Manusia memiliki hasrat dan perspektif yang berbeda satu sama lain, itu alami.


Pada titik tertentu, perbedaan hasrat dan perspektif itu memberi keindahan karena menghadirkan corak yang berbeda.

Namun juga pada titik tertentu, perbedaan itu membuka peluang terjadinya gesekan ketika niat menyeragamkan perspektif yang berbeda muncul.

Oleh kerena itu, perbedaan perlu dikelola, kapan ia sebagai keindahan, kapan sebagai penyebab gesekan.

Tidak semua individu mampu mengelola perbedaan, karena manusia adalah pembelajar yang tidak selalu tuntas belajar.

Sebagai makhluk sosial, sering tujuan bersama ada di seberang perspektif pribadi.

Untuk menyeberang kesana, kita harus berani menoleransi perbedaan bahkan mengadili perspektif pribadi demi perspektif kolektif.


Tanpa toleransi dan keadilan, di sanalah potensi pergesekan terjadi.
Itulah sebabnya dalam matematika, kita perlu mencari nilai persamaan untuk bisa berdiri bersama dan nilai pertidaksamaan untuk menoleransi perbedaan tanpa memaksakan kebenaran yang satu terhadap yang lain.

Berarti nilai matematika yang sering anjlok penyebab intoleransi kita?
Apakah mereka yang toleran berarti nilai matematikanya bagus?
Hmmm, bisa jadi ada korelasi diantara keduanya, tapi modus operandi manusia tidak pasti sepasti matematika.

Hati orang siapa yang tau?
Kembali lagi, human nature memang rumit, sehingga berlakulah adagium 'sebaik-baiknya pemahaman adalah paham bahwa kita tidak bisa memahami setiap orang'.