Akhirnya sampai jugalah pada kesempatan ini, sudah lama ingin menulis tentang bagaimana aku dari sudut sini melihat kapitalisme lanjut (spat capitalismus) dengan caranya yang paling kalem, adem, rapi, selow, romantis, halus, pada tatanan yang paling dasar sekaligus mengaburkan pandangan, mencengkeram kaum intelektual hingga mereka beranggapan bahwa tolok ukur keberhasilan seseorang di jaman ini adalah jumlah saldo rekening, persentase saham dalam sebuah perusahaan, sederet gelar berjejer di belakang nama, kemegahan bangunan tempat tinggal, enaknya makanan yang terhidang di atas meja, kepemilikan atas teknologi keluaran terbaru dan hal-hal serupa lainnya yang intinya adalah "kemapanan".


Naifnya mereka yang secara spontan sepakat dengan itu semua, sebagai amanat agung dari sang penguasa manusia; "mesin hasrat", sang Oedipus Yang Agung.
Sebaliknya, sial bagi mereka yang tidak sepakat, karena harus menanggung kutukan-kutukan ini.

1. Jika materi itulah tolok ukur kesuksesan, relakah kau semua orang memperoleh apa yang kau peroleh?

2. Siapa yang berhak menentukan golongan mana yang berhak lebih kaya dari yang golongan lainnya?

3. Bukan soal apa yang orang kaya kerjakan dan apa yang tidak dikerjakan orang miskin di luar sana. Tapi tentang sebuah sistem yang memang dirancang untuk bekerja demikian.

4. Betapa mudahnya mengatakan, "kalau mau kaya, ya belajar dan bekerja keras sana..."

5. Tapi betapa banyak orang yang sudah belajar dan bekerja sekuat tenaga tapi tidak juga memperoleh apa yang layak dengan usahanya? Sementara di tempat lain, sekelompok orang dengan penampilan necis dalam setelan bagus di ruangan ber AC, kerja dengan sedikit keringat namun upah dari seorang mereka setara dengan upah ribuan buruh dalam setahun yang kerja lebih berat?

6. Masalahnya tidak sesederhana ungkapan pseudo-sosialis, "bangun diri sendiri dulu lalu bangun orang lain".

7. Bagaimana jika seseorang sudah berusaha  membangun diri sendiri, bahkan dengan cara dan skop yang lebih luas dan mulia; "pengabdian", namun entah bagaimana sistem yang cacat itu "menyia-nyiakan" usaha dan usia yang seseorang curahkan dengan tulus bagi negara tempo hari? Seseorang mungkin bisa merelakannya, dan bergabung dengan para pendahulu yang melakukan hal sama demi negara. Atau kau bisa memperbaikinya karena memang laik diperjuangkan.

8. Betapa sistem cacat ini dirancang mempertemukan banyak orang memperebutkan satu atau dua posisi saja? Apakah yang kalah memang bodoh dan yang menang itu memang kompeten? Atau, algoritma sistem seleksinya yang cacat?

9. Tidakkah biasa dalam hidup ini bagi kebanyakan orang hanya "kerja, kerja, kerja" siang malam bagai kuda namun tak kunjung mampu "membeli" kesejahteraan yang "dijual" mahal itu?

10. Ada sesuatu yang besar sedang gentayangan, entah engkau tidak melihatnya, atau pura-pura tidak melihatnya. Bersiaplah jika suatu saat ia juga menghisap dan menelanmu saat usia produktif dan dana pensiunmu ambruk. Ia tidak pernah mengetuk pintu. Disadari atau tidak, ia menghisap semuanya.

... bersambung.