[ Pertimbangkan ini sebagai pengayaan ]
Sekarang adalah era dimana manusia telah mengoptimalkan penggunaan nalar dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya: nalar dan pengetahuan mempengaruhi cara pandang individu terhadap segala sesuatu, termasuk agama.
Pola pikir saintis secara langsung merekonstruksi pemikiran manusia.
Semakin
terbiasa seseorang dalam logika ilmiah, semakin terbiasa berpikir
rasional, berdasarkan segala sesuatu yang dapat dibuktikan dan jaman
sekarang iman kelihatannya sulit dibuktikan dengan sains (logika ilmiah).
Benarkah demikian?
-------------------------- A. FAKTA --------------------------
Keyakinan A
Keyakinan B
Kayakinan C
Keyakinan lain-lainnya, masing-masing:
- Menganggap dirinya benar.
- Memerintahkan untuk menyebarkan ajarannya.
- Memiliki surga dan neraka
- Memiliki cara ke surga
- Memiliki tokoh utama yang selalu rival (Tuhan vs Iblis, Dewa vs Monster)
- Memiliki kisah yang sama (pada akhirnya yang baik mengalahkan yang jahat)
- Memiliki konsep suci dan berdosa
- Memiliki konsep awal penciptaan dan kiamat
- Memiliki kitab yang katanya 'diwahyukan' oleh Tuhan
- Memiliki kitab yang berisi perintah dan larangan
- Memiliki memiliki konsep reward dan punishment
- Memiliki konsep terhadap semesta
- Memiliki nabi dan distorsi (pengikut yang menjalankan keyakinan dan pengikut yang tidak menjalankan keyakinan)
- Memiliki apologetika
- dst
Sementara itu, bagaimana dengan prinsip universal berikut:
- Aksi = reaksi.Jika kita mengerjakan sesuatu maka ada hasil yang kita harapkan.
- Keseimbangan.Sirkulasi dalam tubuh dan keuangan kita sehat jika apa yang kita terima sesuai dengan apa yang kita keluarkan.
- Kausalitas.Tidak ada asap kalau tidak ada api. Tidak ada perasaan suka atau duka kalau tidak ada stimulus yang diterima otak. Tidak ada balas dendam kalau tidak ada yang memulai pertikaian.
- Dualitas.Segala sesuatu yang memiliki awal, memiliki akhir. Kalau ada hitam, berarti ada warna selain hitam. Kalau ada kanan berarti ada arah selain kanan.
- Relativitas.Ukuran seekor kadal dikatakan kecil jika dibandingkan terhadap ukuran seekor buaya, tapi seekor kadal dikatakan besar jika dibandingkan terhadap seekor cicak.
- Perspektif.Kejelasan suatu objek tergantung seberapa dekat-jauhnya posisi kita memandang. Kecantikan dan kejelekan foto selfie tergantung posisi kamera saat mengambil foto. Kebaikan dan kebenaran suatu keyakinan tergantung dari posisi penilai/pengamat/orang yang membandingkan.
- Kehendak Bebas.Manusia bebas bersyarat melakukan apa keinginannya selama tidak merugikan orang lain.
- Ukuran.Segala sesuatu memiliki perbedaan dalam segala spektrum, baik ukuran, jenis, dan dimensi, kita tidak bisa memaksa syarat khusus pada syarat umum, tapi sebaliknya kita dapat memaksa syarat umum pada syarat khusus.
Familiar, universal, spektrumnya lebih luas, dapat diterima semua manusia, terdapat dalam setiap keyakinan.
So,
Siapa yang lahir lebih awal, agama atau hukum alam?
Terima tidak kalau agama itu diciptakan manusia?
Dapatkah kita menjadi manusia beradab tanpa agama?
Seharusnya dapat.
MEMANG
Hampir mustahil melihat sesuatu secara objektif
Hampir mustahil melihat sesuatu apa adanya dari semua sudut pandang
Perbedaan hanya bisa diterima
Keyakinan yang relevan dengan masa depan manusia yang cerdas adalah keyakinan yang mengandung kebenaran universal.
