To the point aja ya

  1. Tuhan. Semakin menanjak usia, semakin banyak menyelami kehidupan, dengan semua yang manis dan pahit, asli dan palsu, semua mengantarkanmu ke persimpangan-persimpangan yang monumental. Adakah Tuhan? Kenapa IA tidak pernah menunjukkan diri di tengah kegundahan dunia saat ini?
  2. Manusia. Sebagai makhluk paling cerdas, tak jarang kecerdasannya menjadikannya makhluk paling destruktif dalam rantai makanan. Setiap manusia dewasa memelihara monster dalam diri mereka yang bisa bangkit sewaktu-waktu. Monster-monster dalam diri manusia inilah yang memicu murka Tuhan. Pun demikian, tetap Tuhan yang disalahkan.
  3. Dunia. Dunia ini tempatmu melarikan diri dan dikutuk dengan paradoks kebebasan. Kau bisa sembunyi dari dunia ini, tapi hanya masalah waktu sebelum dunia menemukanmu.
  4. Negara. Aku mencintai negara ini, tidak perlu kau ragukan itu. Aku pernah mengabdi selama satu tahun di tempat yang sama sekali tidak kukenal, demi mencerdaskan anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Tapi aku benci para oknum-oknum pejabat bajingan yang menjalankan negara ini, yang menjadi pejabat bukan karena kompetensi lantas melahirkan kebijakan-kebijakan konyol dan merugikan masyarakat, para pejabat yang terang-terangan membohongi publik dengan silat lidah, mengeruk kekayaan bumi pertiwi untuk kepentingan pribadi. Kau terjebak dalam negara di mana pejabat-pejabatnya secara tak langsung memaksamu menjadi bagian dari sistem yang korup. Kau bisa melihat bagaimana pejabat yang bersih dikucilkan bahkan disingkirkan dari sistem.
  5. Masyarakat. Kau terjebak dalam lautan manusia-manusia munafik yang tidak ada rasa malu sedikitpun menyatakan dirinya bersih di saat yang sama ia menjadi pemimpin dengan cara membeli suara. Semua manusia tahu mana yang salah dan mana yang benar, tapi dalam pelaksanaannya, mereka semua sepakat merampok negara ini secara berjamaah. Apakah kesemua kemunafikan ini akan tetap kita biarkan? Tidak mungkin.
  6. Keluarga. Bukti cintamu pada keluarga adalah memberikan waktumu bersama mereka. Kekayaan bisa dicari, kebersamaan dalam suka duka adalah hadiah terindah yang bisa kau beri pada orang tua.
  7. Diri Sendiri. Menjadi dewasa adalah kutukan buah simalakama, terkucil atau menjadi bagian dari sistem yang korup dan saling intai satu sama lain.
  8. Cinta. Soal cinta, kita semua masih pemula, bung.
  9. Uang. Kau pintar dan ingin bangun usaha, tapi tak terwujud karena tak punya modal. Kau idealis dan ingin membangun desamu, kau kalah karena sainganmu mengguyur sejuta per kepala. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang, banyak hal bisa kau beli; jabatan, kebenaran, sejarah, bahkan undang-undang.
  10. Inspirasi. Just do it, inspirasi kadang muncul sendiri di saat tak terduga, tapi sering juga muncul setelah dipancing.
  11. Makna dan Tujuan Hidup. Teruslah bergerak, berkarya, berguna bagi orang lain. Saat kita bergeraklah makna hidup terbentuk.
  12. Sahabat. Sulit menemukan sahabat di era ini, jadilah sahabat bagi seseorang.
  13. Jabatan. Kita ini adalah serigala-serigala yang berebutan kursi, karena kursi memiliki legitimasi menguasai lahan di negeri ini. Jabatan adalah permainan merampok negara secara ramai-ramai. Mulai dari pemimpin paling kecil, kepala desa, camat, bupati, gubernur hingga menteri, bahkan presiden. Dan ketika kamu tertangkap, itulah namanya korupsi.
  14. Korupsi. Nasib sial yang menimpamu saat aksi rampokmu diketahui publik.
  15. Pekerjaan. Tanpa pekerjaan, kamu bukan siapa-siapa.  Pekerjaan menentukan seberapa harga dirimu di mata orang-orang. Itu nilai yang dipahami masyarakat di sekitarmu.
  16. Covid-19. Sudah sekian abad kita manusia bertahan dengan segala tantangan eksistensial yang pernah mengintai, kenapa tiba-tiba virus yang satu ini seolah tidak pernah ada sebelumnya hingga belum ada obatnya? Yang mana sebenarnya bentuk asli virus ini? Kecerdasan seperti apa yang mendukung virus ini hingga bisa bermutasi beberapa kali dalam kurun waktu setahun ini? Jika memang ini direncanakan oleh pihak tertentu, setidakberdaya itukah negara-negara di dunia tidak berdaya menentangnya? Intinya, ternyata kita bukan apa-apa di hadapan jasad renik yang satu ini, atau di hadapan para desainer di balik semua ini.