karena kita berlindung dalam order, kita adalah produk dari order itu sendiri.
Contohnya, pesta pernikahan secara adat, satu dari beberapa order yang masih mengikat masyarakat dalam penanda Kebatakan.