Pandangan sepintas saya sebagai pendidik (pembelajar) di STM, tanpa berusaha judgmental atau playing victim:
.1. Mempertanyakan pemahaman anak STM yang ikut demo tempo hari dalam konteks tuntutannya, terkait habitus si anak yang jarang bahkan tak pernah menyentuh ranah UU di gedung-gedung SMK.
.
2. Membandingkan "kesadaran naif" anak STM yang mengalami "diskontinuitas sejarah" dengan "kesadaran kritis" pahlawan-pahlawan masa lalu yang hidup dalam ruang sejarah perjuangan itu sendiri, merupakan suatu kekeliruan pikir.
...
Mungkinkah kita sedang dalam sebuah fenomena "prank" untuk merayakan postrealitas dan matinya ruang privasi (diskusi dengan pihak terkait) yang menegaskan status kita sebagai masyarakat epilepsi informasi (yang penting wow dan viral) di era ekstasi komunikasi (mabuk dan kecanduan informasi) ini? Semoga tidak.
.
Respon pembaca:
Alhafiz Atsari:
Kalau membaca disertasi Ben Anderson "Revolusi Pemuda", founding fathers kita tidak ada apa apanya tanpa kehadiran pemuda yg merongrong Jepang di seantero Nusantara. Rezim yg korup saat ini, tidak akan gelisah jika hanya dimaki oleh sekelompok kecil mahasiswa.
.
Semua punya porsi perjuangan dan signifikansinya
.
Gomgom Lumbantoruan:
Alhafiz Atsari 1. Setuju bung, kehadiran pemuda merongrong Jepang di seantero Nusantara kala itu. Kalau boleh menambahi, bukan hanya pemuda, bahkan semesta, semua umur turut ambil bagian, termasuk anak-anak dan perempuan.
Namun yang kita hadapi saat ini bukan perang semesta.
.
Apakah pemerintah secara barbar membantai warga, sejauh yg saya amati, tidak.
.
Pun ada korban berjatuhan di berbagai daerah, apakah itu terbukti tindakan aparat?
Separah itu kah situasi kita sekarang?
.
2. Saya setuju, sebagian oknum rezim ini korup, meresahkan masyarakat.
.
Tapi saya tak setuju jika harus mengorbankan anak-anak yg relatif "belum paham" konteks persoalan.
.
Kita tentu tidak mau negara kita terus-terusan hanyut dalam pengulangan sejarah berdarah.
.
Apakah sebelumnya, mahasiswa (sebagai inisiator aksi ini) sudah mengupayakan semua cara yg dapat ditempuh makanya aksi? Bukankah itu kontra produktif.
.
Siapa yang menjamin keselamatan anak-anak ini?
Siapa yg bertanggung jawab kalau sesuatu yg tidak diinginkan menimpa mereka?
Itulah yg saya soroti, haruskah mempertaruhkan nyawa anak-anak ini?
.
Saya tidak bisa percaya sepenuhnya motif di balik aksi ini, isi tuntutan, panitia hingga manajemen aksi, media memberitakan beberapa barang bukti adanya agenda di luar konteks ruukpk dan ruukuhp yang memanfaatkan anak STM.
.
3. Saya menyorot dr perspektif guru STM, metode aksi yg relevan untuk anak seusia mereka itu adalah menuntaskan bidang ilmunya hingga taraf "berkarya" supaya ketika mereka keluar dr lembaga pendidikan, mereka jd masyarakat yg produktif dan bernilai secara ekonomi.
.
Dgn dukungan ekonomi dan intelektual yg cukup, kelak mereka bisa melanjutkan pendidikan.
.
Bermodalkan pendidikan yg mumpuni itu jug, terserah mereka mau masuk sistem/birokrasi atau membuka lapangan kerja yg dibutuhkan masyarakat luas.
.
Dan, kalau mereka masuk sistem pun, tak ada yg menjamin ideologi/idealisme mereka tidak berubah.
.
Lagi, kalaupun mereka menjadi penyedia lapangan kerja, tak ada yg menjamin mereka tidak menjadi generasi kapitalis baru.
.
Kurang lebih, begitu perspektif saya bung.
.
Sebaik-baiknya marxist adalah yg berjuang sesuai konteks sejarahnya.
Dalam hal ini, saya condong ke sana.
.
Alhafiz Atsari:
Gomgom Lumbantoruan bisa baca buku Youth in Suspect Society karya Henry A. Giroux utk tambahan pisau analisa
.
This book argues that with the rise of market fundamentalism and the ensuing economic and financial crisis, youth are facing a crisis unlike that of any other generation. With the collapse of the welfare state, youth are no longer seen as a social investment but as troubling and, in some cases, disposable, especially poor minority youth. Caught between the discourses of consumerism and a powerful crime-control-complex, young people are increasingly either viewed as commodities or are subjected to the dictates of an ever expanding criminal justice system.
.
Constructing a new analytic of youth, Giroux explores the current conditions of young people and their everyday experiences within this emerging crime complex, a politics of disposability, and the ever present market-driven forces of commercialization and commodification. Drawing upon the work of theorists such as Zygmunt Bauman, Judith Butler, Agamben, Foucault, and others as a theoretical foundation for addressing the growth of a rigid market fundamentalism and a punishing state, Giroux explores both the increasing militarization and commercialization of schools and other public spheres, and what can happen to a society in which young people are increasingly portrayed as dangerous and, hence, no longer appear to be a referent for a democratic future. But Giroux does more than examine the implications this new war on youth has for American society, he also analyses the role that educators, parents, intellectuals, and others can play in both challenging the plight of young people deepening and extending the promise of a better future and a sustainable and viable democracy.