Semua keyakinan menyerap prinsip-prinsip universal.
Setiap keyakinan memiliki penganut.
Semua penganut adalah manusia.
Semua manusia memiliki hasrat.
Hasrat manusia, ada yang bertentangan dengan ajaran keyakinan yang dianutnya.
Bentuk pertentangan itu disebut PEMAKSAAN.
Dalam semua keyakinan, setiap pemaksaan disebut distorsi.
Distorsi adalah istilah lain untuk merujuk suatu cacat atau penyakit dalam tubuh keyakinan tersebut.
Distorsi adalah penganut yang tidak menjalankan ajaran keyakinannya.
Distorsi dikendarai oleh hasratnya sebagai manusia.
Distorsi cenderung dihubungkan dengan ajaran keyakinan tertentu.
Anggapan keliru ini menjadi pemisah atau sekat antar penganut keyakinan
Pada dasarnya keyakinan dan distorsi merupakan dua hal yang bertolak belakang yang bertemu dalam diri manusia sebagai penganut keyakinan tertentu.
Hasrat manusia yang dipaksakan biasanya tujuannya untuk memperoleh sesuatu.
Tapi hasrat itu dibatasi oleh aturan.
Saat itulah distorsi terjadi atau aturan dilanggar untuk memenuhi hasrat manusia sesuai taksonomi Maslow.
Bentuk-bentuk distorsi bervariasi.
Orang-orang
licik memanfaatkan semiotika dan kepolosan panganut keyakinan tertentu
dalam bernalar untuk memicu situasi bersitegang.
Situasi bersitegang adalah kondisi yang cocok untuk mengambil keuntungan tadi.
Semakin besar keuntungan yang ingin diambil, semakin besar persitegangan yang dibuat.
Dengan mengetahui hal ini:
Apa yang membuat seseorang masih merasa keyakinannya paling benar?
Jika Anda Kristen, apa yang membuat Kekristenan begitu istimewa bagi Anda?
Secara garis besar, setelah menyadari hal ini, ada dua kesimpulan terakhir individu:
- Tetap berada dalam keyakinan tertentu dan menjalankan secara tidak bertentangan dengan prinsip keuniversalan.
- Keluar dari keyakinan tertentu dan hidup dalam prinsip keuniversalan.
------------------------- B. MASALAH -----------------------
Kita sering mendengar ungkapan:
'kita harus memisahkan logika dari iman terhadap Tuhan'.
... ungkapan yang mengonsepkan seolah ada yang berbeda antara iman dan logika.
Membicarakan iman dan logika kepada orang-orang akademik tidak semudah mengatakan 'kita harus memisahkan logika dari iman terhadap Tuhan'.
Sesederhana itukah? Tentu saja tidak.
Sering orang yang mengaku religius mengatakan 'logika dan iman adalah dua hal yang kontradiksi'.
Roma 10:14 - 16
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia.
Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?
Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Pada saat mendengar, terjadi proses penalaran, reasoning, setelah itu ada rasa penerimaan.
Intensitas penerimaan tergantung kejernihan penalaran dan reasoning.
Reasoning
dipengaruhi oleh pengalaman dan kemampuan berpikir jernih, berpikir
lurus, berpikir benar, berpikir terhindar dari logika sesat.
Yang
perlu dihindari adalah bahwasanya seseorang mengatakan jangan logikakan
firman, justru karena ia 'enggan' menantang pikirannya mempertanyakan
kembali keyakinannya.
Adanya semacam rasa tabu untuk melihat lebih dalam ke bilik dimana ia menempatkan 'tuhan'.
Kadang orang tertentu untuk tujuan tertentu sengaja menekankan pemisahan logika atau nalar dari iman.
Mungkinkah Tuhan menciptakan semesta dengan kerumitan dan rahasia semacam itu?
Seolah-olah Tuhan mengatakan:
"AKU menciptakan manusia dengan segala kecerdasannya, tapi untuk mengenalku, mereka harus menyelesaikan serangkaian teka-teki".
