Huboto do salah
Dang seharusna au selingkuh
Alai demi cinta 
Olo do au 
Mangkaholongi ho
Rela do au halletmu
Gabe orang ketiga


Penggalan lagu pop Batak terkenal 'Orang Ketiga'.
***
Belakangan lirik lagu-lagu populer semakin tak beraturan
Seolah disengaja untuk mengondisikan alam bawah sadar masyarakat tidak teratur 
Misalnya: orang ketiga, marsihaolan, mangumma, padua-dua, marsigoitan
Dengan bebas lagu-lagu yang mengandung kata-kata ini mengudara setiap hari
Menggiring kata-kata itu terus menerus hingga familiar dalam pikiran pendengarnya
Dan kita tahu ketika sesuatu telah familiar dalam pikiran manusia
Akan mudah untuk hal itu terjadi secara nyata

Pada intensitas tertentu
Pesan subliminal dalam lagu-lagu seperti ini menggeser dan mengaburkan nilai-nilai moralitas pendengarnya
Khususnya generasi muda
Boro-boro menyalahkan media Barat merusak anak muda kita
Kita sendiri yang merusaknya

Contoh kasus:
Cinta memang tidak rasional, tapi apakah mencintai dan menerima cinta dari orang yang mudah memiliki pasangan termasuk ke dalam ketidak-rasionalan itu?

Pun demikian
Masyarakat terlihat seolah tak menyadari 
Seolah tak menghindarinya
Fenomena ini terjadi setiap saat
Malah dianggap wajar, diplesetkan
Lama kelamaan, bukan mustahil pada titik tertentu
Moral dan etika tinggal kenangan


Seperti apa rasanya melihat diri sendiri ketergantungan pada perasaan destruktif?
Bisa bayangkan seperti apa model keluarga-keluarga masa depan ketika kesetiaan hilang dari hubungan pria dan wanita dewasa?
Dari mana anak-anak masa depan melihat teladan kesetiaan?
Lalu model dunia yang seimbang kita harapkan diwujudkan oleh manusia-manusia seperti ini?
Bukan hanya tak beraturan, itu tidak bermoral
Mengatas-namakan cinta lalu melompat seperti kutu dari pribadi yang satu ke yang satu

Apa standar moralitas sekarang mengenai hubungan pribadi?
Kemana perginya nilai agamapendidikan keluarga, dan pendidikan moral kita?
Betapa murahnya perasaan itu diobral?
Betapa murahnya hasrat itu diklaim sebagai cinta?
Betapa mudahnya orang ditarik dengan 'rasa'?
Itulah bentuk-bentuk reduksi terhadap kebudayaan dan agama


Banyak masyarakat gagal setia pada pilihan
Semakin banyak perceraian 
Indikator degradasi kesakralan relasi
Memperkuat hipotesa 'dunia tidak akan membaik'


Saya, kita tidak menoleransi alasan apapun untuk ini

Benarkah itu cinta?
Apakah cinta tidak punya moral lagi?
Apakah cinta akan melabrak norma?
T I D A K
Cinta tidak sembarangan, dalam keabstrakannya, ia mulia 
Milikilah ia dengan berperilaku mulia

Marilah 
Sebagai manusia yang berpikir
Sebagai pencipta lagu
Tulislah lirik yang membangun
Setidaknya selamatkan generasi muda dengan menggenalkan lagu positif

Mari menghargai diri kita dengan bersikap setia
Menjaga diri dari kelabilan rasa yang diklaim sebagai cinta
Dengan begitu kita dapat menyadarkan orang lain

Atau perlu kita belajar dari angsamerpati, pinguin 

dan serigala
Mereka lebih manusia dari kita dalam hal kesetiaan

Sebuah kritik
Terhadap pikiran 
Terhadap 'lack of morals' generasi anak muda kini
Bukan untuk menghakimi persona

------------------------------------------
Image: http://immagini.4ever.eu/data/download/animali/uccelli/cigni-innamorati-179734.jpg?no-logo