Berkat kemajuan teknologi, sekarang mudah membedakan tokoh-tokoh masyarakat seperti pemimpin agama atau guru yang meradikalisasi para pendengarnya yang tidak kritis melalui ajaran-ajaran yang tidak berimbang.


Radikalisasi yang dimaksud di sini melampaui konteks agama, yaitu radikalisasi intelektual, positivisme.
Masyarakat atau intelektual yang terpapar positivisme dikenal dari kecenderungannya memastikan segala sesuatu secara hitam-putih dan mengelompokkan segala sesuatu dalam dua kutub, misalnya:
1. Kalau bukan kawan, pasti lawan.
2. Kalau bukan siang, pasti malam.
3. Kalau bukan panas, pasti dingin.
4. Dll
Mereka mengabaikan fakta-fakta lainnya, bahwa:
1. Di antara kawan dan lawan ada independen & politikus.
2. Di antara siang dan malam, ada pagi dan sore.
3. Di antara panas dan dingin, ada hangat dan suam kuku.
4. Dll
Positivisme diwarisi dari pemikir modern, Hobbes dkk.
Walaupun modernisme telah berkontribusi besar dalam kemajuan peradaban manusia, namun kejumudannya tidak mampu menjangkau aspek-aspek kehidupan yang lebih dinamis dan plural.
Keterbatasan itu membuat modernisme dikritik keras oleh Popper dkk sehingga lahirlah postmodernisme.
Pengajaran yang berimbang dari tokoh-tokoh masyarakat seperti pemimpin agama dan guru, termasuk faktor penentu pluralitas masyarakat dan kaum intelektual.