Benar, ekses Covid-19 telah melemahkan sendi perekonomian global. Melampaui perekonomian, ia juga mempengaruhi ranah spritual.
Karakteristik Covid-19 yang rentan menular dalam jarak dekat, memicu peniadaan sementara liturgi komunal dalam berbagai keyakinan. Alhasil, selaku umat yang berkeyakinan, muncul beragam asumsi. Yang paling umum, "Bagaimana hubungan musibah ini dengan Tuhan?"
Seperti apa kira-kira relasi kausalitas antara manusia dengan Tuhan dalam konteks Covid-19 ini? Berikut kita coba buat "ilustrasi" subyektifnya:
*𝙒𝙖𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜: 𝙞𝙡𝙪𝙨𝙩𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙨𝙞 "𝙂𝙤𝙙 𝙏𝙝𝙚 𝘾𝙡𝙤𝙘𝙠 𝙈𝙖𝙠𝙚𝙧, (𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝘼𝙧𝙡𝙤𝙟𝙞).*
1. Alam semesta diciptakan sedemikian rupa seperti sebuah Arloji dengan mekanisme yang bekerja menurut kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh Pembuatnya.
2. Dalam hal ini, alam semesta ibarat Arloji dan Tuhan sebagai Sang Pembuat Arloji.
3. Tuhan adalah entitas yang eksis di luar skop realitas multi-dimensional; tidak dibatasi oleh dimensi-dimensi dan memiliki kemampuan menciptakan ruang, waktu, massa, dan zat.
4. Mekanisme Arloji diartikan sebagai struktur semesta yang bekerja menurut kaidah-kaidah alam.
5. Manusia merupakan bagian dari "Arloji" tersebut, yang terikat pada kaidah-kaidah alam.
6. Manusia adalah makhluk multi-dimensional yang dibatasi oleh ruang, waktu, massa, dan zat.
7. Setiap fenomena yang terjadi dalam dimensi manusia mengikuti kaidah-kaidah tertentu seperti gravitasi, rotasi bumi, durasi siang-malam, dll.
8. Apa yang unik adalah, manusia dikaruniai "akal" dan "hikmat" untuk mengamati fenomena-fenomena alam serta kemampuan untuk mengkomunikasikan hasil amatan tersebut.
9. Dengan hikmat dan akal, manusia berpotensi mengintervensi dan memanipulasi kaidah-kaidah semesta.
10. Dampak intervensi dan manipulasi tersebut dapat mendatangkan konsekuensi, baik konsekuensi desktruktif maupun konstruktif.
11. Hingga batas-batas tertentu, alam mampu mendukung intervensi dan modifikasi manusia.
12. Reaksi alam, sebagian dapat diantisipasi oleh manusia, sebagian tidak.
13. Dalam hal ini, apakah Covid-19 dibaca sebagai fenomena alam atau perbuatan manusia, ia merupakan fenomena yang dapat diamati dan diantisipasi oleh manusia.
14. Hasil pengamatan individu atau kelompok manusia tertentu, mempengaruhi sikapnya menghadapi fenomena Covid-19.
15. Sikap dan relasi manusia satu sama lain terkait Covid-19, memiliki standar moralitas.
16. Acuan standar moralitas manusia cukup beragam; agamis, sainstis, nihilis, sosialis, kapitalis, dll.
17. Dari kesemua standar moral kolektif, kita sepakat bahwa sikap dan relasi yang terbaik adalah yang mengutamakan keselamatan sebanyak-banyaknya manusia.
18. Unsur moralitas tersebut masuk wilayah prerogatif penilaian Tuhan.
19. Pada titik tertentu, Tuhan, Sang Pembuat Arloji memiliki hak prerogatif untuk mengintervensi mekanisme Arloji.
20. Di luar intervensi dan modifikasi manusia terhadap Arloji tersebut, semesta akan tetap melalui siklus kalender kosmik, sesuai rancangan Sang Pembuat Arloji.
.
.
.
"𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙥𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙢𝙚𝙠𝙖𝙣𝙞𝙨𝙢𝙚, 𝙢𝙚𝙠𝙖𝙣𝙞𝙨𝙢𝙚 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙠𝙞𝙗𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖-𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙢, 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙠𝙢𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖-𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙢. 𝙃𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧𝙪𝙝𝙞 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖. 𝙉𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙬𝙞𝙡𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙚𝙧𝙤𝙜𝙖𝙩𝙞𝙛 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣. 𝙆𝙚𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙚𝙨𝙚𝙣𝙨𝙞 𝙞𝙗𝙖𝙙𝙖𝙝."
***
1. 𝑨𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝑪𝒐𝒗𝒊𝒅-19 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒇𝒆𝒏𝒐𝒎𝒆𝒏𝒂 𝒂𝒍𝒂𝒎? 𝑩𝒆𝒈𝒊𝒏𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒊𝒏𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒏𝒚𝒂:
https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/18/193100223/bukan-rekayasa-genetika-studi-menguak-asal-usul-virus-corona
https://www.sehatq.com/artikel/virus-corona-berasal-dari-kelelawar-benarkah-demikian
2. 𝑨𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝑪𝒐𝒗𝒊𝒅-19 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒕𝒆𝒓𝒗𝒆𝒏𝒔𝒊 𝑺𝒂𝒏𝒈 𝑷𝒆𝒏𝒄𝒊𝒑𝒕𝒂? 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒔𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒌𝒎𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒏𝒕𝒖𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒎𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒏𝒚𝒂.
.
.
.
Ilustrasi: Micheline Walker
.
.
.
Referensi:
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK7782/
Diakses pada 06 April 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7086482/
Diakses pada 06 April 2020
The Lancet. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30251-8/fulltext#seccestitle10
Diakses pada 06 April 2020
Live Science. https://www.livescience.com/coronavirus-not-human-made-in-lab.html
Diakses pada 06 April 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/coronavirus-can-be-deadly-but-they-also-cause-the-common-cold-what-to-know#Did-coronavirus-come-from-pangolins?
Diakses pada 06 April 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/256521#types
Diakses pada 06 April 2020
Science Alert. https://www.sciencealert.com/snakes-are-the-likely-source-of-china-s-deadly-coronavirus-here-s-why
Diakses pada 07 April 2020
Karakteristik Covid-19 yang rentan menular dalam jarak dekat, memicu peniadaan sementara liturgi komunal dalam berbagai keyakinan. Alhasil, selaku umat yang berkeyakinan, muncul beragam asumsi. Yang paling umum, "Bagaimana hubungan musibah ini dengan Tuhan?"
Seperti apa kira-kira relasi kausalitas antara manusia dengan Tuhan dalam konteks Covid-19 ini? Berikut kita coba buat "ilustrasi" subyektifnya:
*𝙒𝙖𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜: 𝙞𝙡𝙪𝙨𝙩𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙨𝙞 "𝙂𝙤𝙙 𝙏𝙝𝙚 𝘾𝙡𝙤𝙘𝙠 𝙈𝙖𝙠𝙚𝙧, (𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝘼𝙧𝙡𝙤𝙟𝙞).*
1. Alam semesta diciptakan sedemikian rupa seperti sebuah Arloji dengan mekanisme yang bekerja menurut kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh Pembuatnya.
2. Dalam hal ini, alam semesta ibarat Arloji dan Tuhan sebagai Sang Pembuat Arloji.
3. Tuhan adalah entitas yang eksis di luar skop realitas multi-dimensional; tidak dibatasi oleh dimensi-dimensi dan memiliki kemampuan menciptakan ruang, waktu, massa, dan zat.
4. Mekanisme Arloji diartikan sebagai struktur semesta yang bekerja menurut kaidah-kaidah alam.
5. Manusia merupakan bagian dari "Arloji" tersebut, yang terikat pada kaidah-kaidah alam.
6. Manusia adalah makhluk multi-dimensional yang dibatasi oleh ruang, waktu, massa, dan zat.
7. Setiap fenomena yang terjadi dalam dimensi manusia mengikuti kaidah-kaidah tertentu seperti gravitasi, rotasi bumi, durasi siang-malam, dll.
8. Apa yang unik adalah, manusia dikaruniai "akal" dan "hikmat" untuk mengamati fenomena-fenomena alam serta kemampuan untuk mengkomunikasikan hasil amatan tersebut.
