Perilaku anak-anak sekolah yang nampak sekarang ini adalah buah dari nilai-nilai yang dianut oleh keluarga dan lingkungannya.

Puncak dari gunung es yang nampak di permukaan.
Di bawah permukaan, ada nilai-nilai yang tertanam selama bertahun-tahun menjadi karakter.


Tentu sah-sah saja memberi ganjaran positif terhadap si murid supaya tidak mengulangi hal yang sama, namun hal itu tidak akan menyeselaikan persoalan sebenarnya, ibarat memungut daun-daun dari pohon yang terus berguguran tak peduli seberapa sering kita menyapu, daun akan tetap berguguran.

Nilai-nilai yang dianut oleh masing-masing keluarga dan lingkungan ditentukan oleh media dan informasi.
Nilai-nilai lingkungan ditentukan oleh keluarga-keluarga yang membentuk masyarakat di mana si anak tinggal.

Media ditentukan oleh ekonomi.
Ekonomi dapat disiasati dengan kredit.

Informasi ditentukan oleh stasiun tv.
Stasiun tv diatur oleh pengusaha.
Pengusaha diatur oleh uang.
Uang diatur oleh kapitalis.
Kapitalis membutuhkan masyarakat untuk membeli produk dan memakai uang mereka.


Orangtua pada umumnya tidak mau disalahkan, sekolah kesulitan mengatasi anak yang terlanjur salah asuh, terakhir anak-anak dibesarkan oleh lingkungan yang menganut nilai-nilai pop dan sekulerisme yang narsis, hedon, materialis, liberal dan individualis hingga menjadi seperti sekarang, terlalu cepat mengenal dunia yang berlari sementara mental dan kejiwaannya masih merangkak.

Metode menghukum siswa hanya bersifat parsial dan sementara.
Untuk mengatasi kondisi ini, salah satunya, orangtua dan sekolah perlu bersinergi untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung perkembangan moral dan kognitif anak-anak.

Kita membutuhkan sebuah revolusi total untuk mengubahnya.
Keluarga perlu tegas tentang nilai-nilai yang mereka anut dalam keluarga.
Tidak ada yang akan menyelamatkan anak-anak kalau bukan keluarganya masing-masing.

Tidak akan ada yang akan menyelamatkan nilai-nilai keluarga kalau bukan keluarga itu sendiri.
Pemerintah tidak akan mengurusi hal itu.