...
Seharusnya traveling itu mampu membuka mata akan kondisi dunia ini, jika tidak di jaga maka keindahannya akan lenyap dan generasi mendatang tak akan punya tempat didatangi lagi untuk selfi ria, pencitraan, pencerahan, pencapaian...

Seharusnya mengunjungi berbagai tempat bisa membuat berpikir bahwa dunia ini lebih dari urusan perut saja, lebih dari sekedar cengengesan di spot yang instagramable.

Seharusnya traveling itu memberi banyak pelajaran dan mengikis kesombongan, kekolotan bahwa sebenarnya memenjara, yang cuma bisa menikmati dan memikirkan diri sendiri di tengah isu-isu darurat yang dinggap bukan urusan, ditengah perbuatan yang diklaim pengorbanan...

Seharusnya bisa memberi gambaran bahwa manusia masih sangat terikat, butuh pencerahan, butuh refreshing, butuh disegarkan, butuh dibebaskan, butuh dilepaskan...

Manusia memahami traveling itu unjuk kebolehan, kesombongan terselubung dibalik keindahan alam yang terperkosa, ajang menunjukkan merk jam tangan, sepatu, tiket perjalanan, kamera, tas, topi, kaos, jeans, teman, penginapan, menu.

Tahukah traveling itu bukan untuk orang biasa? traveling itu hanya akan dimaknai, dinikmati, diresapi, oleh insan-insan yang sudah cukup dengan dirinya sendiri...

Traveling itu kebutuhan untuk pencarian jati diri, untuk merayakan ke-tidak-melekat-an diri pada ketidaknyataan...

Kalau traveling selain dari tujuan itu
Berarti manusia itu orang terpenjara,
Terikat,
Terkungkung,
Closed minded...

#pesan dari pribadi di masa depan

...
Kalbar,
15/07/2017