Sore ini aku ingin menulis tentang istilah yang sering terdengar dalam Pelayanan: 'Menikmati Tuhan'. Mendengar istilah ini, otomatis terpikir beberapa hal:
Dengan mengatakan 'menikmati', secara tidak langsung, sadar atau tidak, sedang 'mempersonifikasi atau menganggap' Tuhan sebuah objek yang dapat dinikmati.
Apakah pribadi Tuhan atau perasaan itu yang dinikmati? Tuhan tidak sama dengan perasaan.
Seberapa besar dampak dari 'Penikmatan Tuhan' terhadap pribadi tersebut? Seseorang yang 'menikmati Tuhan', hidupnya berubah total, revolusioner. Menjadikannya lebih intim, lebih mengenal, lebih menghormati, lebih sopan terhadap Tuhan dalam sikapnya berdoa, dalam meminta sesuatu. Tidak lagi sembarangan berkata-kata dalam doa, lebih baik diam menghindari ucapan yang meremehkan/mengatur Tuhan).
Dalam kisah pertobatan Saulus setelah ditegur Tuhan, ia selamanya menjadi pribadi yang justru 'dinikmati Tuhan' bukan menikmati Tuhan.
Selama sisa hidupnya memberitakan injil, dia hidup untuk kemuliaan Tuhan, total, mengesampingkan seluruh 'cita-cita' pribadinya, kekayaan, popularitas, jabatan, hingga tidak menikah, ia menyalibkan semua keinginannya.
Paulus mengakui dirinya telah digocoh oleh sesuatu atas seijin Tuhan, Paulus mengaku ada duri dalam dagingnya.
Duri dalam daging adalah makna kiasan yang ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca, ada yang menafsirkannya sebagai keinginan pribadinya yang sangat menggebu dan bertolak belakang dengan keinginan Tuhan, sebagian menafsirkannya suatu penyakit badani yang sangat menyiksanya, sebagaian menafsirkannya hasrat seksualnya sebab dia tidak menikah.
Sama sekali tidak ada kesenangan seperti yang kita kenal sekarang yang dialami Paulus; traveling, shopping, wisata kuliner, menulis sesuatu yang diluar pemberitaan injil, pacaran/menikah, nongkrong, bahkan Paulus tidak berhubungan dengan keluarga kandungnya yang tidak hidup untuk Kristus.
Wajar kalau kita menganggap bahwa Paulus luar biasa kualitasnya, tidak terikuti atau sulit ditiru, tapi justru seperti hidup Paulus inilah standar atau 'format' kehidupan orang percaya yang seharusnya.
Pola hidup Paulus adalah doa penerapan 'Bapa Kami' yang diajarkan oleh Yesus, melampaui kalimat doa, sebagai format hidup.
Untuk sampai tahap 'menikmati Tuhan', dibutuhkan kondisi yang tidak sembarangan. Pengalaman 'menikmati Tuhan' adalah suatu pengalaman spiritual yang sangat langka, karena harus hidup kudus. Inilah tantangan terbesar bagi orang percaya. Alhasil sedikit saja orang yang 'menikmati Tuhan' dengan nyata.
Saat ibadah, manusia dikondisikan ke dalam suasana tenang melalui narasi mc, narasi saat teduh, pembacaan Mazmur/Amsal, lagu-lagu melan/emosional. Penggiringan itu sengaja dibuat syahdu, menstimulus jemaat 'memasuki' wilayah psikologi yang disebut 'ledakan emosi' atau 'fenomena jiwa'.
Dalam tahap ini, seseorang bertindak emosional seperti menangis tersedu-sedu, merasa penuh penyesalan, merasa penuh damai, sukacita, rasa bersalah yang teramat dalam, terharu, merasa terdorong untuk lebih serius, merasa lebih energik.
Semua perasaan diatas tidak menjamin seseorang secara 'nyata atau benar' mengalami Tuhan. Buktinya, setelah selesai ibadah, banyak orang mengaku dan bertanya: 'mengapa aku tidak menikmati saat teduh atau berdoa seperti waktu kebaktian di gereja maupun kebaktian lainnya?'. Hal ini menegaskan bahwa 'mengalami mujizat atau kepenuhan Roh yang temporal' tidak menjamin seseorang mengasihi dan berkenan bagi Allah (Baca kisah Saul).
Contoh lain untuk fenomena jiwa atau ledakan emosi manusia dapat dilihat saat meledaknya histerisis fans yang menangis tidak karu-karuan saat mendengar penyanyi favorit mereka menyanyikan lagu yang menyentuh, mereka tergila-gila terhadap artis kesayangannya. Efek cinta pada artis-artis Korea, mereka melambung, berfantasi, segala yang berkaitan dengan artis tersebut mereka kagumi lebih dari yang lain (ada yang menganggap ini sebagai bentuk berhala/penyimpangan).
Dengan kelima argumen ini, aku sendiri masih jauh dari standar, tidak mudah mengklaim diri 'menikmati Tuhan'. Pun demikian, bersyukur masih diberi kesempatan belajar mengenal pribadiNya untuk bisa 'dinikmati'.
Akhirnya, ijinkan aku bertanya: bagaimana Anda menikmati Tuhan? atau benarkah pertanyaan itu?
