... singkatnya, deviasi (penyimpangan) moralitas abad 21 setidaknya dijelaskan oleh 5 orang pemikir besar:
1. Jacques Derrida dengan *dekonstruksi* (pembangkangan)
2. Jean Baudrillard dengan *dunia simulasi* (demam medsos, hedonisme)
3. Friedrich Nietzsche dengan *Tuhan sudah mati* (ateis)
4. Roland Barthes dengan *semiotika* (narsisme, megalomania)
5. Michel Foucault dengan *politik kekuasaan* (penindasan dan tidak peduli sejarah)
1. Jacques Derrida dengan *dekonstruksi* (pembangkangan)
2. Jean Baudrillard dengan *dunia simulasi* (demam medsos, hedonisme)
3. Friedrich Nietzsche dengan *Tuhan sudah mati* (ateis)
4. Roland Barthes dengan *semiotika* (narsisme, megalomania)
5. Michel Foucault dengan *politik kekuasaan* (penindasan dan tidak peduli sejarah)
... walau pemikir lain turut menyumbangkan pemikiran seperti Sartre
(eksistensialisme), Camus (absurditas), Popper (pseudosains), Habermas
(teori komunikasi) dll... dan (ironinya) nampaknya kita mencintai semua
gagasan versi menyimpang tersebut.
"Anak muda cenderung membangkang (meragukan) aturan dan norma, mengukur eksistensi diri dengan popularitas di media sosial (narsisme, ilusi, dunia simulasi), menunda percaya pada Tuhan (ateis praktis), mengabaikan sejarah (apatis), pasif (malas, pragmatis) tapi jika memiliki kesempatan berkuasa; orientasinya penindasan (kapitalistik)", itulah gambaran anak muda masa kini, pada umumnya.
Ke-lima faktor tersebut cukup sebagai pemain utama di belakang semua carut-marut era post modern.
Dalam kaitannya dengan guru sebagai pendidik, tema ini menjadi sebuah topik menarik, perlu sekaligus prioritas untuk diperhatikan.
Contoh, ketaksepahaman antara guru dan orang tua siswa tentang HAM, dan segudang persoalan pendidikan lainnya.
.
.
.
Dame ma di hita!
"Anak muda cenderung membangkang (meragukan) aturan dan norma, mengukur eksistensi diri dengan popularitas di media sosial (narsisme, ilusi, dunia simulasi), menunda percaya pada Tuhan (ateis praktis), mengabaikan sejarah (apatis), pasif (malas, pragmatis) tapi jika memiliki kesempatan berkuasa; orientasinya penindasan (kapitalistik)", itulah gambaran anak muda masa kini, pada umumnya.
Ke-lima faktor tersebut cukup sebagai pemain utama di belakang semua carut-marut era post modern.
Dalam kaitannya dengan guru sebagai pendidik, tema ini menjadi sebuah topik menarik, perlu sekaligus prioritas untuk diperhatikan.
Contoh, ketaksepahaman antara guru dan orang tua siswa tentang HAM, dan segudang persoalan pendidikan lainnya.
.
.
.
Dame ma di hita!
