Kita memiliki semacam kegemaran untuk menalarkan segala sesuatu. Bahkan sesuatu yang berada di luar pemahaman kita sendiri, seperti tingkatan dimensi.
Itulah karunia yang diberikan Tuhan pada kita, nalar. Kita berusaha menggunakannya untuk menjelaskan segala sesuatu. Termasuk Ketuhanan.
Dasar pemahaman kita menalar Ketuhanan (bukan Tuhannya) adalah celah Ketuhanan itu sendiri. Yaitu tanda-tanda dan fakta historis yang kita miliki. Salah satu yang paling besar adalah Injil.
Injil mempengaruhi kita untuk menalar segala yang terdapat di dalamnya. Tentu ada realitas yang tidak dapat kita jangkau di realitas kita sekarang, dijelaskan dalam injil: mujizat dan peristiwa supranatural.
Seperti itu jugalah pikiran manusia, bagaimana injil menjelaskan sesuatu yang bahkan eksis antar dimensi, nalar manusia juga mampu. Bukankah kitab suci tulisan manusia dengan ilham Sang Khalik.
Pada akhirnya semua pengetahuan tentang Tuhan hanya sebatas orgasme spiritual. Dimana ia puas dengan semua pengetahuannya tentang Tuhan, sebelum menemukanNya.
Hingga ia tiba pada sebuah titik dan menyadari, Tuhan tidak diketahui saja, harus turut dirasakan, dialami dalam perjalanan hidup.
-Image: https://images.ctfassets.net/406ai0ux7ky0/00000002001e8c9100000000/71e287735eb4a76bc239a86e37fafec9/the_thinking_man_300x300_flickr_Hans_Olofsson.jpeg
Itulah karunia yang diberikan Tuhan pada kita, nalar. Kita berusaha menggunakannya untuk menjelaskan segala sesuatu. Termasuk Ketuhanan.
Dasar pemahaman kita menalar Ketuhanan (bukan Tuhannya) adalah celah Ketuhanan itu sendiri. Yaitu tanda-tanda dan fakta historis yang kita miliki. Salah satu yang paling besar adalah Injil.
Injil mempengaruhi kita untuk menalar segala yang terdapat di dalamnya. Tentu ada realitas yang tidak dapat kita jangkau di realitas kita sekarang, dijelaskan dalam injil: mujizat dan peristiwa supranatural.
Seperti itu jugalah pikiran manusia, bagaimana injil menjelaskan sesuatu yang bahkan eksis antar dimensi, nalar manusia juga mampu. Bukankah kitab suci tulisan manusia dengan ilham Sang Khalik.
Pada akhirnya semua pengetahuan tentang Tuhan hanya sebatas orgasme spiritual. Dimana ia puas dengan semua pengetahuannya tentang Tuhan, sebelum menemukanNya.
Hingga ia tiba pada sebuah titik dan menyadari, Tuhan tidak diketahui saja, harus turut dirasakan, dialami dalam perjalanan hidup.
-Image: https://images.ctfassets.net/406ai0ux7ky0/00000002001e8c9100000000/71e287735eb4a76bc239a86e37fafec9/the_thinking_man_300x300_flickr_Hans_Olofsson.jpeg
