...
"Anda bernilai jika ada hal baik yang Anda lakukan itu murni tanpa ego/pencitraan".
Seseorang pernah bertanya: benarkah masa depan Bangsa ini terancam?
Benarkah masa depan bangsa ini terancam?
Apakah Anda seorang petani, pejabat birokrasi, pengusaha, ataupun mahasiswa, pertanyaan itu seharusnya menjadi pemikiran serius.
Urusan Pendidikan warga Negara ini bukan urusan lembaga pendidikan semata-mata.
Anda boleh saja tersenyum dengan prestasi beberapa anak sekolah di perkotaan, Anda boleh saja bangga dengan prestasi sekelompok anak Indonesia di kancah internasional, walau mereka itu bukanlah gambaran (keseluruhan) pendidikan.
Lebih tepat bila disebut mereka itu adalah 'pencitraan' bangsa kita yang mewakili pribadi atau yayasan perguruan tertentu.
Disaat kita terbuai prestasi sekelompok pelajar yang membawa nama Indonesia meraih medali emas, pada saat yang sama kita lupa bahwa kondisi umum anak-anak kita, khususnya di beberapa pedalaman, malah terbiasa dengan bahasa kotor,
obat-obatan terlarang,
ilmu picik,
watak cacat yang tertanam di bawah alam sadar mereka dari tontonan tak bermutu yang tiap hari ditayangkan lebih banyak jamnya dari jam pendidikan formal di sekolah,
makan makanan tak sehat yang beredar bebas dipasaran,
menghabiskan waktu berjam-jam di medsos melakukan hal yang tidak mendidik, berlomba lari dari kenyataan atau penyangkalan realita dengan demam traveling, menciptakan istilah anak muda tersendiri (alay), ladang uang industri gadget,
dan mengadopsi budaya/pemikiran Barat (kalau tidak Korea),
melawan orang tua,
membuat aturan sendiri dalam keluarga dan sekolah,
tidak sanggup di bawah tekanan disiplin,
pacaran dibawah umur,
pergaulan sembarangan (menyampah),
anti sosial, dan berbagai isu-isu Pendidikan lainnya yang terintegrasi dengan isu sosial, ekonomi, dll menjadi satu bingkai raksasa yang harus kita pecahkan sesegera mungkin dengan biaya berapapun.
Penulis pernah mengamati selama setahun di daerah pedalaman Kalimantan Barat, satu dari beberapa daerah yang sedang mengalami ketertinggalan dan kemunduran pendidikan, seolah anak-anak semakin hari 'berlari' ke 'belakang', mengalami kemunduran.
Lebih baik mutu Pendidikan di suatu daerah 'rata-ratanya' mencapai 7,5 atau lulus pas-pasan KKM tanpa perwakilan yang menang di olimpiade (walau itu bagus dipandang dari perspektif tertentu), dibanding sebaliknya, sekelompok anak berprestasi tinggi sampai ke tingkat dunia sementara rata-rata mutu pendidikan di daerah itu di bawah KKM.
Apakah Pendidikan kita sudah menjadi prioritas pembangunan,
yang mana sebenarnya sudah sangat terlambat mengingat kita merdeka 70 tahun lalu
berapa % anggaran pendidikan dari tahun ke tahun?
Berhentilah mengutak-atik Kurikulum dengan alasan dinamika ilmu pengetahuan.
#keisengan malam ini
#pencitraan pendidikan
...
Kalbar,
10/03/2017
"Anda bernilai jika ada hal baik yang Anda lakukan itu murni tanpa ego/pencitraan".
Seseorang pernah bertanya: benarkah masa depan Bangsa ini terancam?
Benarkah masa depan bangsa ini terancam?
Apakah Anda seorang petani, pejabat birokrasi, pengusaha, ataupun mahasiswa, pertanyaan itu seharusnya menjadi pemikiran serius.
Urusan Pendidikan warga Negara ini bukan urusan lembaga pendidikan semata-mata.
Anda boleh saja tersenyum dengan prestasi beberapa anak sekolah di perkotaan, Anda boleh saja bangga dengan prestasi sekelompok anak Indonesia di kancah internasional, walau mereka itu bukanlah gambaran (keseluruhan) pendidikan.
Lebih tepat bila disebut mereka itu adalah 'pencitraan' bangsa kita yang mewakili pribadi atau yayasan perguruan tertentu.
Disaat kita terbuai prestasi sekelompok pelajar yang membawa nama Indonesia meraih medali emas, pada saat yang sama kita lupa bahwa kondisi umum anak-anak kita, khususnya di beberapa pedalaman, malah terbiasa dengan bahasa kotor,
obat-obatan terlarang,
ilmu picik,
watak cacat yang tertanam di bawah alam sadar mereka dari tontonan tak bermutu yang tiap hari ditayangkan lebih banyak jamnya dari jam pendidikan formal di sekolah,
makan makanan tak sehat yang beredar bebas dipasaran,
menghabiskan waktu berjam-jam di medsos melakukan hal yang tidak mendidik, berlomba lari dari kenyataan atau penyangkalan realita dengan demam traveling, menciptakan istilah anak muda tersendiri (alay), ladang uang industri gadget,
dan mengadopsi budaya/pemikiran Barat (kalau tidak Korea),
melawan orang tua,
membuat aturan sendiri dalam keluarga dan sekolah,
tidak sanggup di bawah tekanan disiplin,
pacaran dibawah umur,
pergaulan sembarangan (menyampah),
anti sosial, dan berbagai isu-isu Pendidikan lainnya yang terintegrasi dengan isu sosial, ekonomi, dll menjadi satu bingkai raksasa yang harus kita pecahkan sesegera mungkin dengan biaya berapapun.
Penulis pernah mengamati selama setahun di daerah pedalaman Kalimantan Barat, satu dari beberapa daerah yang sedang mengalami ketertinggalan dan kemunduran pendidikan, seolah anak-anak semakin hari 'berlari' ke 'belakang', mengalami kemunduran.
Lebih baik mutu Pendidikan di suatu daerah 'rata-ratanya' mencapai 7,5 atau lulus pas-pasan KKM tanpa perwakilan yang menang di olimpiade (walau itu bagus dipandang dari perspektif tertentu), dibanding sebaliknya, sekelompok anak berprestasi tinggi sampai ke tingkat dunia sementara rata-rata mutu pendidikan di daerah itu di bawah KKM.
Apakah Pendidikan kita sudah menjadi prioritas pembangunan,
yang mana sebenarnya sudah sangat terlambat mengingat kita merdeka 70 tahun lalu
berapa % anggaran pendidikan dari tahun ke tahun?
Berhentilah mengutak-atik Kurikulum dengan alasan dinamika ilmu pengetahuan.
#keisengan malam ini
#pencitraan pendidikan
...
Kalbar,
10/03/2017
