Kita menyukai order (keteraturan), selain karena kita berlindung dalam order, kita adalah produk dari order itu sendiri.
Contohnya, pesta pernikahan secara adat, satu dari beberapa order yang masih mengikat masyarakat dalam penanda Kebatakan.

Dalam pesta adat Batak, serangkaian aturan (order) dijalankan berurutan untuk menghadirkan masing-masing komponen Dalihan Na Tolu; Hula-hula, Boru dan Dongan Tubu.
Siapa yang tidak tahu peran Dalihan Na Tolu dalam posisinya sebagai orang Batak?
Berbeda halnya dengan modernitas yang dikritik keras pemikir teori Kritis. Modernitas sebagai budaya baru yang kapitalistik, kontraposisi dengan adat Batak yang orientalistik.
Kalau kita ingin membaca pertarungan makna dan nilai antara budaya Batak dengan modernitas dalam teks, datanglah ke pesta Batak seperti pernikahan, ongkal holi, pasahat sulang-sulang, namonding, dst...
Pengalaman saya sendiri, ketika Nenek dari Ayah saya meninggal tahun 2014 lalu, keluarga dari pihak Namboru (ito dari kakek) hadir di pesta hanya 3 jam lalu pulang dari tengah acara dengan alasan tugas dinas mereka sebagai pegawai negara (PNS) di Pematang Siantar.
Terlepas dari apapun alasan mereka, keluarga dari Namboru dan lae-lae itu sedang menyangkal realitas bahwa mereka adalah bagian dari keluarga, yang mungkin "terjajah" oleh modernitas. Kita bisa kaji banyak alasan yang masuk akal mengenai ijin dari kantor supaya kepulangan mereka tidak ingin menunjukkan seolah mereka lupa bahwa mereka akan kembali ke keluarga suatu saat nanti. Kecuali memilih untuk tidak berurusan lagi dengan keluarga secara tradisi.
Keluarga tentu memaklumi hal itu, saya yang tidak.
Lebih lanjut di balik realitas kepulangan mereka, ada struktur yang sedang bertarung; tradisi dan modernisme.
***
Singkat cerita, sering budaya Batak "dikalahkan", terlihat dari adanya modifikasi terhadap beberapa unsur adat itu sendiri yang "dipaksa" menyesuaikan diri terhadap modernitas seperti efisiensi waktu yang sering dipersoalkan oleh masyarakat Batak dari kalangan PNS (pegawai negeri sipil).
Sebab-sebab dari kekalahan itu bermacam-macam, butuh pembahasan tersendiri.
Fenomena semacam inilah yang dikritik oleh Marcuse dan Habermas melalui teori kritis atas modernitas yang sering menghegemoni tradisi. Baik melalui birokrasi bahkan melalui perhelatan tradisi itu sendiri seperti disebut diatas.
Barangkali, perlu dipikirkan untuk menghidupkan budaya sebagai "mesin" sebagaimana birokrasi memaksa masyarakat menjual waktu pada kapitalisme. Walau hal ini tidak menutup kemungkinan nantinya tradisi berubah menjadi monster baru. Bukankah begitu siklus setiap sistem? Berlomba menjadi struktur terkuat lalu saling hegemoni?
Tradisi, tidak sekedar formalitas atau identitas, tidak.
Ia adalah struktur yang tidak terjangkau oleh kesombongan modernitas.
Ia menjaga kita tidak berubah menjadi robot yang dingin cuek atau monster yang saling memangsa, karena tradisi masih tertanam dalam kesadaran kolektif kita walau sering kita kaburkan dengan istilah humanismelah, apalah...
Tradisi masih mengikat masyarakat Batak secara strukturalis namun setara."
Bisa bayangkan itu, belahan jiwa yang selalu 'kusebut dalam doa?
😄 Horas
- Pulo Sibandang, 06/07/2019