#268. 2020

To the point aja ya

  1. Tuhan. Semakin menanjak usia, semakin banyak menyelami kehidupan, dengan semua yang manis dan pahit, asli dan palsu, semua mengantarkanmu ke persimpangan-persimpangan yang monumental. Adakah Tuhan? Kenapa IA tidak pernah menunjukkan diri di tengah kegundahan dunia saat ini?
  2. Manusia. Sebagai makhluk paling cerdas, tak jarang kecerdasannya menjadikannya makhluk paling destruktif dalam rantai makanan. Setiap manusia dewasa memelihara monster dalam diri mereka yang bisa bangkit sewaktu-waktu. Monster-monster dalam diri manusia inilah yang memicu murka Tuhan. Pun demikian, tetap Tuhan yang disalahkan.
  3. Dunia. Dunia ini tempatmu melarikan diri dan dikutuk dengan paradoks kebebasan. Kau bisa sembunyi dari dunia ini, tapi hanya masalah waktu sebelum dunia menemukanmu.
  4. Negara. Aku mencintai negara ini, tidak perlu kau ragukan itu. Aku pernah mengabdi selama satu tahun di tempat yang sama sekali tidak kukenal, demi mencerdaskan anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Tapi aku benci para oknum-oknum pejabat bajingan yang menjalankan negara ini, yang menjadi pejabat bukan karena kompetensi lantas melahirkan kebijakan-kebijakan konyol dan merugikan masyarakat, para pejabat yang terang-terangan membohongi publik dengan silat lidah, mengeruk kekayaan bumi pertiwi untuk kepentingan pribadi. Kau terjebak dalam negara di mana pejabat-pejabatnya secara tak langsung memaksamu menjadi bagian dari sistem yang korup. Kau bisa melihat bagaimana pejabat yang bersih dikucilkan bahkan disingkirkan dari sistem.
  5. Masyarakat. Kau terjebak dalam lautan manusia-manusia munafik yang tidak ada rasa malu sedikitpun menyatakan dirinya bersih di saat yang sama ia menjadi pemimpin dengan cara membeli suara. Semua manusia tahu mana yang salah dan mana yang benar, tapi dalam pelaksanaannya, mereka semua sepakat merampok negara ini secara berjamaah. Apakah kesemua kemunafikan ini akan tetap kita biarkan? Tidak mungkin.
  6. Keluarga. Bukti cintamu pada keluarga adalah memberikan waktumu bersama mereka. Kekayaan bisa dicari, kebersamaan dalam suka duka adalah hadiah terindah yang bisa kau beri pada orang tua.
  7. Diri Sendiri. Menjadi dewasa adalah kutukan buah simalakama, terkucil atau menjadi bagian dari sistem yang korup dan saling intai satu sama lain.
  8. Cinta. Soal cinta, kita semua masih pemula, bung.
  9. Uang. Kau pintar dan ingin bangun usaha, tapi tak terwujud karena tak punya modal. Kau idealis dan ingin membangun desamu, kau kalah karena sainganmu mengguyur sejuta per kepala. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang, banyak hal bisa kau beli; jabatan, kebenaran, sejarah, bahkan undang-undang.
  10. Inspirasi. Just do it, inspirasi kadang muncul sendiri di saat tak terduga, tapi sering juga muncul setelah dipancing.
  11. Makna dan Tujuan Hidup. Teruslah bergerak, berkarya, berguna bagi orang lain. Saat kita bergeraklah makna hidup terbentuk.
  12. Sahabat. Sulit menemukan sahabat di era ini, jadilah sahabat bagi seseorang.
  13. Jabatan. Kita ini adalah serigala-serigala yang berebutan kursi, karena kursi memiliki legitimasi menguasai lahan di negeri ini. Jabatan adalah permainan merampok negara secara ramai-ramai. Mulai dari pemimpin paling kecil, kepala desa, camat, bupati, gubernur hingga menteri, bahkan presiden. Dan ketika kamu tertangkap, itulah namanya korupsi.
  14. Korupsi. Nasib sial yang menimpamu saat aksi rampokmu diketahui publik.
  15. Pekerjaan. Tanpa pekerjaan, kamu bukan siapa-siapa.  Pekerjaan menentukan seberapa harga dirimu di mata orang-orang. Itu nilai yang dipahami masyarakat di sekitarmu.
  16. Covid-19. Sudah sekian abad kita manusia bertahan dengan segala tantangan eksistensial yang pernah mengintai, kenapa tiba-tiba virus yang satu ini seolah tidak pernah ada sebelumnya hingga belum ada obatnya? Yang mana sebenarnya bentuk asli virus ini? Kecerdasan seperti apa yang mendukung virus ini hingga bisa bermutasi beberapa kali dalam kurun waktu setahun ini? Jika memang ini direncanakan oleh pihak tertentu, setidakberdaya itukah negara-negara di dunia tidak berdaya menentangnya? Intinya, ternyata kita bukan apa-apa di hadapan jasad renik yang satu ini, atau di hadapan para desainer di balik semua ini.

