... beberapa kali peneliti lokal maupun luar, menyebut literasi khususnya "membaca", masih lemah di masyarakat kita.
Lantas tanggapan kita pun antara "setuju" atau "tidak".

Para pengamat literasi menyederhanakan; pada dasarnya "minat" baca masyarakat kita terkategori tinggi, "daya" bacanyalah yang rendah.
Maksudnya,
"Minat" baca yang tinggi terlihat dari respon (like, komentar dan share) warganet yang antusias terhadap konten-konten SARA maupun konten-konten bombastis yang mengundang respon "wow" meskipun tidak mengandung informasi signifikan bahkan sering menyesatkan (hoaks) di dunia maya.
Sebaliknya "daya" baca yang rendah terlihat dari respon warganet yang kurang antusias terhadap konten-konten yang mengandung informasi signifikan, konten-konten yang membutuhkan telaah 5W+1H.
Masuk akal memang, mengingat berbagai faktor-faktor relevan di tanah air, tantangan kita masih di tahap fundamental; ekonomi. Relevan dengan isu-isu yang kita hadapi, sentimen SARA.
Secara taksonomi, kebutuhan literasi lebih tinggi dari ekonomi WALAUPUN dalam konteks tertentu keduanya dapat dipandang "setara" dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Tidak dapat dipungkiri, dalam kondisi melek literasi, maka ekonomi pun cenderung membaik, namun pertanyaannya, "bagaimana menstimulus masyarakat ekonomis untuk merasa butuh literasi yang bagus?"
Tantangan pun naik setingkat demi setingkat.
Harus kita akui negara kita sedang berbenah lebih serius dari sebelum-sebelumnya meski masih terdapat kebablasan di sana-sini.
Kita semua paham, butuh waktu yang panjang untuk mengubah itu semua. Namun, selama kita sinergi, tidak ada yang tak mungkin.