Saya memiliki beberapa teman yang kritis.
Mereka mengkritisi lingkungan sosial dan pemerintahan.
Isu-isu global hingga lokal.
Mereka peduli dengan kondisi sosial yang terjadi.

Tentang mayoritas masyarakat yang masih hidup miskin, ketinggalan pendidikan sementara disaat yang sama ada segelintir orang-orang yang kekayaannya berlimpah ruah.

Ironisnya, tak jarang kekayaan itu dikeruk dari hak mereka yang disebut si miskin.
Dan hal semacam ini seolah hal biasa.
Eksploitasi SDA sekaligus SDM setempat.
Tentang oknum-oknum birokrasi yang korup.
Seolah tak merasa bersalah, senyum-senyum saat diboyong KPK.
Sudah merugikan negara, masih percaya diri.
Benar-benar kelainan jiwa.
Memang, tak dapat dipungkiri

Setiap persoalan pasti memiliki spektrum penafsiran yang berbeda-beda.
Tapi sayangnya, kekritisan teman-teman tersebut menimbulkan keinginan untuk mengubah ideologi dan dasar negara Pancasila menjadi berdasar pada hukum agama tertentu
Apa perlu diajari lagi tentang bahaya pemikiran begitu?
Sebenarnya, diantara banyaknya orang-orang yang mengkritisi perjalanan negara pasti tahu bahwa yang salah itu adalah para oknum pejabat yang memilih melanggar sumpah jabatan.

Mereka pantas dihukum sesuai aturan yang berlaku terhadap pelanggaran mereka.
Ambruknya suatu negara bukan karena ideologi.
Ideologi Pancasila sudah tepat untuk Indonesia.
Adanya isu-isu nasional yang terjadi ini dapat diatasi dengan membersihkan sistem dari distorsi, bukan dengan mengganti ideologi negara.
Dari ideologi apapun menjadi ideologi apapun.
Kita tentu paham bahwa semua sistem itu baik, pelaksananyalah yang korup.

Saya mengasihi teman-teman saya, pasti.
Saya membela negara saya, pasti.
Sampai darah penghabisan, saya membela negara.
Agama juga memerintahkan untuk patuh pada pemimpin negara.

Kalau teman-teman saya bermaksud mengubah ideologi negara saya, maka teman-teman adalah musuh negara, kalau sudah begitu tahulah apa artinya kan?

Jangan karena segilintir pejabat korup yang merusak negara, kita yang bersahabat harus beda jalan.
Tapi kalau itu jalan terakhir, tahulah apa artinya kan?

Saya lebih sayang teman-teman saya daripada para oknum pejabat korup (baca: bajingan) yang cengar-cengir di Billboard dan merusak pemandangan jalanan kota.

Berapa diantara kita yang sewaktu kampanye sampai putus hubungan persaudaraan karena perbedaan pilihan.

Padahal di tengah masa tugas, rupanya tersangka korupsi, apa gak kurang ajar?
Janganlah kita sampai seperti itu.
Karena ambisi segelintir orang tertentu yang gila pemimpin (baca: gila harta dan kekuasaan), kita dibenturkan dengan perbedaan yang ada hingga terjadi perpecahan.
Lebih baik kita mencegah para bajingan korup itu masuk ke sistem.
Lebih baik kita mempersiapkan generasi muda yang akan memimpin negara ini kelak.
Lebih baik kita mewariskan kekritisan.
Persahabatan dan silaturahmi yang kita jalin, biarlah demikian seterusnya.


Image: greatperformersacademy.com