... dapat dimaklumi reaksi protes dari beberapa rekan guru dan awam di beberapa tempat terkait film Dilan dan Taman Dilan.
Sebagian isi protes mereka adalah:
1. Tokoh yang diabadikan tahunya pacaran, tawuran, kebut-kebutan diidolakan SEMENTARA pendidik mati-matian mengajari budi pekerti.
2. Tontonan di TV tidak mendidik dan merusak mental anak-anak.
3. Ada banyak tokoh yang lebih pantas ketimbang Dilan.
4. Dilan hanya fiktif.
5. Guru harus jeli dengan persoalan yang terjadi.
6. Dengan Dilan sebagai simbol pacaran yang diharamkan agama, tawuran dan kebut-kebutan dilarang pemerintah, apa tidak mungkin para siswa memiliki suatu pemikiran tentang Dilan?
***
Pertama, saya setuju terhadap dua fakta yang disampaikan diatas:
1. Dilan pacaran dan tawuran itu benar.
2. Banyak tontonan TV tidak mendidik dan merusak.
Tapi untuk protes, itu keputusan yang terburu-buru jika memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jauh sebelum Dilan ada, guru sudah dimuliakan dan diabadikan, bahkan Hari Guru ada.
2. Membandingkan guru terhadap Dilan itu tidak rasional karena keduanya beda fungsi, yaitu guru untuk mendidik sementara Dilan untuk hiburan.
3. Apa salahnya membuat Taman Dilan? Apa bedanya Taman Dilan dengan Taman Lainnya selama tujuannya tidak menimbulkan kerugian yang dapat diukur dan dibuktikan? Namanya kreatifitas untuk menarik perhatian kaum muda, bukankah baik menarik perhatian generasi muda dengan sesuatu istilah yang familiar di telinga mereka?
4. Benarkah film dan taman Dilan terbukti oleh fakta empiris telah merusak generasi?
5. Banyak tontonan yang merusak, banyak juga yang mendidik. Maka daya rusak dari film dan Taman Dilan tergantung beberapa hal; satu, karena yang pasti setiap anak yang menonton akan menerjemahkan film dan Taman Dilan sesuai pemahaman mereka. Dua, untuk itu orang dewasa perlu mengawasi anak dan bukan hanya dalam film dan Taman Dilan.
6. Ada kok taman Ismail Marzuki di Jakarta dan taman di tempat lain untuk menghargai tokoh bangsa.
7. Film Dilan fiktif atau kisah nyata, selama tujuannya untuk menghibur tercapai, tidak masalah.
8. Guru berhak untuk menyampaikan protes, tapi harus ada prosedur dan bukti.
9. Alangkah bagus jika guru menemui ybs dalam hal ini bpk Ridwan Kamil untuk mendengarkan langsung apa alasan beliau membuat Taman Dilan, jangan saya buru-buru protes seperti korban pikiran mendadak atau terjebak dalam logika kerumunan; ikut-ikutan memprotes sesuatu tanpa memahami persoalan.
10. Setiap masalah memiliki ruang lingkup masing-masing, taman kota bukan tugas guru, yang bisa guru lakukan, didiklah anak di kelas supaya mampu menyikapi hal semacam film dan Taman Dilan.
11. Merespon film dan Taman Dilan jangan hanya dari sisi negatif, walau kita berhak melihat dari sisi negatif saja. Lihat sisi positifnya apa? Dan kalau tidak bisa melihat sisi positifnya, berarti ada yang salah dengan pola pikir saya sebagai guru yang harusnya berpikir luas dan penuh pertimbangan.
12. Anak-anak tidak akan langsung tawuran dan pacaran hanya karena menonton film dan Taman Dilan. Jauh sebelum ada film dan Taman Dilan, anak-anak sudah mengalami masalah dengan gaya pacaran dan tawuran.
13. Banyak tayangan yang merusak anak-anak, kalau mau menyalahkan tayangan, itu kenapa tidak diprotes juga dengan ukuran yang sama? Adillah
14. Rusaknya generasi bukan karena tayangan, tapi karena hilangnya kontrol dan tanggung jawab orang dewasa di tengah masyarakat.
15. Semoga keliru, dugaan saya ini salah satu bentuk sindiran atau bentuk cara untuk menyalahkan pemerintah yang berkuasa, dan digaungkan dengan maksud menggiring opini publik pada pasangan capres tertentu.
16. Isu ini seharusnya hal sederhana yang tak perlu dipersoalkan.
17. Dan lain-lain, silahkan tambah sendiri.
Kita guru sebaiknya fokus tupoksi, bukan karena apatis, tapi paham bahwa banyak hal di dunia ini yang bertentangan dengan pendidikan baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Adalah suatu kesia-siaan jika 'guru' harus memprotes itu semua.
Dan bukankah lebih baik bertanya, 'apa yang saya lakukan sebagai guru dalam rangka mengurangi persoalan seperti klaim tanpa bukti yang menyatakan generasi rusak (akibat film dan Taman Dilan)?'
Pun demikian, ini semua hanyalah curah pendapat, persaudaraan kita lebih penting dari perbedaan pendapat.
Oia, bagi yang penasaran saja, karakter Dilan itu seorang penganut filsafat eksistensialis pragmatis, menurut saya. 😄
.
