"...
tinggalhononmu ma Boru, hami natua-tuamon
ai nunga ro be rongkapmi, natinodo ni rohami
borhat ma ho, tiur ma lakkami
manang didia pe, marhuta ho muse
di tangiang ma Boru, hita mardomu hasian
.
Begitu alunan lagu yang bersenandung
Menyentuh hatiku yang terdalam
.
Kulihat jam tanganku
Malam semakin larut
.
Besok, hari bahagia itu
Semua telah dipersiapkan
Sanak saudara telah berkumpul
Semua kecuali satu, Ayah
.
Di sini, di sudut ruang hening
Aku membawa diri
Tenangkan diri sejenak dalam keheningan
Sesaat sebelum 'kuberdandan layaknya Ratu
.
Waktu telah menuntunku pada momen ini
Untuk memulai lembaran baru
Menyatukan dua keluarga besar
.
Semua kebahagiaan ini adalah berkatmu, Ayah
Banyak hal telah disiapkan, kecuali satu, tempatmu
.
Apa yang dipikirkan oleh Ibu dan saudara-saudaraku
Selain melewati ini semua seolah engkau bersama kami, Ayah?
.
.
.
Fajar telah tiba
Kehangatan sinarnya menyemangati setiap orang
Meski hanya sekejab, sempat kupejamkan mata
.
Jantungku berdetak lebih cepat, Ayah
Seperti pertama kali berjalan tanpa topangan tanganmu, kala itu
Bahkan kali ini lebih cepat
Bagaimana tidak, ini ketiga kalinya
Engkau "melepaskanku", Ayah
Ya Tuhan, beginikah rasanya?
.
Apa harapan terbesarku di hari istimewa ini, Ayah?
Sama seperti semua Tuan Puteri di muka bumi ini
Berjalan bersamamu menyusuri lorong gereja
Menuju altar kudus ini
Perempuan mana yang tidak merindukan berkat dan restu Ayah?
.
Tapi kerinduan tetaplah kerinduan, Ayah
Ia telah menempati posisimu
Dia, akan memimpinku mulai hari ini
Dia, akan menjagaku hingga lanjut usia
Dia, akan menjadi penopangku, Ayah
.
Engkau tidak melihatku pagi yang cerah ini, Ayah
Namun, kupastikan engkau bahagia
Melepaskanku dalam lindungannya
.
Hingga saatnya tiba
Kami bersumpah tuk jalani hidup seia sekata
Dalam suka maupun duka
Di hadapan wakil sang Kuasa
.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
.
Ketika ia menuntunku dari altar
Sesekali masih kulayangkan mata
Seolah engkau ada di sini
Di balik bayang-bayang kerumunan
Di balik gelak-tawa yang bergemuruh
Aku mengejarmu di sudut mataku
Meski kutahu pasti, itu mustahil
Maaf, Ayah
Engkau tahu kerasnya hati Borumu ini
.
Ayah
Kini aku tidak sendiri lagi
Aku ditemani oleh seorang malaikat
Aku akan berjalan dengannya hingga nanti
Waktu 'kan pertemukan kita kembali
.
Engkau telah lama pergi
Engkau 'kan selalu kurindukan
Tenanglah, Ayah
Semua akan baik-baik saja
.
.
.
"...
horas ma Ho, uli ma nipimi
di hokkop tondikki, ditumpahi Tuhan i
tubuan laklak dainang, tubu sikkoru
tubuan anak Ho inang, tubuan boru
asa marluga ma hamu, di sada solu
mangalului na rikkot, dalan ni ngolu
sai hot ma Ho di hatuaonmi
tadikkon haposoon tua pangalahom
malo malo ma Ho Boru marsiadopan
marsianjuan ma Hamu, marsada roha
Burju-burju ma Ho Boru marsimatua
Asa tanda ma Ho inang Boru ni Raja
..."
Anggiat ma, Among, anggiat ma
Boru ni Raja do Au
Jala sangap do Ho, Among