Mereka mengatakan cinta itu datang dalam dua bentuk
satu, yang datang dari hati tanpa berpikir
Yang pertama, sudah kumiliki sejak lahir
Yang kedua, aku baru saja menyadari
Tentang ayahku
Ayah menikah pada usia 22
Setelah tamat SPG
Setahun kemudian aku lahir
Sekarang berusia 28
Dan ayah berusia 51
Aku belum menikah
Seandainya sudah menikah seusia ayah
Berarti anakku seharusnya berusia 5 tahun
Ayah menikah di usia belia
pengalaman dan pendidikannya relatif sedikit dibandingkan aku sekarang
Memang konteks jamannya berbeda
Dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing
Namun yang pasti
Jamannya mempengaruhi ayah
Cara berpikir dan bertindak
Semua yang terjadi hingga hari ini
Bagaimana ayah mendidikku
Membentuk siapa aku sekarang
Sekarang, aku mulai mengerti alasan dibalik semua yang ayah alami
Membuatku bersyukur punya ayah sepertinya di tengah kondisi ini
Dengan kekurangan yang pasti ada dalam dirinya
Seperti yang dimiliki setiap orang
Ayah sangat kritis, idealis, intelektual
Tidak suka berbicara
Tapi bicaranya to the point, membuatnya agak dihindari orang tertentu yang punya agenda pribadi terselubung
Ayah sangat perfeksionis, minimalis, simpel, tidak pernah diam merenung karena larut dalam pekerjaan
Mungkin ia berpikir dengan cara bekerja
Ayah tidak tertarik basa-basi
Ia membenci penindasan, penipuan, dusta, kemunafikan
Ia tak pernah berpikir panjang menolong orang
Hingga ia sendiri kadang terlihat tak perhitungan
Tapi ia punya alasan dan prinsip tentang menolong
Ia seorang guru yang melabrak segala pakem saat mengajar demi membuat siswanya memahami konteks yang diajarkannya
Muridnya merindukannya
Aku juga mantan muridnya
Dan ia memecutku lebih keras dari siapapun di ruangan kelas itu
Dengan semua pemikirannya yang ekstrim itu
Membuat ayah kesulitan menemukan pribadi yang mampu mendengar semua suara-suara dalam pikirannya
Sekedar untuk ngawur ngidul, tapi sayang ayah tak suka basa-basi
Beruntung ia memiliki istri yang terampil mengambil alih kemudi rumah tangga ketika ayah fokus dengan pikiran dan pekerjaannya
Kombinasi yang sempurna, karakteristik ayah dan ibu
Hingga hari ini, aku bukti cintanya pada ibu, tidak tergantikan
Ia mengantisipasi peluang yang dapat merusak rumah tangga
Dengan caranya yang keras tapi tepat
Ayah bijaksana
Tapi kelemahan ayah
Ia tidak ahli menyampaikan maksud dan keinginannya
Dan ibu juga sama
Sama-sama bersandar pada rasa percaya diantara mereka
Memang benar
Tapi seperti yang pernah dikatakan orang bijak
Sedikit sanjungan dan kemesraan itu perlu
Tapi latar belakang keluarga yang berbeda
Keluarga ayah yang terbiasa dengan logika, kritis, keras, disiplin, dan konsisten, karena kakek juga guru, jiwa yang akhirnya turun pada ayah
Tidak sungkan mengubah pikiran dan menghukum diri sendiri kalau terbukti keliru
Berbeda dengan keluarga ibu yang lemah lembut, emosional, penuh toleransi
Kesamaan mereka sama-sama konsisten dalam apa yang dikatakan
Perbedaan itu menyatukan mereka hingga lahirlah kami
Jelas, ayah perlu teman bertukar pikiran
Mencurahkan ketegangan pikirannya
Sahabat untuk mendengarkan semua protes dalam benaknya
Atas setiap hal yang dialaminya
Sedikit, mungkin aku mengerti yang ayah rasakan
Sebab aku mewarisi pikiran ayah
Membenci perbudakan, pemerasan, penghisapan tenaga, ketidakadilan
Sementara setiap hari ayah melihatnya dalam praktik hidup bermasyarakat
Mungkin karena kurangnya pengalaman dalam manajemen berpikir dan pengendalian diri
Mengakibatkan ayah sering kewalahan berdamai dengan batinnya yang memberontak
Niat baiknya sering disalah artikan
Ketulusannya dianggap naif
Ketegasannya dianggap keras kepala
Menuntun pada kesalahpahaman diantara ayah dengan beberapa temannya
Kali ini aku benar-benar memikirkan itu semua ayah
Rasanya aku ingin berlari dan memelukmu ayah
Betapa kau berjuang dalam semua kekuranganmu
Untuk menjadi ayah sekaligus melawan pembodohan
Rasanya aku ingin berlari dan memberimu seteguk air segar ayah
Aku tak dapat membayangkan apa yang telah engkau lalui
Terimakasih untuk semua hal baik yang engkau lakukan di luar sepengatahuanku ayah
Betapa besar cintamu untukku ayah
Andai kudapat membalas itu semua
Terimakasih atas semua yang kau wariskan padaku
Yang dulu pernah kusesali, dalam ketidaktahuanku, kekanak-kanakanku
Kini mataku terbuka, kerasnya perjuanganmu mendidikku
Dari ketidaksempurnaamu, aku menyempurnakannya dalam doaku pada yang Kuasa
Walau kita hanya bicara seperlunya saja di telepon
Aku tahu engkau yang paling mendoakan kesehatanku
Walau kita hanya tersenyum lepas saat saling berhadapan
Aku tahu engkau yang paling menghargaiku
Walau kita hanya bicara seperlunya saat bersama
Aku tahu engkau yang paling bertaruh atas keselamatanku
Apa yang tidak engkau tukarkan demi diriku ayah?
Terimakasih ayah
Aku tak dapat mememelukmu saat ini
Seperti kala itu ayah
Kapan aku bisa membalas pelukanmu seperti kala itu?
Dimana aku hanya bayi kecilmu
Yang selalu bertanya: 'kapan aku bisa merasakan belaian tanganmu yang hangat dan nyaman itu lagi?'
Kita tidak terbiasa seperti orang-orang itu berbasa-basi
Tidak mengubah sedikitpun kasih sayangmu
Terkadang mau yang seperti mereka ayah
Bercanda bersama
Tapi kembali lagi
Kita bukan tipe keluarga seperti itu ayah
Aku paham itu
Seperti cerita nenek, tentang bagaimana ia dan kakek membesarkan kalian
Tidak ada yang kurang ayah
Aku bangga punya ayah sepertimu
Kluarga seperti keluarga kalian
Aku merasa beruntung ayah
Semoga engkau merasakan kerinduan ini ayah
Dimanapun engkau kini berpeluh keringat
Sehat-sehat terus ayah
Sekalipun mungkin kita tidak akan pernah berbasa-basi
Yang aku tahu pasti, cintamu paling besar untukku Ayah
Itu lebih dari segalanya bagiku ayah
