Saya memiliki beberapa kenalan dari golongan agamawan yang secara tegas menyatakan kecenderungannya sebagai anti filsafat karena filsafat membingungkan dan menolak eksistensi Tuhan.

Sementara itu dari golongan penggemar filsafat yang menggeluti lebih dari satu cabang ilmu (termasuk ilmu agama), justru berpikiran terbuka tanpa kehilangan ketertarikannya terhadap agama karena melihat agama sebagai cabang filsafat itu sendiri.

Perbedaan ini membuat saya bertanya, mengapa sebagian agamawan cenderung anti filsafat sementara para pemikir (filsuf) justru terbuka terhadap agama?

Francis Bacon pernah menjawab pertanyaan ini: 'filsafat yang dangkal membuat orang cenderung mengacuhkan agama, tapi filsafat yang mendalam menuntun orang terhadap agama'.

***
Benarkah filsafat berbelit-belit dan menolak eksistensi Tuhan?

Filsafat sebagai 'metode berpikir' adalah metode para pendiri agama dalam merumuskan asumsi-asumsi yang akan menghasilkan 'produk pikiran' sebagai dasar keyakinan suatu agama yang nantinya kita sebut 'doktrin-doktrin dasar'.

1. Metode Induksi (alasan mendahului kesimpulan)
Contoh: Berdasarkan bukti-bukti ini..., berarti Tuhan ada.


2. Metode Deduksi (kesimpulan mendahului alasan)
Contoh: Tuhan pasti ada, berikut ini bukti-buktinya ...


Sehingga berfilsafat dalam agama berarti 'berpikir' berdasarkan doktrin agama tertentu. Yang mana, doktrin-doktrin tersebut merupakan 'produk pikiran' agama tertentu yang otentik. Misalnya doktrin tritunggal yang hanya ada dalam agama Kristen.

***
Berbelit-belit adalah ketika argumen-argumen premis tidak dapat menyimpulkan keberadaan Tuhan, begitu juga dengan kesimpulan lainnya.


Filsafat mengandalkan rasio pada proses penalarannya karena otak manusia bekerja berdasarkan silogisme 'jika' dan 'maka'.

Bahkan ketika seseorang bertindak tidak rasional, ketidakrasionalan tersebut merupakan proses rasionalisasi yang tidak selesai atau tidak lengkap.

Namun tidak melulu perkara rasionalitas, beberapa cabang filsafat justru merumuskan kesimpulan berdasarkan intuisi, sejarah, dan simbol-simbol mempertegas fungsi filsafat sebagai metode berpikir.

Saya (dan Anda mungkin) memiliki sikap beragama yang 'tidak biasa' karena memahami secara terpotong-potong, sehingga dalam praktik 'keagamaan' itu sendiri, kita justru mengesampingkan kemanusiaan namun merasa telah mengamalkan atau membela agama.

Alhasil, agama-agama yang baik terlihat seolah 'menindas' mental maupun fisik manusia yang dianggap berbeda, supaya tunduk di bawah subordinasi agama-agama.

Artinya ketika saya hanya memahami filsafat agama saya secara terpotong-potong, hal itu menyebabkan saya cenderung superior atau fanatik.

Sebaliknya ketika saya memahami filsafat agama saya secara utuh, maka saya cenderung toleran terhadap agama-agama bahkan terhadap ketidakberagama-an.