... dulu, saya meyakini adanya narasi tunggal tentang 'konsep final' suatu sistem pendidikan maupun negara yang ideal dan sempurna.

Keyakinan tersebut telah terejawantah dalam berbagai visi gerakan yang pernah saya gagas sendiri maupun gerakan yang saya ikuti.
Alhasil, selain sifatnya utopis, sulit bahkan hampir mustahil terealisasi, ia sulit dievaluasi.

Berangkat dari pengalaman tersebut, dan dengan mengamati sejarah kurikulum pendidikan di negara kita, sejauh ini saya menemukan tesis berikut:
Pemikiran yang menganggap adanya narasi tunggal atau 'konsep final' suatu sistem pendidikan maupun negara yang ideal dan sempurna, PERLU direvisi.

Sebagaimana Louise El Yaafouire mengatakan, "tidak ada guru, kurikulum dan mata pelajaran yang sempurna, kita justru belajar dalam proses perubahan-perubahan itu".

Hal ini menekankan supaya kita beradaptasi terhadap perubahan.
Karena, selain menghalangi perkembangan pendidikan, ia juga bertentangan dengan sifat sejarah yang dialektis, dimana sejarah dan manusia terlibat dalam interaksi saling mempengaruhi.

Sebaik-baiknya sistem adalah yang dalam perjalanannya mampu beradaptasi terhadap setiap fragmen realitas, terhadap tuntutan sejarah yang berubah-ubah setiap saat, tanpa kehilangan identitas budaya.

Sebagai guru, elemen masyarakat yang mengambil bagian dalam pendidikan, pemahaman ini dapat menjadi landasan kokoh dalam menganalisis dan merumuskan pembelajaran yang pragmatis.
.
.
.
Dame ma di hita.