Saya pernah fanatik terhadap pemahaman, saking 'fanatiknya', secerdas apapun argumen yang menunjukkan kekeliruan pemahaman saya: malah saya semakin defensif.

Lalu apa yang membuat saya akhirnya berpikiran terbuka?



Ya, adanya supremasi dari seseorang yang saya hargai, guru spritual. Beliau menjelaskan dasar-dasar pemahaman dalam memandang hal-hal tertentu sebagaimana harusnya. 



Dari sini saya belajar betapa besarnya pengaruh pemimpin, dalam hal ini pemimpin agama. Sama halnya dengan konteks kewarganegaraan yang kita alami saat ini. Secerdas apapun pihak 'seberang' yang mencoba memberi argumen pembanding yang cerdas untuk menunjukkan kekeliruan konsep kewarganegaraan yang mereka miliki, malah reaksinya perlawanan yang muncul. 



Saya sering mendengar pemimpin agama yang 'cedera otak' atau 'cacat paham' meracuni masyarakat secara rutin, mulai dari anak-anak hingga orang orang tua, rutin didoktrinasi untuk memiliki rasa superioritas tinggi, memiliki kebencian atau antipati yang konsisten terhadap kelompok tertentu.



Untuk isu-isu SARA, Pemerintah sebagai lembaga yang berwenang kiranya lebih serius dan lebih peka. 



Salah satu penanganan yang mendesak untuk dilakukan adalah memberantas pemimpin-pemimpin agama manapun yang melakukan penyesatan atau mengajarkan kebencian terhadap orang/agama lain.



Selain itu Pemerintah perlu tegas mengimbau masyarakat untuk mendokumentasikan aksi penyesatan tersebut dan melaporkan pada pihak berwajib.



Masyarakat butuh pemimpin yang rutin mengajarkan kesejukan dan merajut tenun Kebangsaan. Tanpa pengawasan menyeluruh antara Pemerintah dan masyarakat dalam ruang lingkup agama, maka usaha kita untuk menciptakan generasi emas hanyalah wacana belaka.

[Gambar: www.stantoler.com)