267. Horja 2020 (Semangat yang Beririsan)

Januari 2020, bang Jhonson Sihombing mengabari aku, "Gom, tim RKI lagi bikin analisis potensi desa Meat, kau coba susul ke sana dan diskusi sama mereka."

Siap bang, balasku di WA kala itu.

Betul, di hari H, aku ajak kawan, ga ada yang bisa, sibuk semua. 

Aku lalu pergi main solo ke Meat.
Perjalanan ke Meat pun punya cerita sendiri. 

Aku dari Tipang ambil jalur Muara, dan di atas Muara aku turun ke bawah, tapi karena belum tau ada jalan tembus dari Muara ke Meat, aku balik dari tengah jalan yang buntu, rupanya kalau kuteruskan kian, tinggal sekilo meter lagi...

Aku putar haluan dari tengah jalan, naik lagi ke Muara dan turun ke Meat lewat jalur Siborong-borong

***MEAT
Singkat cerita, aku sampai di Meat, kulihat google map, rupanya aku udah mutar-mutari Meat... Haha, maklum...

Pas aku tiba, acara sudah setengah jalan, dipandu oleh lae Tumpak Winmark Hutabarat (aka. Siparjalang). Di sana hadir juga kulihat Dispar Tobasa.

Begitu selesai acara, kami makan, sebenarnya aku segan, tapi udah lapar, embat aja pikirku, persoalan urusan belakang... Hehe

Selesai makan, kusamperin langsung lae Ojax Manalu, kami pun berkenalan dengan timnya. Aku bilang, wajah lae kok familiar... Haha

Kami sempat bercerita mengenai program tahunan RKI, lae Ojak memberitahu ada sekitar sembilan (9) event kalo gak salah

Lae Ojak juga menjelaskan secara singkat tentang apa aja kesembilan event itu

Aku langsung ke pertanyaan inti, kapan kita bikin acara di Tipang le? "Siap lae, nanti kami ke Tipang dalam waktu dekat, kolaborasi kita, kita diskusi panjang lebar... Balas beliau."

Dalam benakku, kapan bisa kolaborasi dengan insan-insan kreatif yang "bergerak", seperti RKI... 

Teringat skillset wajib di abad 21 ini adalah kemampuan bekerjasama (kolaborasi)... 

Aku punya mimpi, suatu saat Tipang menjadi salah satu episentrum kegiatan pemuda kreatif di lingkar Toba, yang ternyata beririsan dengan agenda kawan-kawan RKI lewat event Horja...

Horja pada awalnya merupakan ritual atau upacara tradisional di Toba yang dipimpin oleh BIUS. 

Konsep Horja yang diusung RKI hari ini adalah kolaborasi para seniman atau pekarya dalam bentuk reportoar yang dipentaskan, namun berhubung situasi pandemi, akhirnya dibuat jadi video.

***TIPANG
Beberapa bulan berlalu, kami saling korespondensi lewat medsos.

Lae Denata Rajagukguk kemudian menghubungi kita dan berbagi info soal agenda RKI bernama Horja, apa aja komponen budaya yang ada di Tipang dan Bakara... diskusi pun berlanjut... 

"Di sini ada tradisi Sihali Aek, Pulo Simamora, BIUS Tipang dan sanggar yang memberdayakan anak-anak SD memainkan musik tradisional, lengkap dengan penarinya, namanya Dalloid. Uniknya, pembinanya bukan seorang ahli musik... Kalau di Lembah Bakara sendiri, ada Istana SMXII..."

