"Kawan, tidak ada yang abadi di dunia ini selain kepentingan."
- Khalil Gibran
... suatu teks (realitas yang dapat ditangkap oleh indera manusia) tidak pernah menunjukkan hanya SATU wajahnya pada siapapun yang melihatnya.
Ibarat sebuah mobil Pajero Sport sedang berhenti di perempatan jalan, lantas otomatis tersedia berbagai sudut pandang untuk mengamati mobil tersebut.
Yang paling umum diantaranya adalah, depan - belakang, samping kiri - kanan, dan atas - bawah.
Dalam ilustrasi di atas, mobil disebut sebagai teks karena dapat dilihat oleh mata.
Sedangkan mata disebut sebagai subjek pengamat.
Untuk kondisi di atas, berikut hal-hal yang pasti:
1.
Setiap pengamat hanya melihat bagian mobil yang terlihat dari sudut pandangnya sendiri. Sudut pandang khusus ini disebut perspektif dan bersifat relatif.
2.
Setiap pengamat membaca teks, mengolah gambar mobil tersebut sesuai pengetahuan dan pengalaman masing-masing, sehingga lahirlah berbagai respon.
3.
Seseorang yang belum pernah melihat mobil tidak akan mengerti apa yang dilihatnya.
4.
Seseorang yang baru bebas setelah 60 tahun di penjara akan takjub karena kecanggihan Pajero.
5.
Seseorang yang mendesain Lamborghini konsep futuristik akan menganggap Pajero ketinggalan jaman.
6.
Dan seseorang yang sudah sering melihat Pajero akan merasa biasa saja.
7.
Dari sudut arah, pengamat yang berdiri di depan mobil hanya akan melihat bagian depan mobil, begitu juga dari arah lainnya.
8.
Dari sudut warna, pengamat yang melihat dari dekat, akan menyebut suatu warna umum.
9.
Pengamat yang buta warna belum tentu menyebut suatu warna yang sama dengan pengamat lain.
10.
Pengamat yang melihat dari jauh, akan menyebut warna yang dipantulkan oleh cahaya dan warna yang sampai pada pengamat tergantung beberapa hal seperti jarak, kelembaban udara, intensitas cahaya dll.
Tapi yang menakjubkan, semua sudut pandang itu benar, secara relatif.
Artinya adalah, mempersoalkan sudut pandang siapa yang paling benar merupakan usaha sia-sia karena semua benar dari sudut pandang masing-masing.
Yang penting dalam situasi seperti di atas adalah 'menyadari' bahwa setiap teks yang terbaca, memiliki banyak wajah sebanyak 'mata' yang memandangnya.
Mustahil satu kelompok atau satu orang tertentu mampu membaca suatu teks sepenuhnya dari semua aspek, seperti aspek nilai, manfaat, kuantitas, kualitas, dan aspek-aspek lainnya.
Semakin banyak aspek yang digunakan untuk membaca teks, maka semakin objektif penilaian dan semakin diterima oleh banyak pihak.
Terkait pilpres 2019, sebagian besar pendukung kubu 01 dan 02 terlibat dalam aksi saling tuding satu sama lain, hingga melahirkan label yang dilemparkan terhadap satu sama lain: 'Cebong' dan 'Kampret'.
Secara pribadi, penulis tidak setuju dengan dua label ini.
Terminologi Cebong dan Kampret menjadi bukti sejarah bahwa di negeri kita, masyarakat pernah terbagi menjadi dua golongan pemikir 'unik dan lucu'.
Secara tak langsung, terminologi Cebong dan Kampret otomatis menjadi sebuah validasi kolektif bahwa mereka sama-sama terpenjara oleh pikirannya sendiri hingga saling sindir, serang bahkan persekusi.
Sebagai contoh:
Ketika pendukung kubu 02 menuduh bapak Jokowi (01) sebagai 'pembohong', lantas pendukung kubu 01 menyerang balik kubu 02 dengan menuduh bapak Prabowo (02) sebagai mafia tanah.
Apa yang terjadi dalam situasi tersebut adalah, bahwasanya kedua tuduhan itu sama-sama dilandasi oleh sudut pandang yang terbatas.
