Berbicara mengenai isu mayoritas represif terhadap minoritas, setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:
  1. Insting alami manusia yang cenderung ingin menguasai
  2. TIngkat kecerdasan menalar (reasoning)
  3. Tingkat pengetahuan tentang sesuatu yang dibela
  4. Pengalaman (pihak mayoritas) dalam hal tenggang rasa
  5. Integritas penegakan hukum
  6. Intervensi pemimpin
  7. dll

Membawa-bawa agama untuk membenarkan penindasan merupakan suatu kemelesetan, karena pada dasarnya naluri primitif manusia cenderung ingin mendominasi atau mempengaruhi sekitarnya

Dalam skala luas, manifestasi kecenderungan tersebut terwujud menjadi 'keinginan' menjadikan orang lain menjadi seperti dirinya

Menjadi separtai, sekeluarga, sepemahaman, senegara, bahkan seagama

Walau belum tentu ia memahami ajaran agama yang dianutnya

Hal ini menegaskan bahwa penindasan atas nama agama hanyalah topeng
Dalam praktiknya agama cukup potensial dijadikan alat kamuflase
Itulah kelemahan agama dapat dijadikan alat untuk menyelundupan doktrin sesat, bagi pikiran yang tidak kritis

Bahkan mereka yang kritis tidak selalu berhasil mendeteksi kesesatan tersebut

Bagi oknum-oknum oportunis dan culas, agama dan kurang kritisnya masyarakat adalah peluang emas untuk mewujudkan ambisi

Ambisi pribadi (taksonomi bloom), tidak selalu dapat dicapai dengan mulus
Perlu mereka menggerakkan massa pada suatu kondisi pemikiran kolektif untuk melupakan aturan, moral, norma, sosok, apapun demi ambisi mereka

Kita bisa berdebat sepanjang jaman membuktikan bahwa Tuhan dalam (setidaknya) agama-agama besar tidak mengajarkan pembantaian

Dalam kasus yang menjerat bpk Ahok beberapa waktu lalu, dari segi kinerja beliau memang bagus, namun beliau memiliki celah yang dapat diserang dengan kepicikan: tempramental

Sementara tempramental adalah sesuatu yang berbahaya di tengah lawan politik yang opportunis, ibarat ayam di kandang buaya

Tidak jarang, mengetahui mana yang salah dan benar lantas mencegah seseorang melakukan pelanggaran

Menghadapi masyarakat yang dalam keadaan emosi, terhasut, dibutuhkan lebih dari sekedar memahami benar-salah untuk menegakkan keadilan, kemampuan mengabaikan hasrat atau ambisi pribadi.

Kebanyakan pelanggaran, persekusi terjadi karena hasrat, tak peduli mana benar dan salah
Karena memang lebih mudah menyalahkan, mencaci, menuntut, dan meneriaki daripada membuktikan kebenaran dengan berpikir
Tidak semua orang suka berpikir

Jadi, bagi siapapun yang menegakkan keadilan, idealis, dituntut sempurna, bahkan dalam kesempurnaan itu masih diadili dengan jumlah massa yang tidak peduli kebenaran

Sedangkan Yesus sendiri diadili dan disalibkan

Mengenai isu mayoritas minoritas, tidak ada hubungannya dengan agama
Yang tertindas bukanlah kaum minoritas
Tetapi kaum yang lemah
Lemah secara moral, intelektual dan materi, atau kuantitas
Atau salah satu diantaranya

Siapa yang menindas orang yang bermoral baik, intelek, sukses? 
Massa yang murka

Seharusnya
Dengan moral, ia memahami manusia
Dengan intelektual, ia memahami konteks jaman

tapi 
Dengan kekayaan, ia dapat mengubah situasi
Dengan teriak massa yang jauh lebih besar, ia dapat mempersekusi

Image: static.independent.co.uk