Singkat cerita, rute Geobike Caldera Toba kebetulan lewat dari Tipang dan lembah Bakara, tim lae Ojak singgah di Air Terjun Janji, perbatasan desa Tipang dengan Martoru.

Aku menepati janji, mengenalkan sanggar Dalloid ke tim RKI, pembinanya langsung kuajak...

Dan, sambil ngopi, diskusi pun berlanjut di kedai kopi Air Terjun Janji sore itu. Kalau tidak salah, lae Tumpak sempat bikin vlog di Air Terjun Janji, oia mana videonya le? 😄 

Tak puas kalo cuma diskusi tanpa lihat barangnya, oke kita langsung caw ke lokasi, Sanggar Dalloid di Dalan Sipiuan... (yang mana sekarang sudah pindah ke Sibatubatu, masih dengan konsep alami, di sawah-sawah gitu).

Di sini, lae Siparjalang leluasa mewawancarai pembina Dalloid, Martunas Siburian (aka. Kang Vionetta Siburian) dan aku juga (aka. tobagasm 😅), sepatah kata... Dan, gambaran Horja mulai dapat...

Waktu pun berlalu

***HARI H
Covid-19, mempengaruhi agenda kita semua

Menjelang Horja dilaksanakan bulan Nopember 2020, zoom adalah pilihan, lagi, diskusi pun berlanjut...

Dan, pada tanggal yang terjadwal, tim Horja menginjakkan kaki di tanah Raja Sumba II, Tipang dan Raja SMXII di Lembah Bakara

Serangkaian persiapan-persiapan dan uji kecocokan dijajaki selama dua hari, hingga puncaknya di hari ketiga, pengambilan rekaman kolaborasi di antara pekarya-pekarya kreatif, akhirnya terwujud...

Setelah semua kegiatan selesai, aku merasa lega, mengetahui tidak ada insiden maupun halangan yang berarti... 

Kalau soal kelelahan, itu bukan apa-apa... balasku pada lae jambang Avena Matondang... Hahaha kami masih sempat tertawa dan agak panjang lebar ngobrol di Sanggar Dalloid sebelum tim angkat kaki untuk periode ini dari Tipang.

Saat ini, tim produksi sedang menggarap video kolaborasi para pekarya kemarin supaya enak nantinya kita nikmati... 

Kita tunggu tanggal mainnya ya... 😁

***EPILOG
Terimakasih bang Johnson Sihombing, terimakasih teman-teman di RKI yang tak bisa disebutin satu per satu. Terimakasih lae Martunas Siburian selaku direktur eh pembina Sanggar Dalloid Tipang... Teruslah berkarya dan sehat selalu.

Aku punya impian, berada dalam barisan para insan yang berkontribusi terhadap kemajuan Toba, dalam aspek apa pun yang bisa. Baik di depan atau di balik layar, baik sebagai motor atau penghubung... Apa saja

Puji Tuhan, sekecil apapun riaknya dalam samudera pembangunan Toba...

Aku berharap, sentuhan tangan individu yang kreatif dan berpikir anarkis (di luar pakem), semakin banyak menjamah Toba, sesuai peran masing-masing...

Tak jemu-jemu kita terus mengenalkan Toba pada tunas-tunas baru lewat event-event kreatif di masa depan, bersama mereka-mereka yang sudah, sedang dan akan berjuang di lini masing-masing...

Dan semangat juga buat tim awak, Jery Lumbangaol dan Hermanto Tobing, Putra Simamora dll yang sedang mempersiapkan Alogo Fest dan Wisata Sawah Tipang...

Aku rindu anak-anak muda Tipang yang kreatif, ambil bagian dalam event-event yang sedang kita persiapkan, naro, robe ma hamu, asa rap manghobasi hita.

Horja, horja, horja
Horas, horas, horas

266. Menyederhanakan Konsep Pembangunan Pariwisata Toba

Mumpung masih hangat 😁, terkait yang diberitakan di sini https://setkab.go.id/inilah-tiga-jurus-sandiaga-uno-kembangkan-sektor-parekraf-indonesia/, yaitu (1) adaptasi, (2) inovasi dan (3) kolaborasi.

***
Sedikit pandangan dari seseorang yang terlibat dalam Kepariwisataan Toba selama 2 tahun belakangan, ada beberapa poin yang saya catat:

Terdapat 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang ditarget tuntas tahun ini. Poin ini otomatis sudah membatasi ruang lingkup persoalan yang berarti menghemat waktu dan analisis.

