Bila canda tawa di ruang kumpul keluarga sudah jarang
Bila pembicaraan singkat setelah makan sudah jarang
Bila ayah-ibu bercerita pengalaman masa kecil sudah jarang
Bila tutur bicara dalam perbedaan usia sudah jarang

Bila tuan dan puan muda duduk di acara adat sudah jarang
Memperhatikan para tetua saling berbalas pantun
Memperhatikan para tetua taat pada tradisi
Memperhatikan para tetua melebur dalam ritual-ritual

Bila ketercerabutan kita dari tradisi menyumbang sebagian krisis identitas muncul belakangan ini, tapi di sisi lain menyumbang kemajuan, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan:

"Sejarah manakah yang lebih berhak diulang-ulang?"
"Generasi manakah yang lebih berhak mengulang-ulang sejarah?"
"Jika harus, pada tradisi yang manakah kita ingin kembali, bukankah sebagian tradisi membelenggu?"

Mungkinkah?
... ada "hantu" yang sedang mencuri perhatian orang tua dan anak lewat kesibukan-kesibukan yang luar biasa, lewat kerumitan-kerumitan yang melelahkan, lewat kebiasaan-kebiasaan yang membendakan manusia?

Hantu-hantu "memakan" kesadaran kita hingga lepas dari tradisi berbagi, gotong royong, tenang, damai, teratur, komunal, dan idealisme (sas)?

Mungkinkah hantu itu "sisi gelap" dari globalisasi, modernisasi, wasternisasi, hingga pendidikan ala Barat yang kita jamu di ruang tamu dan pertontonkan dengan bangga di hadapan anak-anak dengan berkata, "inilah kemajuan yang lahir dari kebebasan berpikir dan kehendak bebas yang mengoptimalkan potensi manusia?"

Atau

... mungkinkah sekelompok generasi tua yang terjebak dalam kenangan masa lalu, sedang memaksakan kebiasaan masa lalu untuk diulang oleh sekelompok generasi muda masa kini yang sedang membentuk sejarahnya sendiri?

Di antara generasi tua yang ingin mempertahankan tradisi dan generasi muda yang ingin mengukir sejarah baru, adakah celah untuk mendamaikan kedua generasi tanpa harus meninggalkan tradisi atau menelan modernitas bulat-bulat?

📷 Ilustrasi sosok Siamak Pandan Nauli, permaisuri Raja Sumba II yang melahirkan Toga Simamora - Sihombing.