Kalau begitu, bukankah itu hal yang lucu?
Untuk mengenal dan mendekati Penciptanya sendiri dipersulit?
Cukuplah manusia berpikir ekstra untuk kemajuan dan kemaslahatan umat manusia.
Tuhan tidak sebercanda itu.
Bukan
tidak mungkin jika umat sengaja dipersulit memahami ajaran keyakinannya
secara kritis, supaya senantiasa menurut tanpa pikir panjang untuk
agenda apapun yang direncakanan para pemimpin mereka.
Banyak isi kitab suci yang masih dipahami secara rancu.
Sesulit itukah untuk memahami pikiran Sang Pencipta yang Maha Segalanya?
Bukankah kontradiksi dengan sifat ke-maha-an-Nya?
Tentu saja apa yang tertulis dalam kitab suci adalah logika, tapi pertanyaannya, logika apa?
Pemahaman
yang sepotong-sepotong mengenai kitab suci adalah penyumbang terbesar
alasan orang mengatakan 'iman dan logika' harus terpisah.
Tentu saja harus memahami konteks isi kitab-kitab tersebut untuk memahami logikanya.
Bayangkan
jika semua umat adalah individu yang cerdas, kemungkinan besar mereka
akan meninggalkan tempat-tempat ibadah dan itu artinya kebangkrutan bagi
petinggi-petinggi di atas.
Maka dari sudut pandang penulis, 'politik dan kepentingan' adalah alasan rasional dibalik ungkapan 'kita harus memisahkan logika dari iman kita terhadap Tuhan' yang ditekankan pada umat.
------------------------ C. USULAN ---------------------------
So, what to be?
1. "know how to think"
Bagaimana rasanya menerima sesuatu yang tidak masuk akal?
Apakah mempertanyakan ini disebut suatu kegilaan?
Bukan hal yang mudah menerima suatu ajaran begitu saja kan?
Sama seperti hal lainnya, tanpa memahami konsep, pikiran sulit menerima apa yang disebut orang yang mengaku beragama: 'percaya saja'.
Mengapa percaya saja?
Bagaimana jika cara kita percaya itu keliru?
Bagaimana jika sosok tuhan yang kita bangun itu keliru?
Perlu berpikir berpikir benar dan tepat
Perlu filsafat
Apa filsafat itu?
Benarkah filsafat membuat sulit mengakui eksistensi Tuhan?
Apa sifat-sifat Tuhan?
Bukankah filsafat mengurainya?
Bukankah dengan penalaran kita dituntun untuk terima atau tidak terima suatu konsep pada akhirnya?
Ya, filsafat adalah cara berpikirnya, metode berpikirnya.
Berikut beberapa ayat yang menegaskan proses reasoning atau penalaran dalam berpikir:
1 Korintus 13:11
Ketika
aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa
seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah
aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Filipi 3:15
Karena
itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain
pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga
kepadamu.
1 Korintus 12:2
Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.
1 Timotius 6:5
percekcokan
antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan
kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
2 Timotius 3:4
suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
2. "action speak louder"
Metode penginjilan yang sejati itu bergema lewat tindakan bukan perkataan.
Sama seperti diatas, aksi nyata adalah keteladanan sejati.
3. "keteladanan"
Yohanes 13:15
sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.
1 Korintus 4:16
Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
Filipi 3:17
Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
1 Tesalonika 1:7
sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.
2 Tesalonika 3:9
Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.
1 Timotius 4:12
Jangan
seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah
teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah
lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.
Titus 2:7
dan
jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah
engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,
Yakobus 5:10
Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
1 Petrus 2:21
Sebab
untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk
kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti
jejak-Nya.
1 Petrus 5:3
Janganlah
kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang
dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi
kawanan domba itu.
Harus
ada titik temu, sebagai jembatan antara pemahaman laten yang mengatakan
tidak adanya kesinambungan 'iman' terhadap 'logika'.
4. "amanat agung"
Matius 28:19
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
(Gambar: www.kanopy.com)
