Saya membayangkan suatu momen dimana para guru, dengan pemahaman
pedagogik hingga ke akar-akarnya; filsafat pendidikan, menyimak politisasi dan
kapitalisme pendidikan, dengan jiwa 'meneliti dan mengabdi', turun
tangan dalam penyusunan 'kurikulum tepat sasaran' untuk diterapkan
sekolah-sekolah.
Selama ini kurikulum didesain oleh pakar pendidikan yang bergelar profesor dan doktor, tapi FAKTA pendidikan saat ini sulit mendarat karena adanya grand narasi (gagasan untuk memukul rata kebijakan pendidikan Indonesia barat, tengah dan timur seolah tiada unsur-unsur lain penentu kualitas pendidikan yang sangat berpengaruh).
Selama ini kurikulum didesain oleh pakar pendidikan yang bergelar profesor dan doktor, tapi FAKTA pendidikan saat ini sulit mendarat karena adanya grand narasi (gagasan untuk memukul rata kebijakan pendidikan Indonesia barat, tengah dan timur seolah tiada unsur-unsur lain penentu kualitas pendidikan yang sangat berpengaruh).
Situasi ini perlu dibalik, guru harus mengambil bagian dalam pembuatan kurikulum.
Lantas bukan hendak mengatakan kita tidak memerlukan pakar, tentu saja harus ada pakar pendidikan teoritis, tapi dengan porsi yang seimbang terhadap guru sebagai praktisi pendidikan demi lahirnya kebijakan yang menjawab persoalan.
Kendalanya dalam praktik, jalan ke sana penuh lika-liku tajam; hulu pembuat kebijakan pendidikan.
Pun demikian, kita harus tetap memiliki harapan bahwa hari itu akan datang.
Oleh karenanya, untuk menyongsong hari itu, kita perlu mempersiapkan siswa-siswa dan diri sebagai guru yang kritis, berpikiran terbuka, selalu belajar dan memiliki sense of researching.
.
.
.
Dame ma di hita !
Lantas bukan hendak mengatakan kita tidak memerlukan pakar, tentu saja harus ada pakar pendidikan teoritis, tapi dengan porsi yang seimbang terhadap guru sebagai praktisi pendidikan demi lahirnya kebijakan yang menjawab persoalan.
Kendalanya dalam praktik, jalan ke sana penuh lika-liku tajam; hulu pembuat kebijakan pendidikan.
Pun demikian, kita harus tetap memiliki harapan bahwa hari itu akan datang.
Oleh karenanya, untuk menyongsong hari itu, kita perlu mempersiapkan siswa-siswa dan diri sebagai guru yang kritis, berpikiran terbuka, selalu belajar dan memiliki sense of researching.
.
.
.
Dame ma di hita !