9. Dengan hikmat dan akal, manusia berpotensi mengintervensi dan memanipulasi kaidah-kaidah semesta.
10. Dampak intervensi dan manipulasi tersebut dapat mendatangkan konsekuensi, baik konsekuensi desktruktif maupun konstruktif.
11. Hingga batas-batas tertentu, alam mampu mendukung intervensi dan modifikasi manusia.
12. Reaksi alam, sebagian dapat diantisipasi oleh manusia, sebagian tidak.
13. Dalam hal ini, apakah Covid-19 dibaca sebagai fenomena alam atau perbuatan manusia, ia merupakan fenomena yang dapat diamati dan diantisipasi oleh manusia.
14. Hasil pengamatan individu atau kelompok manusia tertentu, mempengaruhi sikapnya menghadapi fenomena Covid-19.
15. Sikap dan relasi manusia satu sama lain terkait Covid-19, memiliki standar moralitas.
16. Acuan standar moralitas manusia cukup beragam; agamis, sainstis, nihilis, sosialis, kapitalis, dll.
17. Dari kesemua standar moral kolektif, kita sepakat bahwa sikap dan relasi yang terbaik adalah yang mengutamakan keselamatan sebanyak-banyaknya manusia.
18. Unsur moralitas tersebut masuk wilayah prerogatif penilaian Tuhan.
19. Pada titik tertentu, Tuhan, Sang Pembuat Arloji memiliki hak prerogatif untuk mengintervensi mekanisme Arloji.
20. Di luar intervensi dan modifikasi manusia terhadap Arloji tersebut, semesta akan tetap melalui siklus kalender kosmik, sesuai rancangan Sang Pembuat Arloji.
.
.
.
"𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙥𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙢𝙚𝙠𝙖𝙣𝙞𝙨𝙢𝙚, 𝙢𝙚𝙠𝙖𝙣𝙞𝙨𝙢𝙚 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙠𝙞𝙗𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖-𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙢, 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙠𝙢𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖-𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙢. 𝙃𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙛𝙚𝙣𝙤𝙢𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧𝙪𝙝𝙞 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖. 𝙉𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙬𝙞𝙡𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙚𝙧𝙤𝙜𝙖𝙩𝙞𝙛 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣. 𝙆𝙚𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙚𝙨𝙚𝙣𝙨𝙞 𝙞𝙗𝙖𝙙𝙖𝙝."
***
1. 𝑨𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝑪𝒐𝒗𝒊𝒅-19 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒇𝒆𝒏𝒐𝒎𝒆𝒏𝒂 𝒂𝒍𝒂𝒎? 𝑩𝒆𝒈𝒊𝒏𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒊𝒏𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒏𝒚𝒂:
https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/18/193100223/bukan-rekayasa-genetika-studi-menguak-asal-usul-virus-corona
https://www.sehatq.com/artikel/virus-corona-berasal-dari-kelelawar-benarkah-demikian
2. 𝑨𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝑪𝒐𝒗𝒊𝒅-19 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒕𝒆𝒓𝒗𝒆𝒏𝒔𝒊 𝑺𝒂𝒏𝒈 𝑷𝒆𝒏𝒄𝒊𝒑𝒕𝒂? 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒔𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒌𝒎𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒏𝒕𝒖𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒎𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒏𝒚𝒂.
.
.
.
Ilustrasi: Micheline Walker
.
.
.
Referensi:
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK7782/
Diakses pada 06 April 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7086482/
Diakses pada 06 April 2020
The Lancet. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30251-8/fulltext#seccestitle10
Diakses pada 06 April 2020
Live Science. https://www.livescience.com/coronavirus-not-human-made-in-lab.html
Diakses pada 06 April 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/coronavirus-can-be-deadly-but-they-also-cause-the-common-cold-what-to-know#Did-coronavirus-come-from-pangolins?
Diakses pada 06 April 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/256521#types
Diakses pada 06 April 2020
Science Alert. https://www.sciencealert.com/snakes-are-the-likely-source-of-china-s-deadly-coronavirus-here-s-why
Diakses pada 07 April 2020