Sebuah amatan sempit pagi ini:

Buntut panjang dari penyitaan literatur etnis Batak (sebagaimana etnis lainnya) oleh kolonial dan "peneliti" pada era penjajahan, di mana informasi yang dibutuhkan orang Batak itu sendiri untuk menjadi dirinya "Yang Batak", telah dihegemoni, diklaim, dipublikasikan terpotong-potong, dikemas apik sesuai selera budaya pop dan diproduksi sebagai komoditas pasar.

Ekses dari penyitaan itu, tanpa mengabaikan dialektik sejarah, saya menduga hal ini berkontribusi terhadap banyaknya orang Batak yang tercerabut (terdiskontinu) dari sejarah leluhurnya; dari bahasa Batak tulen, dari pengetahuan tradisional (indigenous intelligence) akan obat-obatan, pembacaan cuaca, etika dan estetika tradisional, serta sastra tradisional dll.

Dengan kata lain, setelah identitasmu sendiri dicabut, kau harus bayar sekian untuk "mengetahui dan menjadi" siapa dirimu yang sejati. 

Kalau tidak mampu memperoleh sendiri atau membeli, engkau berakhir sebagai "orang asing" di negeri leluhurmu sendiri, diolok-olok secara simbolik oleh sebagian intelektual budaya atau kelompok mapan yang memiliki akses ke informasi budaya leluhurmu itu.

Hingga di sini, benar kata Foucault yang mengingatkan bahwa pengetahuan dalam hal ini pengetahuan budaya adalah kekuatan dalam bentuknya yang lain seperti gelar akademik sebagai seorang budayawan yang dipercayai memiliki lebih banyak informasi dan akses terhadap informasi kebudayaan.

...

Kabar baiknya, resistensi tidak pernah padam dari generasi ke generasi terhadap semangat budaya Barat yang terus menyabotase budaya-budaya lokal di berbagai belahan bumi. 

Sedikit contoh, kecintaan terhadap budaya Batak dikemas dalam semangat kontemporer oleh aktor-aktor sosial yang masih muda seperti lae Ojax Manalu bersama bang Tumpak Winmark Hutabarat dan rekan-rekan kerja mereka di Rumah Karya Indonesia, kak Eka Dalanta dengan interestnya dalam literasi hingga pemberdayaan anak muda lewat yayasan Alusi Tao Toba yang diinisiasi bang Togu Simorangkir.

Masih banyak aktor-aktor sosial dari berbagai lini yang menggugah perhatian dan menggerakkan kesadaran kolektif kita, khususnya generasi muda Batak untuk sadar budaya kita berikut pelestariannya.

Modern sah-sah saja, tapi dalam konteks budaya, postmodern lebih baik, kembali ke budaya masing-masing.
...

Ilustrasi sarkofagus Guru Somba dari marga Debataraja di Sosor Julu, Tipang.