... lagi, ini bukan ilmu baru, memberikan hukuman atau mendisiplinkan siswa yang menantang guru itu memang sah-sah saja, tapi itu tidak akan menghentikan kasus-kasus yang sejenis terjadi.

Untuk setiap ganjaran, ada mekanisme hukumnya.
Sebagai guru, yang kita hindari adalah jangan sampai niat untuk mendisiplinkan malah menciderai psikis siswa.

Kalau kita ingin siswa menghormati guru, maka yang pertama orang tua dan masyarakat harus menghormati guru.

Kalau orang tua dan masyarakat kurang menghormati guru, sampai kapanpun tidak akan menghentikan fenomena 'siswa menantang guru'.

Masyarakat harus serius dari rumah ke rumah, kampung ke kampung.
Revolusi mental itu urusan rumah tangga.
Revolusi birokrasi urusan pemerintah.


Yang kita hadapi sekarang adalah masalah pengaburan nilai-nilai keluarga sebagai individu, sebagai warga negara, sebagai kelompok, dan sebagai masyarakat plural.

Anak-anak adalah cerminan orang tuanya, cerminan lingkungannya, cerminan masyarakat secara umum.

Bagaimana sikap orangtua, lingkungan dan masyarakat ketika membicarakan guru di depan si anak, itulah yang dicerminkan si anak.

Matikan tv karena sebagian besar kontennya sampah bagi anak sekolah, nasehati anak, desain lingkungan bermain yang mendidik, awasi bicara anak, dan yang terpenting, berikan teladan.

Di sisi lain, masyarakat saat ini kian pragmatis, menganggap guru profesi biasa yang sama saja dengan profesi lainnya.

Memang benar profesi biasa, tapi sikap pragmatis atau acuh tak acuh secara khusus fatal dampaknya terhadap guru yang berdiri di bagian 'mengajarkan orang untuk ...', atau setidaknya tugas guru masih dipahami seperti itu di masyarakat kita.


Memang ada sebagian kecil guru yang lebih fokus pada reputasi daripada peran atau tanggung jawab, fokus pada administrasi dan berpenampilan sosialita.

Inilah yang menjadi beban internal guru, yang terus di-alignment antara tanggung jawab dan keteladanan sosial.

Dapat dimaklumi reaksi sebagian masyarakat yang geram atas kejadian beberapa siswa menantang guru terjadi secara berulang, tapi menghukum atau menjebloskan ke dalam penjara, itu tidak dilakukan dalam "pendidikan", bukan begitu cara pendidikan sebagai "ibu" menyelesaikan ketidakterdidikan siswa sebagai "anak kandungnya".

Satu-satunya solusi masalah pendidikan adalah, menambah intensitas pendidikan itu sendiri, lagi.
Dengan memaafkan, sudah tepat, disertai pembinaan berkelanjutan.


Disamping itu, yang tidak kalah penting, membenahi nilai-nilai yang terkandung dalam alam bawah sadar masyarakat. 

Mungkin ini saat yang tepat untuk melihat ke dalam diri, sebagai individu, pantaskah kita jadi hakim bagi siswa?
Bagaimana sikap kita terhadap guru, keluarga, dan diri sendiri?

.
.
.
Dame ma di hita !