.
.
Dame ma di hita!
Sebagian isi protes mereka adalah:
1. Tokoh yang diabadikan tahunya pacaran, tawuran, kebut-kebutan diidolakan SEMENTARA pendidik mati-matian mengajari budi pekerti.
2. Tontonan di TV tidak mendidik dan merusak mental anak-anak.
3. Ada banyak tokoh yang lebih pantas ketimbang Dilan.
4. Dilan hanya fiktif.
5. Guru harus jeli dengan persoalan yang terjadi.
6. Dengan Dilan sebagai simbol pacaran yang diharamkan agama, tawuran dan kebut-kebutan dilarang pemerintah, apa tidak mungkin para siswa memiliki suatu pemikiran tentang Dilan?
***
Pertama, saya setuju terhadap dua fakta yang disampaikan diatas:
1. Dilan pacaran dan tawuran itu benar.
2. Banyak tontonan TV tidak mendidik dan merusak.
Tapi untuk protes, itu keputusan yang terburu-buru jika memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jauh sebelum Dilan ada, guru sudah dimuliakan dan diabadikan, bahkan Hari Guru ada.
2. Membandingkan guru terhadap Dilan itu tidak rasional karena keduanya beda fungsi, yaitu guru untuk mendidik sementara Dilan untuk hiburan.
3. Apa salahnya membuat Taman Dilan? Apa bedanya Taman Dilan dengan Taman Lainnya selama tujuannya tidak menimbulkan kerugian yang dapat diukur dan dibuktikan? Namanya kreatifitas untuk menarik perhatian kaum muda, bukankah baik menarik perhatian generasi muda dengan sesuatu istilah yang familiar di telinga mereka?
4. Benarkah film dan taman Dilan terbukti oleh fakta empiris telah merusak generasi?
5. Banyak tontonan yang merusak, banyak juga yang mendidik. Maka daya rusak dari film dan Taman Dilan tergantung beberapa hal; satu, karena yang pasti setiap anak yang menonton akan menerjemahkan film dan Taman Dilan sesuai pemahaman mereka. Dua, untuk itu orang dewasa perlu mengawasi anak dan bukan hanya dalam film dan Taman Dilan.
6. Ada kok taman Ismail Marzuki di Jakarta dan taman di tempat lain untuk menghargai tokoh bangsa.
7. Film Dilan fiktif atau kisah nyata, selama tujuannya untuk menghibur tercapai, tidak masalah.
8. Guru berhak untuk menyampaikan protes, tapi harus ada prosedur dan bukti.
9. Alangkah bagus jika guru menemui ybs dalam hal ini bpk Ridwan Kamil untuk mendengarkan langsung apa alasan beliau membuat Taman Dilan, jangan saya buru-buru protes seperti korban pikiran mendadak atau terjebak dalam logika kerumunan; ikut-ikutan memprotes sesuatu tanpa memahami persoalan.
10. Setiap masalah memiliki ruang lingkup masing-masing, taman kota bukan tugas guru, yang bisa guru lakukan, didiklah anak di kelas supaya mampu menyikapi hal semacam film dan Taman Dilan.
11. Merespon film dan Taman Dilan jangan hanya dari sisi negatif, walau kita berhak melihat dari sisi negatif saja. Lihat sisi positifnya apa? Dan kalau tidak bisa melihat sisi positifnya, berarti ada yang salah dengan pola pikir saya sebagai guru yang harusnya berpikir luas dan penuh pertimbangan.
12. Anak-anak tidak akan langsung tawuran dan pacaran hanya karena menonton film dan Taman Dilan. Jauh sebelum ada film dan Taman Dilan, anak-anak sudah mengalami masalah dengan gaya pacaran dan tawuran.
13. Banyak tayangan yang merusak anak-anak, kalau mau menyalahkan tayangan, itu kenapa tidak diprotes juga dengan ukuran yang sama? Adillah
14. Rusaknya generasi bukan karena tayangan, tapi karena hilangnya kontrol dan tanggung jawab orang dewasa di tengah masyarakat.
15. Semoga keliru, dugaan saya ini salah satu bentuk sindiran atau bentuk cara untuk menyalahkan pemerintah yang berkuasa, dan digaungkan dengan maksud menggiring opini publik pada pasangan capres tertentu.
16. Isu ini seharusnya hal sederhana yang tak perlu dipersoalkan.
17. Dan lain-lain, silahkan tambah sendiri.
Kita guru sebaiknya fokus tupoksi, bukan karena apatis, tapi paham bahwa banyak hal di dunia ini yang bertentangan dengan pendidikan baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Adalah suatu kesia-siaan jika 'guru' harus memprotes itu semua.
Dan bukankah lebih baik bertanya, 'apa yang saya lakukan sebagai guru dalam rangka mengurangi persoalan seperti klaim tanpa bukti yang menyatakan generasi rusak (akibat film dan Taman Dilan)?'
Pun demikian, ini semua hanyalah curah pendapat, persaudaraan kita lebih penting dari perbedaan pendapat.
Oia, bagi yang penasaran saja, karakter Dilan itu seorang penganut filsafat eksistensialis pragmatis, menurut saya. 😄
.
.
.
Dame ma di hita!
