Ayah
Apa kabar di keabadian sana?
Aku, putri bungsumu yang engkau tinggalkan
Tak banyak ingatan yang tersisa dari masa itu
.
Baru saja aku merayakan hari lahirku
Terimakasih t'lah hadirkanku di dunia
Seandainya engkau di sini
Bahagiaku lebih lengkap
.
Ayah
Kini aku dewasa
Banyak masa sulit kulewati tanpamu
Sepanjang jalan, tiada hari tanpa wajahmu
.
Panjang perjalanan telah kulalui
Seperti apa rasanya menjadi anakmu ini
Kepergianmu meninggalkan ruang kosong yang tak pernah terisi
Meski kucoba memanggil namamu
.
Telah kubuktikan
Aku mampu bahagiakan keluarga
Bahagiakan ibu
Dan Tuhan sungguh baik, lebih dari yang kuminta
Diijinkannya kuperoleh
.
Ayah
Ada kerinduan dalam sanubari
Tentang hal-hal yang tidak sempat engkau tanyakan, "hendak jadi apa aku setelah dewasa?"
Aku selalu berharap engkau menanyakan itu
.
Aku rindu melakukan banyak hal bersamamu
Seperti yang mereka lakukan dengan ayahnya
.
Andai kau bisa meneleponku
Menanyakan keadaanku
Menyambutku di depan rumah
Membelaku saat bertentangan dengan orang-orang
Memberiku kejutan
Mengajakku ke rumah opung
Menemanimu martoba
Menyusuri pematang sawah kita
Memasakkan makanan kesukaanku
Menasehatiku tentang seorang pria
Atau membangunkanku kala telat bangun
.
Aku tidak menyesalkan yang terjadi di masa lalu
Betapa pun adanya
Aku menyadari itu semua hanya kerinduan
Bersyukur masih ada ibu yang menjagaku
.
Lihatlah perjuangan ibu membesarkan kami
Ia begitu gigih meski sendirian
Tak sedikit pun pernah ia kehilangan semangat
Ia selalu berserah dalam doa pada Tuhan
.
Apa gerangan yang engkau katakan padanya, seandainya mungkin berbicara?
.
Ayah
Suaramu sayup kudengar
Terngiang di kepalaku
Wajahmu
Senyummu
Ah betapa aku rindu
Dan engkau akan selalu kurindukan
.
Aku selalu berdoa
Entah engkau melihatku dari keabadian sana
.
Kutitipkan sebait demi sebait harapan
Kelak suatu saat kumelihatmu
.
Kelak aku setegar ibu
Mampu sendiri jika harus sendiri
Bersama jika harus bersama
Membuat keluarga kita bangga