1. DETAIL (JAMOT)
Mau tidak mau, pemerintah pusat harus membuka mata dan berani mengotori tangan. Kita semua tahu bahwa mulai dari pusat hingga daerah, birokrasi penuh dengan masalah internal. Dengan otoritasnya, pemerintah pusat harus berani tegas, memetakan masalah-masalah besar hingga masalah sekecil masalah internal tiap Desa yang mana menjadi ujung tombak keberhasilan program ini.

Bersihkan dulu masalah-masalah lama, tambal dulu kebocoran-kebocoran kapal sebelum berlayar supaya tidak tenggelam di perjalanan, apalagi muatannya "berat". Dengan memperbaiki serta mengawasi oknum-oknum atau pemimpin-pemimpin yang bermasalah.

2. PENDEKATAN OTONOM (BOTTOM UP)
Setelah mengatasi pemimpin-pemimpin yang bermasalah dan menuntaskan lahan berpotensi konflik yang akan dikelola, berdayakan analis dan SDM-SDM lokal yang kompeten untuk merumuskan masterplan pengembangan Pariwisata yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Sebagai contoh, pendekatan Toba mengadopsi prinsip "marsirimpa". Dalam tahap inilah inovasi-inovasi diperlukan.

3. SOSIALISASI JORJORAN (SAPANGANTUSION)
Mutlak perlu sosialisasi yang jorjoran terhadap para pemimpin daerah mulai dari pelaku-pelaku wisata, Kepala Desa, Camat, hingga Bupati untuk menyeragamkan pemahaman. Sebagai pemimpin di daerah, berhasil atau tidaknya program Pariwisata tergantung para pemimpin daerah. Ketika pemimpin-pemimpin daerah mengerti konsep dan tujuan pariwisata, akan lebih mudah mencapai target. 

Sebaliknya, ketika pemimpin-pemimpin daerah punya visi yang berbeda, segencar apapun pemerintah pusat menggerakkan daerah, hasilnya akan jauh panggang dari api. Habis anggaran sekian triliun dan banyak waktu terbuang sia-sia, Desa-desa menjadi korban karena pemerintah pusat mudah saja mengalihkan perhatian dari satu desa ke desa berikutnya seolah desa bukan urusan negara, seolah semua saling lempar tanggung jawab.
Di tahap inilah pembinaan terhadap SDM-SDM dan pengelola obyek wisata.

4. KONTROL KETAT (RAP MANJAGA)
Selain manajemen kemampuan, korupsi adalah tantangan terbesar lainnya yang dihadapi pembangunan. Kalau perlu ada BPK atau KPK di tingkat kabupaten serta aplikasi pelaporan terpadu yang terkoneksi langsung dengan pusat.

5. KOLABORASI (RAP MANGHOBASI)
Pelaku dengan pelaku, Kepala Desa dengan Kepala Desa, Camat dengan Camat, Bupati dengan Bupati. Kolaborasi mulai dari lapisan paling bawah hingga yang paling atas. Kalau hanya pemuda yang bergerak, pemimpinnya sibuk mengurusi masalah internal masing-masing, martopak sada  tangan jadinya (pincang) lalu terbengkalai dan menunggu waktu untuk kembali ke nol lagi, balik lagi ke awal, kosong.

***
Namanya juga pendapat, saling melengkapi satu sama lain, demi kepentingan bersama. Sense of oneness... Yang sulit dipahami dan dipraktikkan oleh banyak pemimpin.

265. Dua Tipe Umum Mantan Kekasih

Biasanya, tipe mantan itu ada dua, (1) Yang Belum Dewasa, dan (2) Yang Sudah Dewasa.