- Image: https://privatetoursinflorence.com/wp-content/uploads/2015/03/IMG_1338-1200x800.jpg
Dengan mengatakan 'menikmati', secara tidak langsung, sadar atau tidak, sedang 'mempersonifikasi atau menganggap' Tuhan sebuah objek yang dapat dinikmati.
Apakah pribadi Tuhan atau perasaan itu yang dinikmati? Tuhan tidak sama dengan perasaan.
Seberapa besar dampak dari 'Penikmatan Tuhan' terhadap pribadi tersebut? Seseorang yang 'menikmati Tuhan', hidupnya berubah total, revolusioner. Menjadikannya lebih intim, lebih mengenal, lebih menghormati, lebih sopan terhadap Tuhan dalam sikapnya berdoa, dalam meminta sesuatu. Tidak lagi sembarangan berkata-kata dalam doa, lebih baik diam menghindari ucapan yang meremehkan/mengatur Tuhan).
Dalam kisah pertobatan Saulus setelah ditegur Tuhan, ia selamanya menjadi pribadi yang justru 'dinikmati Tuhan' bukan menikmati Tuhan.
Selama sisa hidupnya memberitakan injil, dia hidup untuk kemuliaan Tuhan, total, mengesampingkan seluruh 'cita-cita' pribadinya, kekayaan, popularitas, jabatan, hingga tidak menikah, ia menyalibkan semua keinginannya.
Paulus mengakui dirinya telah digocoh oleh sesuatu atas seijin Tuhan, Paulus mengaku ada duri dalam dagingnya.
Duri dalam daging adalah makna kiasan yang ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca, ada yang menafsirkannya sebagai keinginan pribadinya yang sangat menggebu dan bertolak belakang dengan keinginan Tuhan, sebagian menafsirkannya suatu penyakit badani yang sangat menyiksanya, sebagaian menafsirkannya hasrat seksualnya sebab dia tidak menikah.
Sama sekali tidak ada kesenangan seperti yang kita kenal sekarang yang dialami Paulus; traveling, shopping, wisata kuliner, menulis sesuatu yang diluar pemberitaan injil, pacaran/menikah, nongkrong, bahkan Paulus tidak berhubungan dengan keluarga kandungnya yang tidak hidup untuk Kristus.
Wajar kalau kita menganggap bahwa Paulus luar biasa kualitasnya, tidak terikuti atau sulit ditiru, tapi justru seperti hidup Paulus inilah standar atau 'format' kehidupan orang percaya yang seharusnya.
Pola hidup Paulus adalah doa penerapan 'Bapa Kami' yang diajarkan oleh Yesus, melampaui kalimat doa, sebagai format hidup.
Untuk sampai tahap 'menikmati Tuhan', dibutuhkan kondisi yang tidak sembarangan. Pengalaman 'menikmati Tuhan' adalah suatu pengalaman spiritual yang sangat langka, karena harus hidup kudus. Inilah tantangan terbesar bagi orang percaya. Alhasil sedikit saja orang yang 'menikmati Tuhan' dengan nyata.
Saat ibadah, manusia dikondisikan ke dalam suasana tenang melalui narasi mc, narasi saat teduh, pembacaan Mazmur/Amsal, lagu-lagu melan/emosional. Penggiringan itu sengaja dibuat syahdu, menstimulus jemaat 'memasuki' wilayah psikologi yang disebut 'ledakan emosi' atau 'fenomena jiwa'.
Dalam tahap ini, seseorang bertindak emosional seperti menangis tersedu-sedu, merasa penuh penyesalan, merasa penuh damai, sukacita, rasa bersalah yang teramat dalam, terharu, merasa terdorong untuk lebih serius, merasa lebih energik.
Semua perasaan diatas tidak menjamin seseorang secara 'nyata atau benar' mengalami Tuhan. Buktinya, setelah selesai ibadah, banyak orang mengaku dan bertanya: 'mengapa aku tidak menikmati saat teduh atau berdoa seperti waktu kebaktian di gereja maupun kebaktian lainnya?'. Hal ini menegaskan bahwa 'mengalami mujizat atau kepenuhan Roh yang temporal' tidak menjamin seseorang mengasihi dan berkenan bagi Allah (Baca kisah Saul).
Contoh lain untuk fenomena jiwa atau ledakan emosi manusia dapat dilihat saat meledaknya histerisis fans yang menangis tidak karu-karuan saat mendengar penyanyi favorit mereka menyanyikan lagu yang menyentuh, mereka tergila-gila terhadap artis kesayangannya. Efek cinta pada artis-artis Korea, mereka melambung, berfantasi, segala yang berkaitan dengan artis tersebut mereka kagumi lebih dari yang lain (ada yang menganggap ini sebagai bentuk berhala/penyimpangan).
Dengan kelima argumen ini, aku sendiri masih jauh dari standar, tidak mudah mengklaim diri 'menikmati Tuhan'. Pun demikian, bersyukur masih diberi kesempatan belajar mengenal pribadiNya untuk bisa 'dinikmati'.
Akhirnya, ijinkan aku bertanya: bagaimana Anda menikmati Tuhan? atau benarkah pertanyaan itu?
- Image: https://privatetoursinflorence.com/wp-content/uploads/2015/03/IMG_1338-1200x800.jpg
