" Albert Einstein pernah berkata: 'Anda bisa percaya bahwa segala sesuatunya adalah keajaiban ATAU tidak percaya sama sekali yang namanya keajaiban. "

Setelah membaca komen-komen di medsos terkait peristiwa yang menimpa KM. Sinar Bangun kemarin, jadi tergerak untuk menuliskan artikel ini. Secara umum, komentator peristiwa yang menimpa KM. Sinar Bangun kita pisahkan dalam 3 kategori:


1. Percaya Mitos dan mengaku (Realist)
2. Tidak percaya dan tidak mengakui Mitos (Scientist)
3. Percaya Mitos tapi tidak mengaku (Hypocrites)



1. Percaya Mitos dan Mengakuinya (Realist)
Mereka percaya Mitos dalam kehidupan sehari-hari dan menghubungkannya terhadap insiden KM. Sinar Bangun. Kepercayaan tersebut diperlihatkan dan diketahui publik. Contohnya, mereka yang menghubungkan tertangkapnya ikan mas berbobot kurang lebih 15 Kg dengan kejadian KM. Sinar Bangun. Latar belakang pemikiran mereka bahwa sebelum kehadiran agama, semua orang percaya terhadap hal-hal gaib. Ia merupakan bagian dari budaya, dalam hal ini budaya Batak, identitasnya sendiri. Baru beberapa dekade belakangan ini kita mengenal agama dan dapat berkata: 'untuk percaya pada hal-hal gaib dan mitos, itu tergantung pribadi setiap orang'.

2. Tidak percaya dan tidak mengakui Mitos (Scientist)
Mereka melihat setiap peristiwa terjadi karena hubungan sebab-akibat, segala sesuatu terjadi karena pertentangan antara dua hal yang menimbulkan hal lainnya (dialektika). Semua sebab-akibat yang dapat diterangkan oleh logika atau akal sehat. Tidak ada ruang untuk hal gaib dan mitos. Contohnya adalah para peneliti dan ilmuwan yang menganalisis penyebab tenggelamnya KM. Sinar Bangun berdasarkan data-data faktual.

3. Percaya Mitos tapi tidak mengakuinya (Hypocrite)
Berdasarkan pengamatan penulis, mereka generasi yang lahir sekitar tahun 1960 hingga 1980-an. Generasi yang mengalami 'culture twist' atau pusaran budaya atau pusaran jaman: jaman old, transisi dan jaman now. Pengaruh pusaran sedikit banyak menjebak pemikiran dalam kondisi serba 'setengah': setengah relijius, setengah ilmiah. Banyak dari generasi ini mengatakan:

'hari gini masih percaya takhayul?'
'sudah puluhan tahun kita beragama, tapi masih percaya mitos?'
dst, ...


Apakah saya seorang pemuka agama, akademisi, awam, seharusnya menyadari bahwa dunia memiliki Kuasanya sendiri, orang-orang sering menyebutnya Huaso Ni Portibi dan biasanya ia diidentikkan sebagai Kuasa Kegelapan. Terlalu banyak hal di muka bumi yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat, hingga saat ini. Contoh paling nyata, proses pembangunan Piramida di Mesir, proses pembangunan Candi Borobudur, Kesamaan bentuk dan relief benda-benda peninggalan kuno di berbagai belahan bumi yang terpisah antar-benua, dll.

Kuasa Gelap eksis untuk menegaskan eksistensi kuasa Terang. Dalam Alkitab sendiri terdapat kisah-kisah tentang pekerjaan Setan yang mencelakai manusia, baik itu secara frontal maupun melalui perantaraan media seperti pohon, alam dan benda-benda lain. Sejak permulaan, manusia hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh energi atau kuasa-kuasa supranatural, untuk itulah manusia perlu memaksimalkan akal budi pemberian Tuhan dalam mengamati alam dan memperhitungkan resiko. Diatas semua itu, keyakinan (iman) yang ditopang oleh akal budi (logika) adalah yang terpenting.


Jika saya menyindir orang lain (dalam hal ini, menghubungkan ikan mas terhadap musibah KM. Sinar Bangun) yang percaya pada hal gaib dan mitos, sementara dalam waktu yang sama, saya sendiri mempercayai hal gaib dan mitos dalam bentuk lain (percaya pada penyertaan leluhur dan kehadiran begu ganjang/hantu) lalu apa perbedaan antara saya dan orang yang saya sindir? Dalam bahasa Inggris, disebut Hypocrite, dalam bahasa Indonesia 'munafik'.

Contoh penggunaan akal budi: dengan perhitungan sederhana, sebelum menaiki suatu kapal, kita dapat menganalisis daya muat maksimal kapal tersebut. Jika daya muat maksimalnya hanya 10 ton dalam kondisi cuaca bagus, maka dalam kondisi badai, daya dukung maksimal tereduksi bahkan hingga nol. Reduksi terburuk adalah menghancurkan kapal, mengancam keselamatan kita.

Faktor terbesar penyebab kecelakaan dalam hal ini adalah 'kelalaian manusia' secara akal budi (logika), baik si pemilik KM. Sinar Bangun dan penumpang. Kelalaian pribadi maupun kelalaian kolektif yang berasal dari konformitas (kecenderungan mengikuti suatu tindakan karena melihat orang lain).

-Image: https://17merdeka.com/photo/berita/dir062018/7421_Poldasu-Selidiki-Over-Kapasitas-KM-Sinar-Bangun-.jpg