Nak, 
waktu gadis, Ibumu menyebut Ayah 'gila'
tapi ternyata dia lebih 'gila': menikah dengan Ayah.



[a blast from future]

Sore itu, di ruang tengah
Seperti biasa, bermain bersama anak gadisku, anakku yang kedua, Yohana
Sehabis bermain dengan bundanya di kebun, ia mengajukan satu pertanyaan:
- Ayah
Ia boru?


- Kenapa anak burung di atas pohon? Kenapa tidak di dalam rumah kita?
Ooh, itu karena mereka suka pohon


- Kakak juga suka pohon yah
Ia, tapi kakak kan manusia, seperti Ayah. Manusia sarangnya di rumah


- Kasihan yah kalau anak burungnya jatuh
Bunda sama ayahnya ada disitu boru


- Tak ada disana tadi yah
Mungkin mereka lagi cari makan boru


-Boleh kakak beri makan anak burungnya yah?
Boleh boru


-Ayoklah yah, biar kakak ambil makanan
Makanan mereka beda sama kita boru


-Mereka makan apa yah?
Mereka makan cacing tanah, ulat dan buah-buahan yang manis boru


-Kalau begitu, kakak boleh mencari cacing yah?
Sekarang?


-Ia ayah, kakak ditemani sama Bona (anakku yang sulung)
Hmm, kalau begitu panggil abangmu dulu


-Baik ayah (sambil berlari dari antara buku-buku yang tergeletak di lantai)

Tiba-tiba, bundanya datang membawa beberapa iris pepaya yang diambil dari kebun:

-Taraa, ayo kita makan dulu mumpung masih segar, mana si kakak?
Itu lagi manggil Bona, katanya mau cari cacing tanah untuk dikasikan sama anak burung di kebun belakang.


-Loh, ayah yang nyuruh atau?
Kemauan dia sendiri, udah, biar aja


-Nanti kalo jatuh gimana?
Ini ayah mau kesana melihatnya


-Hmm, oh ia, terlalu dini ayah mengajarkan ini semua sama mereka? masih anak-anak... (sambil memungut buku-buku yang tergeletak di lantai)
Tidak apa-apa loh, kan ayah uda baca dulu, lagian ayah menggunakan bahasa yang mereka mengerti kok


-Aku kasihan aja, masih waktunya banyak bermain tapi ayah sudah membebani mereka untuk memikirkan hal-hal seberat itu, itu konsep yang rumit loh... dan aku waktu muda tidak gini-gini amat kok (setengah tertawa)
Tenang aja, justru itu yang melatih mereka berpikir kritis dan terbiasa disiplin, dua hal yang paling mereka perlukan itu di masa depan. Kurasa, kita sudah sama-sama paham itu.


-Ia memang, cuma mengingatkan aja, intinya ayah juga paham maksud bunda...  mereka tidak seperti kita dulu. Dan aku masih ingat pertama kali terpengaruh oleh semua keanehan atau kegilaanmu itu, tidak pernah terbayangkan seperti sekarang ini yah, syukurlah. Asal, jangan sampai anak-anakku juga mengikuti 'kegilaanmu' ini di usia belia mereka... haha
Pelan-pelan bilangnya, anak-anak disini, kurang baik mereka mendengar kita kek pacaran seperti ini (charming smile)


-Upsss, haha, siap ketua (sambil meninggalkan ruang tamu)

Kemudian anak-anak datang membawa sekop dan sarung tangan:


-Yohana: Ayah, ayo
-Bona: Ayah saja yang menemani kakak ya
Hehe, nanti abang yang manjat, ayah di bawah mengawasi



-Ayah, tadi kakak dengar bunda bilang 'gila', siapa yang 'gila' yah?
Hehe, maksud bunda tadi adalah rajin, rajin boru... 


-Iakah yah?
Boru, waktu gadis, bunda sering menyebut Ayah 'gila'tapi ternyata dia lebih 'gila' menikah dengan Ayah (sambil melihat sekitar, berharap bundanya gak mendengar)
Hehe... eh, kita cari cacing tanahnya dimana boru?



-Di kebun kita yah?
Ayo (berjalan bersama Bona sambil menggendong Yohana)



- Image:
https://i.pinimg.com/736x/e0/e6/d2/e0e6d2acb5023bf69cb48fb3f95248be--love-reading-reading-library.jpg