Negara kita demokrasi

menjamin kebebasan setiap individu dalam memilih pemimpin
Silahkan pilih, apapun pertimbangannya
Segala yang perlu diganti, ya ganti
Sebaliknya, kalau dirasa belum perlu diganti, ya lanjut atau biarkan berganti sendiri
Harusnya begitu

Hastag #2019GantiPresiden itu membuatku berpikir: 'perlu tidak presiden diganti?'
Kalau diganti, apa alasannya?
Lalu siapa pengganti yang layak?

Mengenai siapa pilihan?
Pilihan berdasarkan pertimbangan masing-masing yang rahasia 

Pertimbangan dipengaruhi oleh keterkaitan antara kebijakan presiden terhadap kepentingan pribadi hingga kepentingan umum
Itu cukup sebagai pegangan menetapkan sosok pilihan

Tak apa-apa berapa kali pun kita melihat iklan di medsos
billboard di jalanan hingga menyaksikan debat paslon yang berusaha saling menonjolkan superioritas atau kelebihannya di hadapan rakyat

Menjelang pemilihan pemimpin, sering oknum-oknum tertentu melanggar batas haknya sebagai warga negara dengan menciptakan iklim politik sedemikian rupa untuk menggiring publik memilih paslonnya

Sayangnya, publik masih 'mudah' terseret ke dalam iklim politik buatan
Sebagai dampaknya, apabila pemimpin yang terpilih meneruskan iklim buatannya
Membangun kebohongan diatas kebohongan-kebohongan lainnya
Pada akhirnya pihak yang paling dirugikan dalam hal ini tetap masyarakat secara umum
Mulai dari pemilih paslon pemenang, pemilih paslon kalah dan yang golput

Salah satu cara menyelamatkan publik dari situasi ini melalui pendidikan juga
Pendidikan memperbaiki nalar atau logika berpikir masyarakat
Logika berpikir diperlukan dalam proses reasoning untuk menentukan pilihan
Kebijakan pemimpin secara langsung atau tidak, akan mempengaruhi kehidupan pemilih

Daripada menghujat pemerintah, lebih baik membantu mereka
Bonus demografi, pemuda di negara kita yang berusia produktif memungkinkan bagi lahirnya sumbangsih-sumbangsih positif terhadap kemajuan

Mari, marilah kita sebagai manusia demokratis, perjuangkan demokrasi dengan menyuarakan utamanya keputusan individu dan kolektif
Apabila individu 'tak mampu' menggunakan haknya sebagai pemilih karena modus operandi pikiran atau nalarnya tumpul (ditumpulkan), tugas kita untuk menajamkan kembali lewat pendidikan formal dan non-formal.

Dengan begitu, kelak cita-cita para Bapak Pendiri Bangsa dapat kita wujudkan dan wariskan

- Image: http://nigerianpilot.com/wp-content/uploads/2018/06/democracy.jpg