***
  1. Tipe Pertama, yang belum dewasa.
  2. Ia berprinsip dirinya sebagai pihak superior, pihak yang tidak mungkin salah atau jarang salah dan selalu jadi korban orang lain.
  3. Karenanya, ketika ada situasi yang tidak sesuai dengan prinsipnya, ia menyalah-nyalahkan seolah ia benar-benar bersih.
  4. Ia bersikap demikian karena terjebak dikotomi pemikiran relijius vs ateis.
  5. Ia menaruh harapan yang terlalu besar atas agama dan manusia, hingga ketika harapannya tidak sesuai kenyataan, jatuhnya pada dua kemungkinan, menyalahkan agama atau menyalahkan manusia.
  6. Membawa-bawa agama dalam urusan karakter, adalah ciri-ciri kebelumdewasaan, baik sebagai individu maupun sebagai jemaat yang otonom (mampu memutuskan apa yang baik dan buruk bagi diri sendiri).
  7. Dan biasanya, seseorang yang masih menyalahkan orang lain dan membanggakan yang satunya, pada situasi tertentu berpotensi melakukan hal yang sama. Suatu saat ia berpotensi menyalahkan kembali yang saat ini dipuja-puji, sebagaimana ia menyalahkan yang sekarang, orang yang pernah dipuja-pujinya dulu.
  8. Faktanya, kita semua pernah berbagi masa lalu yang suram dengan seseorang yang lain.

  1. Tipe Kedua, yang sudah dewasa, memposisikan dirinya sebagai bagian dari masa lalu.
  2. Belajar dari kesalahan, bersyukur kalau telah melakukan tindakan yang tepat.
  3. Ia melepaskan karakter individu dari agama karena seseorang bisa menjadi baik tanpa agama atau menjadi jahat demi agama, begitu sebaliknya.
  4. Meskipun dalam beberapa situasi, karakter individu dan agamanya saling mempengaruhi.
  5. Ia paham bahwa karakter individu adalah kehendak bebas dan tidak ada seorangpun senang memiliki masa lalu yang menyusahkan, meskipun tidak diakui.
  6. Ia tahu bahwa memaafkan orang lain berarti membiarkan diri bertumbuh dan memahami, bahwa biar bagaimanapun, kita turut ambil bagian dalam kesalahan masa lalu bersama orang lain, apalagi kalau mantan kekasih, orang yang pernah berbagi mimpi dan suka duka bersama.

#264. Logika antar Kelas dan Korupsi; Buaya Kecil yang Imut dan Tumbuh Besar bersama Kita

"Lebih dari apapun, kita lebih malu karena telah membiarkan korupsi bertumbuh bersama kita sejak kita anak-anak."

***
Betul, kita tidak berutang penjelasan pada siapapun tentang korupsi -- korupsi yang kini menjadi berita makan siang.

Kita tahu, sebagaimana perilaku jujur, perilaku koruptif tidak terbentuk dalam sehari sehingga untuk mengubahnya juga tidak bisa sehari.

Ia dibentuk oleh pembiaran demi pembiaran kita terhadap pelanggaran kecil dalam kehidupan sehari-hari, 
seiring waktu, ia pun turut membesar. 

Contoh: awalnya kita membiarkan diri sering terlambat dari kesepakatan, entah itu terlambat makan, ke kantor, membayar kewajiban, dll. 

Kata kunci, BESOKNYA, kita membiarkan adik dan kakak kita terlambat.

Besoknya lagi kita membiarkan ayah dan ibu kita terlambat.

Minggu depannya, kita telah terbiasa membiarkan diri, adik, kakak serta orang tua kita biasa terlambat... ya, kita menerima semua keterlambatan itu.

Minggu-minggu berikutnya, situasi berubah menjadi batu sandungan; kita ingin tegas pada orang lain, tapi kita sudah ditodong oleh beban moral (rasa bersalah) dan hukum positif karena tidak adil terhadap orang lain sebagaimana pada diri sendiri.

Lama-lama, kita menjadi "masyarakat bisu" 
yang terbiasa menerima keterlambatan terus terjadi, ibarat tidur dalam kondisi pintu rumah tidak tertutup semua, tengah malam, pencuri menggasak barang berharga (sedangkan rumah terkunci saja sering dibobol, apalagi tidak?).

Di mana puncak dari semua pembiaran itu? 

"Biar tidak ribut-ribut, sudahlah yang penting bukan personal kita yang dirugikan", kalimat yang sering dijadikan "topeng" sosial, karena "malu terlihat munafik".

Dibela pula dengan kicauan, "bukan uangku kok"...

Benar, memang bukan uang dari dalam dompet yang dicuri karena uang di dompet tak seberapa dibandingkan masa depan orang-orang yang dicuri dengan tertundanya pembangunan umum.