.
http://www.henryagiroux.com/
.
Gomgom Lumbantoruan:
Alhafiz Atsari Pasti, terimakasih, bung.
Kalau membaca disertasi Ben Anderson "Revolusi Pemuda", founding fathers kita tidak ada apa apanya tanpa kehadiran pemuda yg merongrong Jepang di seantero Nusantara. Rezim yg korup saat ini, tidak akan gelisah jika hanya dimaki oleh sekelompok kecil mahasiswa.
.
Semua punya porsi perjuangan dan signifikansinya
.
Gomgom Lumbantoruan:
Alhafiz Atsari 1. Setuju bung, kehadiran pemuda merongrong Jepang di seantero Nusantara kala itu. Kalau boleh menambahi, bukan hanya pemuda, bahkan semesta, semua umur turut ambil bagian, termasuk anak-anak dan perempuan.
Namun yang kita hadapi saat ini bukan perang semesta.
.
Apakah pemerintah secara barbar membantai warga, sejauh yg saya amati, tidak.
.
Pun ada korban berjatuhan di berbagai daerah, apakah itu terbukti tindakan aparat?
Separah itu kah situasi kita sekarang?
.
2. Saya setuju, sebagian oknum rezim ini korup, meresahkan masyarakat.
.
Tapi saya tak setuju jika harus mengorbankan anak-anak yg relatif "belum paham" konteks persoalan.
.
Kita tentu tidak mau negara kita terus-terusan hanyut dalam pengulangan sejarah berdarah.
.
Apakah sebelumnya, mahasiswa (sebagai inisiator aksi ini) sudah mengupayakan semua cara yg dapat ditempuh makanya aksi? Bukankah itu kontra produktif.
.
Siapa yang menjamin keselamatan anak-anak ini?
Siapa yg bertanggung jawab kalau sesuatu yg tidak diinginkan menimpa mereka?
Itulah yg saya soroti, haruskah mempertaruhkan nyawa anak-anak ini?
.
Saya tidak bisa percaya sepenuhnya motif di balik aksi ini, isi tuntutan, panitia hingga manajemen aksi, media memberitakan beberapa barang bukti adanya agenda di luar konteks ruukpk dan ruukuhp yang memanfaatkan anak STM.
.
3. Saya menyorot dr perspektif guru STM, metode aksi yg relevan untuk anak seusia mereka itu adalah menuntaskan bidang ilmunya hingga taraf "berkarya" supaya ketika mereka keluar dr lembaga pendidikan, mereka jd masyarakat yg produktif dan bernilai secara ekonomi.
.
Dgn dukungan ekonomi dan intelektual yg cukup, kelak mereka bisa melanjutkan pendidikan.
.
Bermodalkan pendidikan yg mumpuni itu jug, terserah mereka mau masuk sistem/birokrasi atau membuka lapangan kerja yg dibutuhkan masyarakat luas.
.
Dan, kalau mereka masuk sistem pun, tak ada yg menjamin ideologi/idealisme mereka tidak berubah.
.
Lagi, kalaupun mereka menjadi penyedia lapangan kerja, tak ada yg menjamin mereka tidak menjadi generasi kapitalis baru.
.
Kurang lebih, begitu perspektif saya bung.
.
Sebaik-baiknya marxist adalah yg berjuang sesuai konteks sejarahnya.
Dalam hal ini, saya condong ke sana.
.
Alhafiz Atsari:
Gomgom Lumbantoruan bisa baca buku Youth in Suspect Society karya Henry A. Giroux utk tambahan pisau analisa
.
This book argues that with the rise of market fundamentalism and the ensuing economic and financial crisis, youth are facing a crisis unlike that of any other generation. With the collapse of the welfare state, youth are no longer seen as a social investment but as troubling and, in some cases, disposable, especially poor minority youth. Caught between the discourses of consumerism and a powerful crime-control-complex, young people are increasingly either viewed as commodities or are subjected to the dictates of an ever expanding criminal justice system.
.
Constructing a new analytic of youth, Giroux explores the current conditions of young people and their everyday experiences within this emerging crime complex, a politics of disposability, and the ever present market-driven forces of commercialization and commodification. Drawing upon the work of theorists such as Zygmunt Bauman, Judith Butler, Agamben, Foucault, and others as a theoretical foundation for addressing the growth of a rigid market fundamentalism and a punishing state, Giroux explores both the increasing militarization and commercialization of schools and other public spheres, and what can happen to a society in which young people are increasingly portrayed as dangerous and, hence, no longer appear to be a referent for a democratic future. But Giroux does more than examine the implications this new war on youth has for American society, he also analyses the role that educators, parents, intellectuals, and others can play in both challenging the plight of young people deepening and extending the promise of a better future and a sustainable and viable democracy.
.
http://www.henryagiroux.com/
.
Gomgom Lumbantoruan:
Alhafiz Atsari Pasti, terimakasih, bung.