Sebagaimana Tuhan semesta alam tak mencegah seseorang berbuat salah dan jahat, Tuhan tak membujuk seseorang berbuat benar dan baik: Ia hanya menunjukkan konsep benar dan salah.
Itulah panduan manusia mengenai tanggung jawab terhadap tindakan, di dunia maupun akhirat.
Sebagai ciptaan paling ber-akal budi, manusia harus rahayu (selaras) dengan alam semesta beserta isinya, sebagai bentuk penghormatan terhadap kebijaksanaan Pencipta, disana letak martabat manusia.
Sebagai ciptaan yang terbatas dalam dimensi ruang, waktu dan zat, otomatis menjadikan manusia sebagai makhluk yang berhasrat dan berambisi sesuai keterbatasan dimensinya: seks dan harta (zat), umur yang panjang (waktu), dan dengan wawasan yang diwariskan dari surga: perihal kerajaan (hirarki, garis komando, punishment and reward, dikotomi surga-neraka), turut menjadikan manusia juga berhasrat memiliki kekuasaan (ruang).
Image: oztorah.com
Image: oztorah.com