Ya begitulah jadinya barang itu; dalam era kegemukan informasi, tiap hari mendengar kasus korupsi, kita jadi cuek... Atau marah sesaat untuk lupa lagi, menggebu-gebu mengecam koruptor tapi pada saat yang sama korupsi dalam diri berselemak.

***
Lihatlah para koruptor itu, uang sosial pun ditelap... orang sudah megap-megap karena p(l)andemik seperti kata orang, masih sanggup potong atas mereka... 
Begitu "logika kelas bawah" kita menyimpulkan.

Pikirannya sungguh dimanfaatkan untuk memperkaya diri, orang ini benar-benar paham bahwa uang tetaplah uang sekalipun dari dalam "kubur" atau tenggorokan orang sekarat, mereka akan menggalinya.

Koruptor memiliki logikanya tersendiri, agama mereka adalah akumulasi kapital, negara adalah wadah, sementara agama, hukum dan sistem moralitas kita adalah alat yang dirancang sedemikian rupa bekerja bagi keuntungan mereka.

Seandainya bertukar posisi, koruptor jadi masyarakat yang dihantui oleh hutang, kelaparan dan penindasan struktural, lalu masyarakat yang jadi koruptor, apakah mereka akan terima? Tidak mungkin. 

Setiap kelas punya logikanya tersendiri. 
Bagi kelas bawah, mungkin korupsi itu dosa, namun bagi kelas atas, korupsi itu permainan dan tertangkap KPK adalah nasib sial.

Bagaimana menguasai permainan catur? 
Jangan baper, tapi balik situasi.

***
Kembali ke idealisme kelas bawah, kini seolah-olah korupsi ibarat kentut, malunya cuma pas ketahuan saja. 

Sialnya, kita berbagi negara dengan orang-orang seperti ini.

Sialnya, dapur kita diurus orang-orang seperti ini.

Sialnya lagi, koruptor atau pemain-pemain itu hanya dilihat-lihat, beberapa waktu kemudian dibebaskan.

***
Korupsi itu universal, siapa saja bisa melakukannya.
Pun demikian, hanya karena kita jijik melihatnya bukan berarti kita bebas tidak bisa kena getahnya. Politik bisa kejam.

Boleh dikatakan, dari sudut tertentu, koruptor adalah cerminan masyarakat yang permisif dan toleran terhadap perilaku korup. Sudah menjadi rahasia umum, orang-orang berlomba naik ke atas untuk "kue" yang lebih besar bukan?

Jika hama tumbuh di pematang sawah yang disediakan untuk padi karena memungkinkan, koruptor lahir dari ekosistem yang memungkinkan lahirnya koruptor.

***
Banyak pemikiran berusaha menjelaskan situasi yang sedang kita hadapi, apapun teorinya, intinya kita sedang berada dalam sebuah lingkaran setan; sebuah ekosistem korup yang melahirkan koruptor-koruptor baru setiap hari.

Pemberantasan korupsi sejatinya adalah tugas setiap individu jika semua orang bisa menjadi polisi moral bagi dirinya sendiri.

Tidak ada seorang pun insan yang kebal terhadap godaan untuk berbuat korup, namun setiap orang punya kesempatan untuk menolaknya.

Kita semua memiliki cara-cara masing-masing mengantisipasi korupsi, seperti;

1. menghindari "permainan" besar, 
2. menyiram "api-api" kecil, 
3. memperkuat "mantra", 
4. mengurangi "tirai-tirai" penutup, 
5. meluruskan jalanan yang berbelok-belok, 
6. dll... 

dengan cara:

1. sadar hak dan kewajiban
2. mencukupkan diri
3. menjadikan profesionalisme sebagai standar kerja
4. mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan
5. memahami kita hanya menerima sesuai kapasitas
6. memamami sebagian balasan kebaikan tidak selalu berupa uang
7. berusaha tidak kompromi dengan gratifikasi

Tentu tidaklah semudah menuliskan tulisan ini, menulis tidak seberapa.

Tulisan ini adalah sebuah paradoks... namanya juga tulisan, mudah saja menulis tentang orang yang kebetulan sial.

Sembari saya menulis dan Anda membaca artikel ini, kita sedang diintai oleh peluang korup. Memang, idealisme itu dinamis... tapi komitmenlah untuk tetap tersadar.

📷 Istock