Dalam kehidupan yang pasif, kita cenderung memiliki kesamaan terhadap bara api, yang mana jika diserakkan, ia akan padam, sebaliknya jika disatukan, tetap menyala. 
Betapa matinya kehidupan rohani kita jika merasa hidup seorang musafir harus nyaman, lalu menghindari kesulitan dengan berbagai pembenaran. 
Salah satu contoh pembenaran diri yang klasik, ke-tidak serius-an kita sebagai seorang pejuang, berdampak pada ketertinggalan dalam kompetisi intelektual, kinerja dan integritas menjebak kita dalam kehidupan 'pas-pasan' sementara kita berambisi untuk memperoleh lebih dari itu. 
Terakhir kita terseok-seok dalam kehidupan kita yang kian pragmatis: antara mengikuti gengsi sekuler atau hidup sebagai musafir pejiarah.

Pada hakekatnya, tidak ada lagi kenyamanan bagi seorang musafir pejiarah, bagaimana tidak? 
Kalau ia memegang prinsip Kebenaran, maka ia melawan arus dunia yang berprinsip sebaliknya.

Idealnya, semakin ke belakang, tanggung jawab kita semakin berat, bukan semakin kecil. 
Dengan demikian, maka dinamika kurva x dan y (usia dan tanggung jawab) yang terus mengalami eskalasi secara seimbang adalah bukti kematangan dan progres.

Untuk melawan kondisi seperti diatas, maka perlu ada suatu sistem atau yang dapat membantu para musafir mengontrol progres kehidupan jasmani yang diharapkan mempengaruhi rohani. 
Sistem atau alat yang sederhana, dapat di evaluasi, dan bermanfaat.

Objek dipersempit khusus mereka yang berkomitmen untuk menikah menjadi suami-isteri.

Cakupan materi mulai dari persiapan jasmani dan rohani.


Image: ldsdaily.com