Sebab jika ditinjau dari perspektif waktu, bapak Jokowi hanya butuh waktu sedikit lebih lama lagi untuk merealisasikan janjinya.
Sebaliknya, jika ditinjau dari perspektif waktu juga, bapak Prabowo menguasai ribuan hektar tanah sama seperti beberapa oknum penguasa tanah lainnya adalah produk dari lemahnya regulasi-regulasi masa lalu.
Melampaui soal benar atau salah lalu dengan emosi yang berapi-api saling menyalahkan, tapi soal seberapa banyak aspek yang digunakan untuk membedah fakta itu, dalam bahasa Derrida, mendekonstruksi fakta itu.
Itu masih satu contoh, kita dapat menggali puluhan argumen dan tuduhan lainnya yang dialamatkan pada kedua kubu.
Ketika pendukung fanatik kedua kubu merasa lebih benar lalu menyerang hingga terjadi saling serang.
Sama saja, mereka terpenjara oleh logosnya sendiri dan bangga.
Barangkali itu sebabnya bung Rocky Gerung selalu menyebut 'dungu'.
Sementara tokoh-tokoh utama menggunakan logika politik yang tidak dapat dijangkau oleh pendukung arus bawah ketika terjebak dalam kasus individu dan menanggung dampaknya sendirian, menyerahkan dukungan yang buta seperti cinta tak bersyarat, tanpa kritik.
Lantas apa yang dapat menyelamatkan manusia dari fanatisme SELAIN kesadaran sendiri bahwa ia terpenjara oleh sempitnya perspektif?
Mari belajar berpikir benar, lurus, jujur dan adil, sebagian orang menyebutnya filsafat.
Kalau kita bentrok, kita pihak yang paling dirugikan.
Kalau kita dukung, mereka untung, kita belum tentu.
Bukan berarti menghindari politik.
Hanya saja, politik ya politik, banyak 'candanya'.
Dengan menjadi kritis, mengurangi peluang oknum politikus membenturkan orang lain demi kepentingan mereka, atas janji populis apapun.
.
.
.
Dame ma di hita.
- Khalil Gibran
... suatu teks (realitas yang dapat ditangkap oleh indera manusia) tidak pernah menunjukkan hanya SATU wajahnya pada siapapun yang melihatnya.
Ibarat sebuah mobil Pajero Sport sedang berhenti di perempatan jalan, lantas otomatis tersedia berbagai sudut pandang untuk mengamati mobil tersebut.
Yang paling umum diantaranya adalah, depan - belakang, samping kiri - kanan, dan atas - bawah.
Dalam ilustrasi di atas, mobil disebut sebagai teks karena dapat dilihat oleh mata.
Sedangkan mata disebut sebagai subjek pengamat.
Untuk kondisi di atas, berikut hal-hal yang pasti:
1.
Setiap pengamat hanya melihat bagian mobil yang terlihat dari sudut pandangnya sendiri. Sudut pandang khusus ini disebut perspektif dan bersifat relatif.
2.
Setiap pengamat membaca teks, mengolah gambar mobil tersebut sesuai pengetahuan dan pengalaman masing-masing, sehingga lahirlah berbagai respon.
3.
Seseorang yang belum pernah melihat mobil tidak akan mengerti apa yang dilihatnya.
4.
Seseorang yang baru bebas setelah 60 tahun di penjara akan takjub karena kecanggihan Pajero.
5.
Seseorang yang mendesain Lamborghini konsep futuristik akan menganggap Pajero ketinggalan jaman.
6.
Dan seseorang yang sudah sering melihat Pajero akan merasa biasa saja.
7.
Dari sudut arah, pengamat yang berdiri di depan mobil hanya akan melihat bagian depan mobil, begitu juga dari arah lainnya.
8.
Dari sudut warna, pengamat yang melihat dari dekat, akan menyebut suatu warna umum.
9.
Pengamat yang buta warna belum tentu menyebut suatu warna yang sama dengan pengamat lain.
10.
Pengamat yang melihat dari jauh, akan menyebut warna yang dipantulkan oleh cahaya dan warna yang sampai pada pengamat tergantung beberapa hal seperti jarak, kelembaban udara, intensitas cahaya dll.
Tapi yang menakjubkan, semua sudut pandang itu benar, secara relatif.
Artinya adalah, mempersoalkan sudut pandang siapa yang paling benar merupakan usaha sia-sia karena semua benar dari sudut pandang masing-masing.
Yang penting dalam situasi seperti di atas adalah 'menyadari' bahwa setiap teks yang terbaca, memiliki banyak wajah sebanyak 'mata' yang memandangnya.
Mustahil satu kelompok atau satu orang tertentu mampu membaca suatu teks sepenuhnya dari semua aspek, seperti aspek nilai, manfaat, kuantitas, kualitas, dan aspek-aspek lainnya.
Semakin banyak aspek yang digunakan untuk membaca teks, maka semakin objektif penilaian dan semakin diterima oleh banyak pihak.
Terkait pilpres 2019, sebagian besar pendukung kubu 01 dan 02 terlibat dalam aksi saling tuding satu sama lain, hingga melahirkan label yang dilemparkan terhadap satu sama lain: 'Cebong' dan 'Kampret'.
Secara pribadi, penulis tidak setuju dengan dua label ini.
Terminologi Cebong dan Kampret menjadi bukti sejarah bahwa di negeri kita, masyarakat pernah terbagi menjadi dua golongan pemikir 'unik dan lucu'.
Secara tak langsung, terminologi Cebong dan Kampret otomatis menjadi sebuah validasi kolektif bahwa mereka sama-sama terpenjara oleh pikirannya sendiri hingga saling sindir, serang bahkan persekusi.
Sebagai contoh:
Ketika pendukung kubu 02 menuduh bapak Jokowi (01) sebagai 'pembohong', lantas pendukung kubu 01 menyerang balik kubu 02 dengan menuduh bapak Prabowo (02) sebagai mafia tanah.
Apa yang terjadi dalam situasi tersebut adalah, bahwasanya kedua tuduhan itu sama-sama dilandasi oleh sudut pandang yang terbatas.
Sebab jika ditinjau dari perspektif waktu, bapak Jokowi hanya butuh waktu sedikit lebih lama lagi untuk merealisasikan janjinya.
Sebaliknya, jika ditinjau dari perspektif waktu juga, bapak Prabowo menguasai ribuan hektar tanah sama seperti beberapa oknum penguasa tanah lainnya adalah produk dari lemahnya regulasi-regulasi masa lalu.
Melampaui soal benar atau salah lalu dengan emosi yang berapi-api saling menyalahkan, tapi soal seberapa banyak aspek yang digunakan untuk membedah fakta itu, dalam bahasa Derrida, mendekonstruksi fakta itu.
Itu masih satu contoh, kita dapat menggali puluhan argumen dan tuduhan lainnya yang dialamatkan pada kedua kubu.
Ketika pendukung fanatik kedua kubu merasa lebih benar lalu menyerang hingga terjadi saling serang.
Sama saja, mereka terpenjara oleh logosnya sendiri dan bangga.
Barangkali itu sebabnya bung Rocky Gerung selalu menyebut 'dungu'.
Sementara tokoh-tokoh utama menggunakan logika politik yang tidak dapat dijangkau oleh pendukung arus bawah ketika terjebak dalam kasus individu dan menanggung dampaknya sendirian, menyerahkan dukungan yang buta seperti cinta tak bersyarat, tanpa kritik.
Lantas apa yang dapat menyelamatkan manusia dari fanatisme SELAIN kesadaran sendiri bahwa ia terpenjara oleh sempitnya perspektif?
Mari belajar berpikir benar, lurus, jujur dan adil, sebagian orang menyebutnya filsafat.
Kalau kita bentrok, kita pihak yang paling dirugikan.
Kalau kita dukung, mereka untung, kita belum tentu.
Bukan berarti menghindari politik.
Hanya saja, politik ya politik, banyak 'candanya'.
Dengan menjadi kritis, mengurangi peluang oknum politikus membenturkan orang lain demi kepentingan mereka, atas janji populis apapun.
.
.
.
Dame ma di hita.



